Organisasi yang sukses melakukan perubahan adalah organisasi yang human-centered, yang selalu mendukung orang-orang di organisasinya untuk terus berkembang.

Perubahan budaya sering dianggap sebagai batu sandungan oleh perusahaan, seolah pekerjaan panjang yang melelahkan. Tetapi, ini hanya terjadi jika organisasi melakukannya dengan cara yang salah, misal kurang fokus dengan budaya (itu sendiri) dan pemimpin lebih fokus membawa pola pikirnya sendiri ke dalam perilaku dan kepemimpinan.  Lalu bagaimana agar budaya dan sistem yang dibangun perusahaan diterima oleh karyawan? Kabar baiknya, kita bisa belajar dari New United Motor Manufacturing atau NUMMI, sebuah perusahaan hasil joint venture antara Toyota dan GM. Pabrik NUMMI merupakan bekas pabrik General Motors yang berada di Fremont, California, yang telah ditutup pada tahun 1892, dengan jumlah orang yang sama mereka mampu menjadi yang terbaik dalam satu tahun. Tingkat absensi turun dari 20 persen menjadi 2 persen, pemogokan tidak pernah terjadi, dan serikat pekerja tidak hanya menerima sistem tetapi juga dengan penuh semangat menjalankannya. Jika NUMMI bersama Toyota berhasil membuat perubahan tektonik terkait budaya perusahaan hanya dalam satu tahun, mengapa kita tidak? Berikut adalah beberapa hal yang bisa kita pelajari dari NUMMI, langkah yang aplikatif dan tentu sangat efektif:

  1. Peran Penting Pemimpin

Mungkin kaizen submission cards, A3 forms, visual management boards, 5S checklists semua lengkap digunakan di organisasi Anda, tetapi tanpa nilai dan sikap manajemen yang tepat, perlengkapan ini hanya menjadi pemborosan atau hiasan yang tidak berarti di ruang kerja karyawan yang bekerja keras. Ketika pemimpin tidak datang ke visual management boards (setidaknya satu kali per minggu) untuk mengajukan pertanyaan, mempelajari apa yang sedang dikerjakan orang disana, dan memberikan bantuan yang diperlukan, maka papan ini hanya akan menjadi wallpaper.

  1. Fokus pada Budaya
Baca juga  Ingin Sukses? Fokus pada Kebutuhan Pelanggan Anda!

Mengubah cara berpikir orang adalah sesuatu hal yang mustahil. Oleh karena itu, sebagai seorang pemimpin kita harus mencoba mengubah cara orang bertindak dalam organisasi dengan mendefinisikan perilaku yang mereka inginkan, memberikan pelatihan tentang perilaku tersebut, dan memperkuat implementasinya menggunakan sistem reward dan punishment. Jika Anda ingin karyawan lebih fokus pada kualitas, maka ajari mereka kemampuan memecahkan masalah. Jika Anda ingin budaya yang inovatif, maka lakukan sesuatu dengan cara yang baru dan rayakan bahkan jika itu tidak berhasil.

  1. Masalah Sebagai Peluang

Banyak perusahaan mempromosikan perbaikan berkelanjutan sebagai cara untuk melakukan pekerjaan dengan lebih baik bagi karyawan. Sebenarnya, lebih dari itu, perbaikan berkelanjutan merupakan perubahan mendasar dalam cara kerja untuk karyawan dan pemimpin harus turut memikirkan pekerjaan karyawannya. Manajemen harus bisa menghargai masalah, dan melihatnya sebagai peluang dengan demikian karyawan akan bersedia menerima dan menghentikan masalah tersebut sebagai kewajiban atau tanggung jawab mereka terhadap pekerjaan.