Tidak sedikit organisasi masih mengesampingkan talent management sebagai upaya strategis. Hal ini biasanya berlangsung di organisasi dengan frekuensi perekrutan karyawan baru yang relatif rendah – perusahaan media, misalnya.  

Namun ini tidak berlaku di Netflix, perusahaan layanan video streaming terbesar di Amerika Serikat yang tengah menjadi topik panas saat ini. Terlepas dari pro kontra yang menghantam bisnisnya di Indonesia, Netflix diakui sebagai pionir bisnis streaming konten video yang berhasil mengambil hati masyarakat. Ya, Netflix memang berbeda dibanding perusahaan media lain, termasuk hal paling fundamental dalam bisnis: perekrutan talent.

Seperti apa strateginya?

Netflix menjadikan talent management sebagai strategi perusahaan. Pada tahun 2001 mereka mem-PHK sepertiga karyawan perusahaan sebab perusahaan berada di ambang kebangkrutan. Saat itu, semua karyawan yang tersisa bersama-sama membangun kesadaran bahwa mereka yang tersisa adalah karyawan berkinerja tinggi. Jika kita lihat kesuksesan Netflix saat ini, kita bisa lihat bahwa strategi terbaik perusahaan untuk sukses adalah (hanya) mempekerjakan karyawan berkinerja tinggi.

Pertanyaannya sekarang adalah karyawan seperti apakah yang disebut berkinerja tinggi? Sebagian besar organisasi gagal memahami bahwa karyawan yang hebat adalah subyektif. Praktik perekrutan standarnya hanya mengukur kekuatan kandidat berdasarkan resume dan kualifikasi pendidikan, dan mereka akan lebih menonjol karena memiliki rekomendasi. Sangat sedikit perusahaan yang secara aktif berupaya mencocokkan skill (yang tidak selalu tercermin dalam kualifikasi pendidikan) dengan tuntutan perusahaan. Karyawan hebat yang menjadi pemain A di suatu perusahaan, sangat mungkin menjadi pemain B di perusahaan lain, dan sebaliknya.

Mempekerjakan talent yang tepat memiliki multiplier efek. Jeff Bezos, CEO Amazon dalam surat tahunannya (2017) kepada para pemegang saham menulis bahwa “standard tinggi menular”. Jika tim diisi oleh orang yang tepat dan mereka terus mendapatkan motivasi tentang pengembangan bakat dan tantangannya, maka setiap orang akan menjadi hebat dalam menghadapi tantangan berat. Jadi, kuncinya setelah Anda menemukan bakat terbaik, Anda harus memungkinkan mereka mengatasi masalah yang dihadapi organisasi. Dalam hal ini, Netflix mendorong orang-orang mereka untuk mengandalkan logika dan akal sehat daripada kebijakan formal agar bisnis efisien dan menjadi lebih baik. Ingat, jika kita berhati-hati dalam proses perekrutan, maka 97% karyawan kita akan melakukan hal yang benar.

Baca juga  10 Teknologi yang Menjanjikan di Tahun 2020