SHIFT SSCX Nugroho Setiadharma Ranch Market SBL
Nugroho Setiadharma. Dok: Majalah Shift.

Ranch Market telah menjadi supermarket premium yang berhasil menawan hati masyarakat Indonesia. Dikenal dengan konsep yang niche dan produk yang segar dan berkualitas, Ranch Market dan saudara kandungnya, Farmer’s Market, mengandalkan diferensiasi dan standar kualitas tinggi untuk mempertahankan competitive advantage mereka. Strategi tersebut berhasil membawa sang induk melenggang di pasar bursa mulai 2013 lalu. Nugroho Setiadharma, Presiden Direktur PT. Supra Boga Lestari, Tbk. (SBL), berbincang mengenai strategi  diferensiasi dan kualitas yang begitu kuat terpatri dalam DNA perusahaannya.

Menghemat Biaya untuk Profitabilitas

Bisnis supermarket “ditakdirkan” untuk berjalan dengan margin tipis. Menurut Nugroho, margin yang diperoleh Ranch Market dan Farmer’s Market hanya ada di kisaran 1 hingga 3 persen saja. Namun dengan margin demikian tipis, perusahaan ritel mampu mencetak revenue besar. Raksasa ritel Walmart, misalnya, mampu menjadi perusahaan terbesar di dunia pada 2013 berdasarkan revenue; mengalahkan perusahaan minyak dan manufaktur otomotif.

Menurut Nugroho, profitabilitas bisnis supermarket bergantung kepada strategi mempertahankan margin, memperbesar volume, dan disiplin terhadap cost alias efisiensi biaya. Kedisiplinan terhadap biaya juga sangat kritikal. Terpeleset sedikit saja, akibatnya bisa fatal.

“Misalnya, biaya sewa tidak boleh lebih besar dari presentase yang ditentukan,” kata Nugroho dalam wawancara ekslusif dengan redaksi Shift. “Biaya utility dan semua yang lain juga demikian. Kita punya panduannya.”

Waste alias inventori yang terbuang juga bisa mengurangi revenue. Presentasi waste Ranch Market memang tidak besar, hanya digit-digit kecil yang banyak, yang bila diakumulasikan memang jadi besar. Nugroho sangat menekankan disiplin dalam biaya dan penanganan waste, walaupun kelihatannya kecil. Menurutnya, orang cenderung meremehkan hal kecil. Padahal jika diakumulasikan efeknya bisa sangat terasa.

Elemen-Elemen Penghematan Biaya

Disiplin dalam mengelola biaya sangat penting untuk menjaga bisnis supermarket tetap profitable. Bila perlu, kata Nugroho, harus melakukan pemangkasan biaya operasional untuk meningkatkan margin, karena mustahil menaikkan harga jual retail secara drastis. Salah satu cara menghemat biaya adalah meminimalisir waste berupa penyusutan stok inventori.

“Walaupun waste tidak bisa benar-benar dihilangkan, harus bisa ditekan seminim mungkin,” ungkap Nugroho. “Kita memiliki yang namanya known-shringkage, atau penyusutan reguler. Penyusutan pasti terjadi. Misalnya daging, pasti ada trimming. Begitu juga dengan buah dan sayuran, volumenya pasti menyusut. Ada juga unknown-shrinkage seperti kecurian atau kehilangan barang. Tidak bisa kita hindari, tapi harus dikelola dengan hati-hati agar level penyusutan masih dalam batas normal.”

Selain waste, ada juga biaya tenaga kerja yang memberi dampak cukup besar terhadap profitabilitas supermarket seperti Ranch Market dan Farmers Market. Pasalnya, bisnis supermarket sifatnya sangat labor-intensive alias menyerap banyak tenaga kerja. Ranch Market memiliki sekitar 25 toko yang masing-masing toko memiliki 100 hingga 150 karyawan. Belum lagi jika tenaga kerja eksternal di pihak pemasok ikut dihitung. SBL memiliki banyak pemasok industri kecil, seperti tahu, tempe, yang juga padat karya.

“Beberapa waktu lalu kita menghadapi masalah cukup berat, terkait kenaikan UMP,” kata Nugroho. “Cukup berat, karena kenaikannya mencapai 40 persen. Labor cost sudah mencapai 7 sampai 8 persen dari total revenue. Kenaikan 40 persen otomatis sangat terasa, apalagi kita ada rencana membuka 30 toko lagi.”

Dengan kondisi yang demikian, pihak SBL tidak punya pilihan lain selain melakukan efisiensi tenaga kerja. Efisiensi ini, menurut Nugroho, lebih diarahkan kepada cara-cara memanfaatkan tenaga kerja yang ada dan mendorong peningkatan kinerja. Karyawan diberikan kenaikan gaji, tapi dituntut meningkatkan kinerja. “Kita juga mengadakan motion study, sehingga bisa memaksimalkan tenaga kerja yang ada. Jadi di toko seharusnya bisa pakai sekian orang saja, sisanya dialihkan ke toko-toko yang baru dibuka,” katanya.

Selain di sisi tenaga kerja, elemen penghematan biaya lainnya terletak juga pada strategi menghadapi perubahan regulasi impor barang yang ditetapkan pemerintah. Menurut nakhoda utama PT. Supra Boga Lestari Tbk. ini, pihaknya sempat kesulitan ketika pemerintah membatasi impor daging, buah dan sayuran dari luar negeri. Dampaknya adalah kenaikan harga beberapa komoditi, seperti misalnya harga jeruk dan apel yang akhir-akhir ini sempat meroket.

“Seharusnya, sebelum memutuskan regulasi seperti itu, pemerintah berdiskusi dengan pelaku bisnis, jangan hanya sebagai regulator saja,” kata Nugroho. “Kami dari APRINDO sudah pernah menyampaikan bahwa pembatasan seperti itu akan berdampak negatif pada bisnis retail.”

Nugroho memahami bahwa tindakan pemerintah atas dasar swasembada, dan pihaknya juga sangat mendukung swasembada. Hanya saja, harus diiringi dengan kesiapan infrastruktur di daerah-daerah yang menjadi pusat penghasil komoditi.

“Misalnya mau swasembada daging, pemerintah harus definisikan dengan jelas sentral-sentral pembudidayaan sapi. Lalu dipersiapkan infrastrukturnya, jangan serba tidak siap. Jika tidak siap, pada akhirnya harga barang lokal jadi mahal. Misalnya, mau jadikan Sumba sebagai pusat budidaya sapi. Fasilitasnya ‘kan harus dilengkapi. Jadi ketika sampai di pasar, harga daging sapinya juga bisa kompetitif,” katanya.

Lalu bagaimana SBL menghadapi masalah regulasi impor yang baru dikeluarkan pemerintah? Nugroho menjelaskan pihaknya dan para pengusaha retail lainnya selalu berusaha melakukan pendekatan kepada pemerintah, agar kebijakan yang ditetapkan tidak melumpuhkan bisnis retail. Pasalnya, perbedaan harga komoditi impor jauh lebih rendah daripada komoditi lokal.

“Seorang teman saya pernah bilang, membawa barang dari Kalimantan ke Jakarta ongkosnya jauh lebih mahal daripada membawa barang dari Vietnam ke Jakata. Itu karena infrastrukturnya tidak siap. Sebelum memberlakukan regulasi, ada baiknya pemerintah mau meninjau kesiapan infrastruktur agar regulasi bisa menunjang perekonomian, bukannya malah kontra-produktif,” pungkasnya.***RW

Artikel Terpilih di Inbox Anda
Ya, tim konsultan SSCX akan memilihkan artikel dan ide menarik untuk Anda!

Kami akan mengirimkan maksimal 1 email per minggu dan Anda dapat unsubscribe kapan saja. Dengan berlangganan, Anda diberikan 1 ide yang bisa mengubah proses dan produk Anda lebih baik lagi.