Pada tahun 1970-an, Toyota mengimplementasikan Toyota Production System (TPS) dan sukses menjadi salah satu produsen terbaik di dunia. Dalam waktu yang sama, Motorola mendapati perusahaannya kalah bersaing dengan perusahaan-perusahaan Jepang, dan saat itulah mereka tahu harus berubah.

Beberapa eksekutif Motorola kemudian berdiskusi, antara lain membahas tentang jaminan kualitas dan kontrol.Art Sundry yang saat itu bekerja dengan sang COO, John F.Mitchell untuk masalah kualitas. “Kualitas kami tidak disukai”, ungkap Sundry seperti dikutip SHIFT Indonesia dari Lean-news. Dia mengatakannya berulang kali, dan yang menarik adalah dia tidak dihukum karena teriakannya, sebaliknya dia dihargai karena berbicara apa yang ada dalam pikirannya. Akhirnya, dia diberi kesempatan untuk memegang kendali penuh masalah kualitas di Motorola.

Bagaimana mengukur kualitas dan variasi produk, sebenarnya sudah ada sejak tahun 1920-an. Ketika Walter A. Shewhart memperkenalkan control charts dan Statistical Quality Control,sebuah metode untuk mendokumentasikan dan mengukur defects atau cacat di dalam proses. Statistik adalah bagian penting dari karya Shewhart dan Deming, dan inilah yang menjadi dasar Six Sigma.

Kontribusi Sundry terhadap Six Sigma sendiri adalah ketika dia membawa konsultan eksternal, Bill Smith dan Dr. Mikel J. Harry yang kemudian dikenal sebagai “Pendiri Six Sigma”. Smith dan Harry menciptakan konsep Six Sigma untuk meningkatkan quality control menggunakan prinsip-prinsip dasar Lean yang dibuat oleh W. Edwards Deming, Joseph Juran, Philip Crosby, Kaoru Ishikawa, dan Genichi Taguchi.

Pada 1980-an, Motorola mulai fokus pada kualitas produk dan menitikkan empat point rencana: Daya Saing Global, Pastisipasi Manajemen, Peningkatan Kualitas, dan  Institus Manajemen Motorola.

Upaya Smith dan Harry sangatlah mengesankan, mereka berhasil meningkatkan kualitas Motorola 10 x lipat dan menciptakan perubahan berkelanjutan dalam budaya perusahaan melalui metode Six Sigma. Pada tahun 1985, Smith menciptakan istilah Six Sigma, dan tahun berikutnya Harry menerbitkan deskripsi formal pertama tentang Six sigma. Motorola mendirikan program perbaikan Six Sigma pada tahun 1987 dan hanya setahun kemudian, perusahaan menerima Penghargaan Malcolm Baldrige National Quality Award, penghargaan bergengsi dari Pemerintah AS untuk kali pertamanya.

Pada tahun 1995, Jack Welch membawa Six Sigma ke proses manufaktur General Electric dan Honeywell. Sejak itu, Six Sigma diimplementasikan di banyak fasilitas manufaktur di seluruh dunia.

Pada akhir 1990-an, lebih dari enam puluh persen perusahaan Fortune 500 telah mengintegrasikan filosofi Six Sigma ke dalam proses dan budaya perusahaan.

Baru-baru ini, perusahaan telah mengintegrasikan prinsip-prinsip Six Sigma dengan Lean manufacturing. Tool dari kedua metodologi ini sudah terbukti berhasil menciptakan efisiensi dan sekaligus menghilangkan pemborosan.

Baca juga  Tahap Final 5S, SUSTAIN!

sumber : lean-news.