Lean manufacturing

Sebagian besar perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur kini mulai menerapkan dan menggunakan metode lean manufacturing untuk meningkatkan efisiensi proses produksi. Bercermin dari kesuksesan yang telah dicapai oleh perusahaan-perusahaan di dunia yang telah lama menggunakan metode lean manufacturing, perusahaan di Indonesia mulai mempelajari lebih dalam untuk menerapkan metode tersebut.

Apa Itu Lean Manufacturing?

Lean manufacturing adalah ide, cara, gagasan, atau metode untuk meningkatkan efisiensi produksi dan memaksimalkan value bagi pelanggan dengan menghapus pemborosan dalam sistem manufaktur yang dilakukan secara terus-menerus (continuous improvement). Fokus utama dalam lean manufaturing adalah bagaimana menciptakan nilai tambah yang sempurna dengan zero waste. Metode ini merupakan filosofi yang dikembangkan oleh Toyota dalam “Toyota Production System” atau TPS yang berfokus pada pengurangan terhadap 7 pemborosan (waste) untuk meningkatkan nilai efisiensi perusahaan.

7 waste tersebut antara lain:

  • Transportation (Transportasi)

Pemborosan yang disebabkan oleh perpindahan material dari satu lokasi ke lokasi yang lain. Pembelian truk untuk operasional, letak gudang yang jauh dan jumlah gudang yang lebih dari satu serta tata letak yang buruk merupakan contoh dari waste transportation.

  • Inventory (Persediaan)

Mencakup semua komponen yang meliputi bahan baku, produk setengah jadi maupun produk akhir yang tidak diproses lebih lanjut atau dijual.

  • Motion (Gerak)

Pemborosan gerak dalam mengambil barang, perjalanan yang berlebihan antar lokasi kerja, dan pergerakan mesin yang berlebihan.

  • Waiting (Menunggu)

Pemborosan waktu adalah adanya waktu kosong ketika dua proses yang saling berkaitan tidak sinkron, operator yang menunggu mesin, atau koordinasi pekerja yang buruk.

  • Over production (Produksi berlebih)

Pemborosan yang berasal dari produksi berlebih atau lebih cepat dari yang dibutuhkan, informasi demand yang tidak akurat, dan hubungan yang buruk dengan supplier.

  • Over processing (Proses yang berlebih)
Baca juga  Industri 4.0 dan Mengapa banyak Industri yang Mengantisipasinya

Adanya proses berulang, misalnya proses pengulangan produksi sebagai akibat dari mesin yang tidak berfungsi dengan baik maupun proses audit yang dilakukan berulang kali akan menambah biaya produksi.

  • Defect (Cacat/rusak)

Setiap barang rusak yang membutuhkan pengerjaan ulang atau penggantian akan menambah biaya produksi.

Selain ketujuh waste pokok tersebut, masih ada tiga pemborosan lain atau disebut additional waste, yaitu:

  • Waste of talent (Pemborosan keterampilan)

Pemborosan keterampilan terjadi ketika suatu perusahaan gagal memanfaatkan keterampilan yang dimiliki oleh karyawannya. Ide-ide karyawan merupakan aset terbesar dari suatu organisasi untuk meminimalisir terjadinya pemborosan lain.

  • Waste of resources (Pemborosan sumber daya)

Penggunaan air maupun listrik yang tidak efisien hanya akan menambah biaya produksi.

  • Waste of materials (Pemborosan material)

Bahan-bahan yang tidak terpakai tidak berhasil dimanfaatkan menjadi barang lain dan hanya dibuang begitu saja.

Menghilangkan waste dapat dilakukan dengan menerapkan metode lean, dengan fokus pelaksaan bukan pada identifikasi dan cara menghilangkan waste tersebut, melainkan pada penggunaan prinsip-prinsip lean manufacturing untuk mengidentifikasi value melalui costumer dan menjadikan nilai tersebut sebagai additional value untuk peningkatan produksi.

Lean di Industri Manufaktur dan Jasa

Kesalahpahaman yang sering terjadi adalah bahwa metode lean hanya berlaku untuk perusahaan manufaktur. Faktanya, metode ini berlaku untuk semua bidang industri dan jasa, termasuk kesehatan dan pemerintahan. Lean manufacturing bukanlah program pengurangan biaya ataupun pengurangan pegawai, melainkan cara berpikir dan bertindak untuk diterapkan pada seluruh organisasi, yang mengindikasikan bagaimana sebuah perusahaan menjalankan bisnis.

Pengembangan Implementasi Lean dari TPS

Sikap disiplin yang dibutuhkan untuk melaksanakan lean yang sering kali menimbulkan kontra budaya dari kesuksesan pelaksanaan lean yang telah mereka buat adalah suatu tantangan besar. Lean tidak hanya sekedar pemotongan biaya produksi, sangat perlu dipahami bahwa pembiayaan tersebut ditetapkan ketika suatu produk dibuat.***