Apa yang akan Anda lakukan ketika perubahan besar dan berlangsung cepat terjadi di industri Anda? Bagaimana Anda akan melangsungkan transformasi di abad ini? Jika Anda masih bingung dengan jawaban Anda, mari kita lihat yang telah dilakukan Toyota, kami yakin ini akan membantu Anda.

Presiden Toyota Motor Corp Akio Toyoda tidak menyangkal bahwa perubahan radikal telah menyapu industri otomotif. Dalam era ini bisnis bukan hanya tentang menang atau kalah, tetapi persaingan untuk bertahan hidup. Cucu pendiri Toyota Motor Corp ini mengatakan bahwa teknologi yang maju pesat menjadi pesaing baru bagi dunia otomotif. “Bahkan saingan kita dan aturan persaingan juga berubah, pertempuran hidup atau mati telah dimulai di dunia yang tidak diketahui,” kata Toyoda dikutip SHIFT Indonesia dari Industryweek.

Lalu bagaimana cara Toyota mengatasi perubahan besar ini? menurut Toyoda ada dua jawaban, masuk ke hal baru dan kembali ke sistem inti “TPS”. Toyota Production System, atau TPS adalah sistem produksi yang dikembangkan oleh Toyota untuk membuat kendaraan sesuai pesanan pelanggan dengan cepat dan seefisien mungkin dengan menghilangkan pemborosan. Artinya, membangun kualitas ke dalam proses manufaktur dan meningkatkan produktivitas dengan hanya memproduksi “apa yang dibutuhkan, ketika dibutuhkan, dan jumlah yang diperlukan”. Selain itu, filosofi continuous improvement juga turut berperan dalam TPS.

Tidak berlebihan jika kita mengatakan bahwa sistem TPS telah menjadi model bagi banyak perusahaan manufaktur, baik itu di dalam ataupun di luar perusahaan otomotif. Banyak pihak mengakui bahwa TPS adalah filosofi terobosan bagi industri manufaktur juga jasa yang ingin unggul di masa depan, jika perusahaan mengabaikan maka banyak yang memprediksi mereka akan segera gulung tikar.

Baca juga  Dari Kaizen Menjadi Lean Innovation (2)

Menerapkan TPS di Setiap Lini Bisnis

Di Toyota, TPS sudah menjadi cara perusahaan beroperasi. Beberapa waktu lalu Toyota memperkenalkan TPS group untuk mengkonsolidasikan kekuatan, tujuannya untuk meningkatkan produktivitas di area luar produksi dengan mempromosikan sistem produksi di area tersebut.

Shigeki Tomoyama, presiden Toyota Connected Corp, yang juga menjabat sebagai wakil presiden eksekutif Toyota mengatakan bahwa tugas dari grup ini adalah untuk mengevaluasi bagaimana konsep inti TPS, seperti continuous improvement dapat diterapkan di bisnis baru perusahaan.

“Kami ingin secara sistematis menelusuri setiap langkah dalam proses kami — dari R&D hingga manufaktur, penjualan, dan servis — untuk meningkatkan efektivitas kinerja bisnis kami secara keseluruhan,” kata Tomoyama kepada Bloomberg. Program ini dilatarbelakangi oleh rasa krisis yang Presiden Toyoda yang sangat kuat. Toyoda mengatakan bahwa menyebarkan TPS di luar lantai produksi bukanlah ide baru bagi perusahaan. Bisa kita katakana ini merupakan kelanjutan tema yang telah berlangsung sekitar 50 tahun lalu.

Sebelumnya, Toyoda telah menekankan perlunya TPS bagi bisnis baru perusahaan. “Apa yang akan diperlukan di era akan datang adalah mengantisipasi kebutuhan pelanggan dan menyediakan personal mobilitas yang direct dan tepat waktu bagi pelanggan. Dengan kata lain, itu akan menjadi dunia di mana layanan yang dibutuhkan disediakan saat dibutuhkan dan hanya dalam jumlah yang dibutuhkan. Seperti itulah dunia ‘tepat waktu’ seperti yang kita temukan di TPS.

“Untuk mewujudkan layanan ‘tepat waktu’, hanya menghubungkan mobil ke jaringan tidak cukup,” katanya. “Sangat penting bahwa semua pabrikan, dealer dan mitra aliansi yang menyediakan layanan terhubung satu sama lain melalui sistem operasi lean, yang bebas limbah.

Satu tahun lalu, Toyota telah menggabungkan filosofi TPS di beberapa bisnisnya yang baru, termasuk membawa mindset JIT. Perusahaan juga mengambil pendekatan kaizen, atau perbaikan kecil terus menerus, untuk setiap proses operasi untuk memberikan layanan yang lebih cepat dan lebih baik. Selain itu, tim telah dikirim ke beberapa divisi Toyota Motor untuk menyebarkan filosofi kaizen. Perusahaan terus memastikan bahwa upaya ini akan terus dijalankan di perusahaan.

Baca juga  Mengapa Proyek Perubahan Banyak yang Gagal? Berikut Alasannya,