Ketika artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan mampu mendiagnosis kondisi pasien lebih akurat daripada seorang dokter, bagaimana pekerjaan dokter di masa depan?

Keterampilan teknis para dokter akan tetap penting di masa depan, sementara kecerdasan emosional untuk memberikan empati dan belas kasih kepada pasien akan menjadi jauh lebih berharga. Revolusi industri membutuhkan ‘kekuatan otot’dari para pekerjanya, era informasi menjadi kebangkitan bagi pekerja ‘berpengetahuan’, dan di masa depan pekerja dituntut memiliki ‘kecerdasan emosional’. Ryan Jenkins, kolumnis di Inc.com menyebut kecerdasan emosional sebagai kemampuan untuk menyadari, mengendalikan, dan mengekspresikan emosi seseorang, dan untuk menangani hubungan antarpribadi secara bijaksana dan empatik.

Ketika AI menjadi lebih canggih dan teknologi berkembang di seluruh kehidupan, keterampilan manusia seperti kasih sayang, rasa empati, dll akan menjadi keunggulan kompetitif bagi pekerja dan seluruh organisasi. Siapapun yang ingin relevan di dunia berteknologi tinggi harus memprioritaskan diri pada kecerdasan emosional dan soft skill.  Society of Human Resource Management’s (SHRM) dalam “2019 State of the Workplace“, ada tiga soft skill teratas yang mulai sulit ditemukan dari pencari kerja, yaitu :

  1. Problem-solving, critical thinking, innovation, and creativity (37 percent)
  2. Ability to deal with complexity and ambiguity (32 percent)
  3. Communication (31 percent)

Sementara technical skill yang mulai sulit ditemukan dari pelamar kerja meliputi:

  1. Trade skills (carpentry, plumbing, welding, machining, etc.) (31 percent)
  2. Data analysis / data science (20 percent)
  3. Science / engineering / medical (18 percent)

57 persen pemimpin mengatakan soft skill lebih penting daripada hard skill. Selain itu, sebanyak 30-40 persen pekerjaan di industri yang berkembang membutuhkan soft skill. Artikel terbaru Wall Street Journal, Wanted: Employees Who Can Shake Hands, Make Small Talk menjelaskan pentingnya keterampilan sosial dan emosional dengan cara berikut:

“Bagi mereka yang tidak tersingkir karena otomatisasi, membutuhkan keterampilan sosial yang lebih besar daripada tugas pabrik yang menggerakkan perekonomian. Robot tidak bisa bersikap ramah, membuat obrolan ringan, dan menenangkan pelanggan yang tidak puas.  Bank of America telah mengembangkan program pelatihan nasional untuk membantu karyawannya menunjukkan empati. Teller tidak lagi menyetor gaji atau menangani slip penarikan, mengingat dominasi layanan online perbankan.”

Pengusaha tidak mencari pengetahuan mendalam dan keterampilan teknis seperti sebelumnya, faktanya, 90 persen pengusaha mengatakan bahwa mereka terbuka untuk menerima kandidat yang tidak memiliki gelar sarjana dan lebih terbuka untuk merekrut kandidat dengan sertifikasi yang diakui (66 persen), sertifikat lengkap (66 persen), gelar online dari massive, open online course (MOOC) (47 persen) atau badge digital (24 persen). Di IBM, sebanyak sepertiga karyawan A.S. tidak memiliki gelar sarjana 4 tahun. Selain itu, 40 persen pengusaha percaya AI akan membantu mengisi kesenjangan keterampilan.

AI akan membuat keterampilan sosial dan emosional menjadi lebih penting dan berharga karena tidak dapat diotomatisasi. Dalam dunia yang cepat ini, hard skill tidak akan relevan untuk waktu yang lama, dengan memperkuat keterampilan sosial dan emosional akan membuat tenaga kerja Anda tidak akan pernah ketinggalan zaman.

Sumber : Inc.com

Baca juga  Pemimpin Wajib Tahu Konsep “Psychological Safety”, Apa Itu?