Dalam pendekatan kepemimpinan piramida terbalik, semua karyawan termasuk frontline atau karyawan garis depan masing-masing bekerja sebagai pengambil keputusan dan memiliki kebebasan untuk bertindak. Sementara, supervisor, manajer dan pemimpin lainnya berperan sebagai pelatih dan mentor, menyelesaikan semua hambatan untuk membuat bisnis lebih sukses.

Ketika ini terjadi, perusahaan menyerahkan akuntabilitas dan pengambilan keputusan kepada orang di level yang tepat, sehingga partisipasi dan hubungan kemitraan semua tim di semua level meningkat. Point pentingnya, setiap orang mendapatkan kesempatan untuk menjadi mitra bisnis di perusahaan.

Sebagai seorang pemimpin, tanggung jawab tertinggi adalah mendukung pertumbuhan dan perkembangan orang. Dalam kepemimpinan piramida terbalik, pemimpin memahami bahwa setiap orang memiliki peran dalam memimpin organisasi, artinya semakin banyak Anda tahu maka semakin besar harapan yang diberikan kepada Anda atau secara harfiah Anda diharapkan memberikan sebanyak mungkin pengetahuan dan keterampilan untuk mendukung konsentrasi fungsi Anda. Inilah gagasan penting untuk memajukan kinerja organisasi ke arah yang lebih baik.


Herb Kelleher, salah satu pendiri dan mantan CEO Southwest Airlines, dalam sebuah kesempatan pernah ditanya lebih memprioritaskan pemegang saham atau karyawan, dia menjawab “Karyawan didahulukan. Jika karyawan kami diperlakukan dengan benar, mereka memperlakukan dunia luar dengan benar. Dunia luar menggunakan produk perusahaan lagi, dan pemegang saham senang,” ungkapnya dikutip SHIFT dari Industryweek.

Seperti yang bisa kita bayangkan, ketika melakukan pekerjaan dengan pendekatan kepemimpinan piramida terbalik, istilah “departemen” atau divisi tidak lagi sama seperti definisi yang kita kenal sebelumnya, para profesional fungsional masih berperan penting tapi tidak lagi dipandang sebagai satu-satunya ahli teknis pembuat keputusan. Dalam pendekatan ini, Pemimpin akan mengalami pergeseran peran, mereka akan lebih fokus dalam memberdayakan sumber daya melalui pengembangan keterampilan, penyelarasan kapasitas dan sejumlah besar pelatihan dan pendampingan. Baik itu perusahaan manufaktur ataupun penyedia layanan, mereka memanfaatkan pekerja garis depan dalam tim untuk mengembangkan dan menjalankan kualitas di setiap lini bisnis.

Baca juga  5 Alasan Proyek Gagal Beserta Solusinya

Bagaimana Memulainya?

Langkah pertama yang harus dikenali organisasi adalah menciptakan gagasan untuk menciptakan jalur karier yang akan membawa karyawan menjadi pemimpin di organisasi, selain terampil dalam menciptakan produk atau layanan, mereka juga harus bisa mengembangkan diri mereka menjadi kompeten di dalam disiplin lain karena telah dilatih secara efektif, mendapatkan keterampilan dan pengetahuan dan diharapkan mampu memberikan kembali apa yang mereka ketahui ke organisasi.

Langkah kedua yaitu melalui Coaching dan Mentoring, Anda harus menggunakan pengalaman Anda untuk memberikan umpan balik yang mendukung pekerjaan, mentransfer pengetahuan dan mengajar tim Anda dengan cara yang menarik sehingga karyawan antusias dan mau menjalankannya.

Langkah ketiga membangun culture, adalah penting membangun dan memelihara budaya organisasii yang produktif yang bisa menumbuhkan perilaku seperti yang diinginkan para karyawan. Tentu, lebih mudah mengatakan daripada melakukan.  Untuk sukses dalam pendekatan ini, Anda harus pintar melempar visi dan misi Anda dan kemudian menciptakan strategi pendukung yang hebat karena Anda tidak bisa memaksakan perubahan ketika budaya sudah tertanam kuat di suatu organisasi. Kepemimpinan dan pembelajaran, keduanya diperlukan.

Selain itu langkah yang tidak kalah penting adalah mendemontrasikannya di setiap kesempatan. Anda harus bisa memastikan bahwa semua pekerja di garis depan merasa didukung, dilatih dan diberdayakan sebagai mitra bisnis. Dan untuk meningkatkan keterlibatan, beri mereka kesempatan untuk membuat ulasan bisnis dan menyajikan informasi tentang produksi di dalam ruang rapat.