Suatu hari, saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa dia sedang di rawat di rumah sakit. Saya baru mengetahui ternyata teman saya ini menderita sakit parah. Sebelumnya, teman saya ini dikenal memiliki gaya hidup sehat, dia selalu menjaga asupan makanan dan juga rutin berolahraga. Bahkan, dia tidak pernah sekalipun dirawat di rumah sakit. Mengejutkan bukan ketika tiba-tiba dia harus ke rumah sakit dan divonis menderita penyakit yang parah. Saat saya temui, dia terbaring lemah dan sudah menjalani serangkaian tindakan operasi.

Saya bertanya ke kawan saya ini, “Apa yang terjadi hingga kamu menderita penyakit ini?”

Teman saya ini mengangkat kepalanya dan menjawab, “Andai saya tahu gejalanya lebih awal, mungkin penyakit ini bisa dicegah.” Berdasarkan pengakuannya, dia tidak pernah menjalankan medical check up, sehingga saat diperiksa oleh dokter, dia langsung divonis menderita penyakit stadium akhir. Padahal jika dia mengikuti medical check up, penyakit ini dapat terdeteksi lebih awal, dan penyembuhannya akan lebih memungkinkan. Ada pepatah yang mengatakan, “Kita akan sangat menghargai segala sesuatu setelah hilang”. Saat semuanya ada di depan mata, kita tidak pernah menghiraukannya. Tetapi begitu hal tersebut sudah menghilang, baru kita kelabakan dan menyesalinya.

Tanpa kita sadari sebenarnya banyak perusahaan apapun industrinya mengalami hal serupa. Terkadang segala sesuatu berjalan normal dan baik-baik saja, sampai pada suatu waktu, masalah besar muncul dengan tiba-tiba. Disaat masalah besar ini muncul, kadang pemimpin perusahaan sering berandai-andai, “Andai kita bisa melakukan tindakan lebih awal, maka masalah ini dapat dicegah”.

Ada sebuah perusahaan yang berencana menerapkan sistem keselamatan terkait bencana kebakaran. Hanya saja, rencana ini terus menerus ditunda tanpa ada keputusan kapan akan dijalankan, karena terlalu lama mempertimbangkan biaya dan sebagainya. Di kemudian hari, ketika musibah kebakaran terjadi di salah satu prosesnya, seluruh perusahaan habis terbakar. Andai perusahaan ini sudah menerapkan sistem keselamatan bencana kebakaran, hal ini bisa dicegah lebih awal. Tapi nasi sudah menjadi bubur, perusahaan harus menanggung kerugian yang sangat besar atas kejadian tersebut.

Demikian halnya inisiatif program Continuous Improvement, ada perusahaan yang masih menunda program tersebut dengan alasan program belum terlalu urgent. Tetapi seiring waktu berjalan, beberapa kompetitor terus berlari melakukan inovasi, menjalankannya selama bertahun-tahun. Setelah perusahaan mendapati produk dan layanannya tersingkir dari pasaran, pemimpin mereka baru mulai menyadari pentingnya program Continuous Improvement. Mereka akan berkata “Andai perusahaan kita mulai menerapkan program Continuous Improvement lebih awal, mungkin kita tidak terpuruk seperti saat ini. Kita masih akan bisa bersaing dan tidak harus mengalami kerugian separah ini”.

Bagaimana dengan perusahaan Anda? ***