Di masa ekonomi bersaing saat ini, perusahaan terus berupaya untuk melakukan perubahan dan perbaikan terus-menerus untuk menjadi yang terbaik di antara yang terbaik. Salah satu upaya perbaikan dan perubahan yang dilakukan adalah dalam hal budaya organisasi.

Tidak dapat dipungkiri, budaya organisasi merupakan salah satu aspek penting untuk mewujudkan perusahaan yang berbasis pada operational excellence. Pastinya, tanpa budaya yang baik, perusahaan tidak akan mampu untuk melakukan perbaikan secara menyeluruh dan hal tersebut menjadi salah satu penyebab keuntungan finansial sulit tercapai.

Sebagian besar perusahaan menggunakan kecerdasan dan pengambilan keputusan yang cepat untuk mendorong munculnya kreativitas. Hal itulah yang dikembangkan dan dipertahankan selama bertahun-tahun, hingga akhirnya menjadi salah satu budaya dari perusahaan. Namun, ketika perusahaan tiba pada masa-masa mereka bertumbuh lebih besar dan mengalami persaingan ketat pada masa ekonomi global yang berbasis pada Masyarakat Ekonomi Asean, kecerdasan dan pengambilan keputusan yang cepat saja tidak cukup kuat untuk menjadi benteng pertahanan. Perlu dilakukan transisi atau pergeseran budaya organisasi untuk membuat perusahaan tetap mampu bertahan menghadapi persaingan tersebut.

[cpm_adm id=”10763″ show_desc=”no” size=”medium” align=”left”]

Untuk itulah, Maret lalu, SHIFT Indonesia mengadakan seminar bertajuk One Day Seminar: Creating Culture of Operational Excellence. Seminar ini merupakan rangkaian seminar Goes to Opexcon 2016 yang bertujuan untuk ikut mengampanyekan terciptanya budaya operational excellence di perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Seminar ini diadakan tepatnya pada tanggal 28 Maret 2016 bertempat di Hotel Best Western The Hive, Cawang, Jakarta Timur dengan 2 narasumber utama, yaitu Joko Sutopo selaku Plant Director PT. Schneider Electric Indonesia dan Aditya Nugraha selaku Professional Trainer dari PT. SSCX International.

Dalam seminar yang dihadiri oleh 35 perusahaan ternama ini dijelaskan bagaimana pentingnya budaya perusahaan sebagai salah satu penentu keberhasilan perusahaan bersaing di pasar global. Tentu, faktor leadership tak kalah pentingnya. Namun, hasil dari beberapa penelitian yang telah dilakukan menyimpulkan bahwa sukses atau tidaknya perusahaan bergantung pada budaya perusahaan dan yang paling utama adalah sumber daya manusianya.

Joko memberikan contoh studi kasus yang diambil dari tiga perusahaan besar di Indonesia, yaitu Coca Cola Company, Unilever, dan Volvo. Ketiga perusahaan besar tersebut menjadi contoh nyata bahwa culture dan people memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan perusahaan.

Selain itu, dijelaskan pula beberapa strategi yang digunakan dalam melakukan proses seleksi atau rekrutmen untuk memperoleh sumber daya manusia baru di dalam perusahaan. Joko mengatakan bahwa tren perusahaan di Inggris dan Amerika adalah perusahaan menerima calon karyawan dengan turut mereview akun-akun sosial media milik calon pelamar. Sehingga bagi perusahaan-perusahaan di negara tersebut memiliki wawasan yang luas saja tidak cukup, karena berdasarkan pernyataan Joko, sosial media bisa saja berdampak positif maupun negatif bagi setiap orang.

Antusiasme terlihat jelas dari para peserta seminar. Hal tersebut tampak dari para peserta yang aktif bertanya kepada pembicara terkait dengan materi yang disampaikan, sekaligus sharing pengalaman mereka di perusahaan masing-masing. Galih Tresnadi, Corporate Culture Dev. Specialist PT. Aneka Tambang (Antam) mengatakan keikutsertaanya pada seminar ini adalah karena ketertarikannya terhadap tema dan materi yang disampaikan. “Saya berharap setelah seminar ini saya bisa melakukan brenchmark bareng, dan pasti banyak ilmu positif yang bisa ditiru oleh real organisasi perusahaan kami karena sama-sama berfokus pada bidang energy,” kata Galih.

Selaras dengan Galih, Rifky Aditya selaku BPE Manager dari PT. Boehringer Ingelheim Indonesia mengatakan bahwa tujuan mengikuti seminar ini karena ingin menerapkan sistem baru di perusahaan. “Saya jelas berharap bisa sharing, karena perusahaan kami sedang dalam tahap untuk implementasi sistem baru, sehingga saya mencari ilmunya dari seminar ini.”  Rifky juga menambahkan bahwa PT. Boehringer akan turut berpartisipasi dalam ajang Opexcon 2016 mendatang.

Alasan yang sama pun turut diutarakan oleh Kevin Suryaatmaja, Senior Manager Operational Excellence di Axa Mandiri dan Bundi Jannius selaku Supervisor Production PT. Merck Tbk. Keduanya pun ingin menyaring ilmu penting seputar budaya perusahaan untuk meningkatkan produkivitas organisasi, bahkan di lingkungan farmasi sekalipun. Mereka semua berharap pastinya untuk dapat melakukan improvement di perusahaan mereka sendiri.

[cpm_adm id=”10097″ show_desc=”no” size=”medium” align=”right”]

Sebagai penutup, Joko menyimpulkan bahwa ada 6 hal penting yang perlu diperhatikan dan juga diimplementasikan bagi seluruh organisasi untuk bisa mendapatkan perbaikan. Keenam hal tersebut yaitu leader commitment, clear vision and strategic planning, people involvement, partnership, great people  will create a great product, dan yang terakhir adalah analisis review baik secara internal maupun eksternal di perusahaan. Joko mengatakan bahwa ketika enam hal tersebut telah berhasil dipenuhi, kesuksesan perusahaan pun bukan lagi menjadi mimpi.***