Menurut Chairman SHIFT Indonesia, Ferdinan Hasiholan, perusahaan yang akan survive adalah perusahaan yang menjalankan operational excellence (opex).

“Opex dibutuhkan perusahaan untuk menghadapi perubahan ekponensial yang terjadi secara global ketika memasuki era VUCA (Volatile, Uncertain,  Complex,  Ambiguous )”, kata Ferdinan ketika menjadi keynote speaker di acara Minamas Operational Excellence Appreciation & Sharing Day beberapa waktu lalu. “Jadi kenapa kita harus operational excellence? Saat ini secara global kita sudah masuk ke era VUCA. Dan kita nggak bisa lagi tahu mampu bertahan sampai kapan. Everything is changing. Artinya tidak ada lagi yang namanya butuh proses dulu, kita harus training, harus orientasi. Tidak ada waktu untuk berdebat, kita harus lakukan efisiensi. Pilihannya, transform or die! ” jelas Ferdinan.

Selanjutnya, Ferdinan mengajak kita untuk berkaca dari kasus Seven Eleven, salah satu raja ritel yang tersingkir dari pasar Indonesia.  “Sebesar apa Seven Eleven tetapi dia bisa tutup. Kemudian ada Alfacart, salah satu bisnis streamnya Alfamart juga tutup (untuk layanan marketplace). Artinya kita sekarang tidak boleh lagi punya behavior (atau) perilaku korporasi yang merasa sudah climate. Jadi kita harus punya smash driven. Karena, perubahan di eksponensial era ini tidak lagi linear,” lanjutnya.

Oleh karena itu, menurut Ferdinan isu operational excellence menjadi sangat penting. Semua orang (di perusahaan) harus mengetahui apa itu operational excellence. “Ekspektasi ke depan di operation management dan business support itu ada tiga, jadi yang pertama adalah predictive outcomes, kedua diagnosing  problems, lalu yang ketiga prescribing solution,” jelasnya. Lalu agar supaya perusahaan dapat sukses dalam menerapkan operational excellence, perusahaan harus memenuhi tiga fundamental aspek.  “ Yang pertama adalah bagaimana proses, lalu kedua  bagaimana kita punya infrastruktur, dan terakhir bagaimana people behavior kita. Karena mau sebagus apapun proses, mau sebagus apapun sistem kita design, tapi kalau people kita nggak kompeten (capable), behavior dan kompetensi mereka juga akan bermasalah,” terangnya.

Baca juga  Mengapa Harus Black Belt?

Minamas Operational Excellence Appreciation & Sharing Day adalah acara internal PT Minamas Gemilang, anak usaha Sime Darby Berhads yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit. Acara ini diselenggarakan untuk memberikan apresiasi kepada karyawan  yang mampu berkontribusi kepada perusahaan melalui program continuous improvement. SHIFT Indonesia turut mendukung acara ini karena sejalan dengan salah satu misi nya dalam mengkampanyekan semangat continuous improvement dan operational excellence di Indonesia.

Lima Mindset dalam Operational Excellence 

Ferdinan terus menekankan pentingnya budaya operational excellence bagi bisnis untuk menghadapi segala konsekuensi yang muncul akibat era disrupsi. Namun sebelum membicarakan lebih jauh tentang budaya tersebut, Ferdinan mengajak seluruh peserta untuk memahami mindset yang dimiliki oleh perusahaan sehingga mampu menciptakan keunggulan. Pertama, setiap karyawan harus mampu berfikir secara “end to end process”. “Ketika karyawan hanya memikirkan KPI masing-masing, misalnya orang human resources (HR) berfikir kalau tugasnya adalah melakukan rekruitmen dan absensi, sementara orang finance berfikir kalau tugasnya hanya mengurus masalah keuangan saja. maka akan terbentuk silo,” jelas Ferdinan.  

Silo merupakan kecenderungan mental tertutup atau tidak mau berbagi informasi dengan departemen lain di perusahaan yang sama. Padahal kecenderungan ini akan mengurangi efisiensi dalam proses bisnis keseluruhan, mengurangi nilai-nilai moral, dan berpotensi mematikan produktivitas karyawan dan bisnis secara umum.

“Lalu yang kedua adalah blame the process not blame the people. Jadi kalau ada satu bottleneck itu kita harus punya mindset blame the process. Kita tidak bisa bilang orangnya ini harus diganti karena dinilai tidak capable atau tidak kompeten.  Lalu yang ketiga adalah there is no best process but always better process. Kita harus lihat dari before and after. Jadi dulu kalau Ferrari dan Lamborgini, bilang we are the best tapi sekarang ada Tesla,” lanjut Ferdinan.

Baca juga  Budaya Perusahaan dan Keberhasilan Inovasi

Sedangkan mindset keempat dalam operational excellence yaitu pentingnya untuk tidak menyembunyikan masalah karena di dalam masalah akan selalu ada peluang. “Do not hide problems, problems are opportunity.  Kalau Taichi Ohno bilang if there are no problem, you are the problems,” tambahnya. Jadi, singkatnya kalau dalam satu proses tidak ada permasalahan, maka bisa dikatakan ada sesuatu yang salah di dalam proses tersebut.

Lalu yang kelima adalah no need to be perfect at the first time. “Jadi tidak harus sesuatu yang besar untuk kita improve, the most important thing is better than before,” pungkas Ferdinan.