Kita telah membahas apa saja tantangan yang dihadapi oleh industri jasa dalam melakukan implementasi Sig Sixma pada artikel sebelumnya. Lalu bagaimana perusahaan harus menyikapi tantangan tersebut?

1. Memulai dengan Proses

Peter S Pande, dkk. dalam “The Six Sigma Way Bagaimana GE, Motorola, Dan Perusahaan Terkenal Lainnya Mengasah Kinerja Mereka” mengilustrasikan pemeriksaan proses bisnis di sektor jasa mirip seperti menyalakan lampu di akhir sebuah pesta dansa. Meski mengejutkan atau sebaliknya menyedihkan, pemeriksaan proses akan memberikan kesempatan melihat persoalan secara jelas terkait bentuk, pelaksanaan, pengaturan serta berbagai kesalahan yang terjadi. Mengurai persoalan dalam aspek proses akan semudah melihat pesta dansa dalam terang cahaya. Langsung menemukan pokok permasalahan sekaligus solusinya.    

2. Menyesuaikan Diri dengan Masalah

Penting untuk melihat dan memahami isu-isu di sekitar proses untuk mendapatkan perspektif yang jelas, rinci, seperti persyaratan pelanggan serta hal-hal lain yang mempengaruhi. Setelah itu mencoba menginisiasi perbaikan, memilih proyek dengan efektif, mirip tradisi implementasi Six Sigma di industri manufaktur. Skala implementasi proyek sangatlah penting, mengingat lingkungan industri berbasis jasa memiliki perbedaan mendasar dengan industri non jasa.      

3. Mengurangi Ambiguitas dengan Fakta dan Data

Prioritas utama saat menyoroti proses adalah menerjemahkan ambiguitas ke dalam faktor-faktor dan ukuran kinerja yang jelas dalam operasional. Kemampuan menentukan dan mengukur faktor-faktor intangible, faktor-faktor yang lebih subyektif, merupakan salah satu keahlian unik yang harus ada dalam proses jasa. Umumnya problem seperti ini tidak ditemui dalam pemanufakturan, sehingga diperlukan upaya untuk menganalisis data dan fakta secara berbeda.

4. Mengurangi Statistik yang Berlebihan

Statistik dalam Six Sigma bisa jadi merupakan tulang punggung analisis yang dapat membuat proses bisnis lebih efisien dan melakukan cost reduction secara signifikan. Namun ada kalanya di sektor bisnis jasa, kunci sukses melakukan perbaikan adalah tak menekan orang-orang ke dalam statistik yang terlalu berat.

Alasannya orang-orang yang tak mendukung proses teknis dan pengukuran nampaknya belum siap untuk menggunakan piranti canggih, data yang dimiliki belum siap untuk analisis lebih lanjut. Banyak permasalahan dalam lingkungan Jasa dapat dipecahkan dengan hasil luar biasa, melalui penggunaan pengetahuan statistik lanjutan pada saat tertentu saja.

Umumnya, setelah satu tahun meluncurkan proyek perbaikan proses jasa dengan mengadaptasi Six Sigma keterampilan kerja tim perusahaan berhasil mengubah pendekatan manajerial, membuat perusahaan lebih produktif, berbasis fakta dan kooperatif. Perusahaan mampu melakukan penghematan besar termasuk perampingan proses-proses yang tak efektif. Six Sigma telah mengubah pendekatan terhadap masalah-masalah, proses serta seluruh atmosfir perusahaan.

Six Sigma merupakan sistem yang sangat kuat menjawab tantangan yang muncul dalam organisasi bisnis yang bergerak di sektor jasa atau pemanufakturan. Meski demikian Six Sigma bukan sebuah program atau teknik. Namun merupakan cara yang fleksibel yang membuat bisnis menjadi lebih responsif, efisien, kompetitif dan profitabel.   

 

Baca juga  Kartu SIM Elektronik Sudah Mulai Dikembangkan, Bagaimana Dengan Indonesia?

Sumber: “The Six Sigma Way Bagaimana GE, Motorola, Dan Perusahaan Terkenal Lainnya Mengasah Kinerja Mereka”, Peter  S. Pande, Robert P. Neuman, Roland R. Cavanagh