Tantangan yang dihadapi pemimpin hari ini sangat berbeda dengan apa yang dihadapi oleh pemimpin generasi sebelumnya. Dua abad lalu, para pemimpin dapat mengandalkan dunia yang cukup stabil. Kondisi ini berbanding terbalik dengan apa yang dihadapi pemimpin saat ini, dimana perubahan bisa terjadi dalam hitungan detik, menjadikan situasi semakin sulit diprediksi. 

Untuk mengimbangi kecepatan perubahan ini, maka pemimpin harus selalu memiliki strategi untuk menghadapi kompleksitas masalah yang terus bermunculan. Di era ini, Pemimpin harus beroperasi menggunakan perspektif jangka panjang sekaligus memiliki strategi yang memberikan hasil jangka pendek. 

Pentingnya Strategi

Strategi adalah penentu keberhasilan suatu organisasi. Untuk itu, pemimpin perlu memiliki waktu yang cukup untuk berpikir strategis. Menurut Peter Senge, berpikir secara strategis berarti menggunakan kemampuan kita untuk menyelesaikan persoalan dengan melihat inti utama atau gambaran besar yang ada di dalamnya sehingga dapat melihat keterkaitan segala kemungkinan. Berpikir strategis juga akan membawa kita pada proses pembelajaran nyata dan komitmen untuk perbaikan. 

Meskipun terlihat menarik, implementasinya tidak semudah yang kita bayangkan, minimnya waktu dan beberapa faktor lain menjadi dua faktor penghambatnya. Ya, ketersediaan waktu merupakan masalah yang dimiliki oleh hampir semua pemimpin. Dalam sebuah penelitian, ditemukan bahwa 95 persen pemimpin tidak memiliki waktu untuk berpikir strategis. Tentu saja, Anda dan para manajer diluar sana memiliki agenda rapat yang padat dan kewalahan dengan email masuk yang menumpuk. Fokus di meja kerja tentu akan membantu Anda menyelesaikan lebih banyak pekerjaan, tetapi ini jarang menghasilkan resep untuk pemikiran yang inovatif.

Bahkan, penelitian mengungkapkan bahwa produktivitas menurun bagi mereka yang bekerja lebih dari 50 jam per minggu. Menurut studi Stanford, kita bisa memperkuat pemikiran kreatif melalui kegiatan seperti berjalan-jalan di luar. Tetapi kembali lagi, minimnya waktu membuat aktivitas sederhana ini sulit dilakukan. 

Baca juga  Peran Black Belt Semakin Dibutuhkan di Situasi Pandemi

Selain kendala waktu, hambatan lain untuk berpikir strategis adalah adanya faktor internal. Tidak sedikit pemimpin kukuh menilai kesibukan sebagai status sosial, semakin tinggi kesibukan maka secara implisit akan menjadikan mereka orang yang paling dicari. Status inilah yang tidak sadar membuat banyak pemimpin semakin jauh dari pemikiran-pemikiran strategis.

3 Cara untuk Dapat Berpikir Sistematis

Mengutip sebuah artikel HBR, kita bisa menghadapi masalah ini dengan tiga cara yang bisa membantu Anda dan para manajer menciptakan ruang yang dibutuhkan untuk berpikir sistematis:

Pertama, penting untuk diingat bahwa pemikiran strategis tidak selalu membutuhkan banyak waktu; jadi Anda tidak harus mengambil cuti panjang atau melakukan retret kepemimpinan. Bahkan dengan waktu yang terbatas dan tanggung jawab pekerjaan yang sama, Anda masih bisa berpikir secara strategis dengan melakukan hal-hal sederhana seperti menuliskan semua pekerjaan dalam satu tempat sehingga mudah melakukan pengelompokan (triase) dengan benar. 

Kedua, penting untuk membuat timeline yang jelas. Timeline ini akan membantu Anda melakukan monitoring waktu. Data yang Anda hasilkan akan membantu Anda memahami bagaimana pekerjaan Anda berjalan, memungkinkan Anda untuk menyelesaikan segala pekerjaan yang mungkin tertunda dengan cara yang tepat.

Ketiga, setelah kita menyadari “sibuk = penting” sebagai kerangka budaya yang buruk, kita akan lebih mudah untuk melakukan intropreksi diri dan terbuka dengan pemikiran baru yang lebih kondusif.