Kita hidup di dunia yang berkembang cepat, dimana teknologi baru mampu mengakselerasi bisnis secara ekponensial. Dan seiring meningkatnya kompleksitas juga volatilitas, kecepatan ini membuat para pelaku dan pemilik bisnis menjadi semakin bingung. Bahkan tidak sedikit yang gagap menanggapinya.

Berkembangnya inovasi oleh teknologi membuat pasar semakin dinamis dan persaingan menjadi semakin kompetitif. Dengan kata lain, telah terjadi percepatan tren global yang memunculkan serta meningkatkan risiko baru. Ya, kita telah sampai di revolusi industri ke-empat dimana dunia berubah secara radikal, yang mengakibatkan perubahan besar di berbagai lanskap mulai dari tenaga kerja, teknologi, pasar, bisnis, dan tidak terkecuali politik. Kita seperti sedang melihat bagaimana dunia merancang ulang masa depan.

Excellent people mungkin akan bertanya, “sejauh mana kapabilitas saya atau perusahaan saya untuk mengikuti dinamika ini?” Menakutkan mungkin, tetapi untuk bisa bersaing kita harus tahu dimana posisi kita dan menerima faktanya untuk kemudian membuat strategi yang sesuai untuk karier kita dan juga perusahaan di masa depan.

Jika kita melihat bisnis global yang berkembang saat ini diisi oleh perusahaan yang menentang cara-cara tradisional. Sementara aktor di baliknya adalah generasi muda yang berpikiran maju, berani memecah batas yang ada dan hanya fokus pada pertumbuhan dan inovasi, dan tidak kalah penting masing-masing dari mereka memiliki strategi pertumbuhan yang fleksibel, proses yang ramping, dan menggunakan teknologi baru. Lalu, bagaimana nasib perusahaan-perusahaan besar atau bisnis keluarga yang didirikan beberapa dekade lalu? Bagaimana cara mereka untuk tetap kompetitif dengan sistem dan budaya yang telah mereka bangun dalam waktu yang cukup lama?

Berdasarkan informasi yang berhasil SHIFT Indonesia kumpulkan, ada satu kata kunci yang diamini oleh banyak pelaku bisnis, yaitu transformasi. Transformasi yang dimaksud disini tidak berarti perusahaan harus menjalankan praktek yang mengarah pada digitalisasi tetapi lebih pada bagaimana menuju proses yang lebih baik dan lebih efisien yang diawali dengan adanya perubahan pola pikir orang-orang di organisasi sehingga setiap orang mampu berkontribusi terhadap perubahan nyata untuk organisasi.

Baca juga  Meningkatkan Bisnis dengan Lean Manufacturing

Apa itu Transformasi Proses Bisnis?

Kami yakin bahwa sebagian besar bisnis sangat sadar mengapa mereka harus bekerja optimal dan terus meningkatkan proses internal mereka. Gambaran sederhananya adalah jika waktu produksi (dalam proses manufaktur) dapat dipersingkat tanpa harus mengurangi kualitas maka perusahaan akan mendapatkan nilai bisnis yang lebih banyak. Dan di dunia bisnis yang kompetitif seperti saat ini, pengembangan strategi proses bisnis yang efektif  menjadi lebih penting dari sebelumnya. Why? Karena pesaing Anda dan pelanggan juga semakin sadar tentang hal ini.

Perusahaan lebih sering melakukan transformasi proses bisnis ketika mereka merasakan pentingnya untuk membuat pembaharuan drastis pada proses yang sedang berlangsung. Dengan memanfaatkan metode-metode transformasi proses, perusahaan memiliki kesempatan besar untuk memodernisasi proses, menghemat biaya, dan mengintegrasikan sistem inti dengan lebih baik.

Transformasi ini dilakukan dengan mengidentifikasi proses yang tidak bekerja pada kapasitas maksimalnya dan bagaimana mendapatkan solusi alternatif yang dapat diterapkan mengarah pada upaya meningkatkan pendapatan, kepuasan pelanggan, memperluas pangsa pasar, atau mengurangi pengeluaran yang tidak efisien. Dengan menggunakan strategi ini, secara otomatis organisasi bisa mendapatkan proses dan sistem terbaik yang mana peningkatannya terukur. Namun, bagi banyak organisasi ini tentu bukanlah proses yang sederhana. Terlebih jika organisasi tersebut masih menggunakan sistem atau teknologi yang sudah tertinggal dan memiliki staf dengan pola pikir yang cenderung takut terhadap perubahan.

Lalu, mengapa transformasi ini sangat dibutuhkan? Tunggu ulasan kami di artikel berikutnya, ya!

(bersambung)