Mengubah budaya silo antar departemen penting bagi kesuksesan organisasi.

Meningkatnya biaya operasional dan perubahan lanskap peraturan menjadi tekanan tersendiri bagi para pabrikan beberapa tahun terakhir ini. Mereka harus mampu beroperasi secara efisien dengan fleksibilitas yang lebih besar untuk merespons segera perubahan dinamika pasar dan bersaing. Keunggulan operasional sebagai kunci utamanya, pabrikan membutuhkan transformasi yang berkelanjutan dan bukan sekedar transformasi digital yang terlihat seperti gebrakan besar.

Transformasi dimulai dengan analisa proyek di seluruh organisasi, saat ini banyak organisasi yang mengarahkan fokus mereka ke dalam cara memanfaatkan teknologi  untuk meningkatkan kinerja dan lebih sedikit pabrikan melakukan transformasi yang bertujuan mengubah budaya. Permasalahan budaya misalnya, kurangnya kerjasama antara tim pemeliharaan dan tim operasi, bahkan terkadang mereka saling menentang satu sama lain. Perbaikan hubungan inilah yang sebenarnya menjadi kunci keunggulan operasional. Ingat, transformasi tanpa perubahan budaya tidaklah mungkin.

Hilangkan Silo

Di seluruh industri, departemen pemeliharaan atau maintenance lebih dianggap sebagai departemen layanan daripada bagian terpadu proses operasi dan produksi. Tentu ini adalah kesalahan. Seharusnya, pabrikan menyiapkan tim pemeliharaan yang berfungsi secara proaktif dan reaktif. Data menunjukkan, saat ini lebih dari 80 persen downtime dapat ditekan dalam proses operasi. Tantangannya adalah bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk mengolah data operasi dan pemeliharaan untuk menemukan permasalahan operasi dan mencegahnya.

Misalnya bagaimana teknologi bisa digunakan sebagai alarm pendeteksi masalah, ketika terindikasi masalah, alarm peringatan akan berbunyi dan pabrikan harus segera melakukan penanganan. Jika departemen operasi tidak segera menghubungi departemen pemeliharaan untuk melapor adanya potensi masalah, dan sebaliknya departemen pemeliharaan tidak segera merespons peringatan yang dikirim oleh departemen operasi maka waktu kerja untuk melakukan perbaikan atas kegagalan proses akan meningkat.

Menghadapi tantangan ini, organisasi membutuhkan manajemen perubahan untuk membuat orang percaya pada data dan bekerjasama untuk bertindak berdasarkan data. Keberhasilan ini hanya akan tercapai jika kemampuan dan budaya bersinergi. Kita bisa melihat bagaimana metode lean manufacturing yang telah digunakan oleh banyak perusahaan untuk menghasilkan banyak keuntungan dalam operasi produksi. Lean manufacturing bukanlah teknologi tetapi filosofi yang mendorong budaya, dengan teknologi sebagai bagian dari metode keseluruhan.

Dengan mengadopsi teknik lean, pemeliharaan dan operasi berpotensi  menjadi mitra proaktif yang mendorong kinerja dan efisiensi. Pendekatan kolaboratif ini akan meningkatkan waktu kerja, produktivitas, dan ROI pada belanja modal produsen.

sumber: industryweek.com