Setelah banyak mengupas tentang pentingnya perubahan dan bagaimana perubahan bisa dilakukan, kini SHIFT mengulas cara mewujudkannya hingga tercapai, spesial untuk Anda yang berada di “garis start” sebuah perubahan.

Sebelum bicara mengenai perubahan dalam perusahaan, mari ambil contoh kasus yang paling umum dan mudah. Anda pasti familiar dengan istilah “New Year Resolution” kan? Sebuah daftar target dan perubahan yang ingin dicapai dalam satu tahun. Isinya bisa hal kecil maupun hal besar. Dari sekedar, “bangun lebih pagi,” “rutin menabung” hingga target yang agak besar seperti “menikah,” “keliling Eropa,” atau “meningkatkan angka penjualan.”

Bagaimana dengan Anda, apakah Anda juga membuat daftar resolusi saat memasuki tahun baru? Sebenarnya resolusi tahun baru sejalan dengan prinsip dasar Continuous Improvement, yaitu melihat apa yang sudah terjadi dan berusaha menjadi lebih baik di masa depan. Namun hasil riset Majalah Forbes menunjukkan bahwa hanya 8% dari orang yang membuat resolusi tahun baru benar-benar berhasil mewujudkan resolusi mereka.

Mengapa bisa demikian? Mengapa orang dan juga organisasi yang ingin berubah mengalami kesulitan untuk berubah?

Menurut Kerry Patterson, pakar manajemen perubahan dan pengarang empat buku New York Times best seller, perubahan itu tidak bisa terjadi dengan hanya mengandalkan kekuatan keinginan Anda atau tim saja. Setidaknya ada enam faktor pendorong yang bisa mendukung, atau sebaliknya, menggagalkan niat perubahan Anda ataupun organisasi Anda.
Berikut keenam faktor yang berhasil dirangkum oleh SHIFT:

1. Faktor Motivasi Diri

Tingkat kesuksesan perubahan yang ingin dilakukan berbanding lurus dengan tingkat pentingnya alasan kenapa perubahan itu diperlukan. Tingkat pentingnya alasan dari perubahan ini datangnya harus dari dalam diri Anda dan tim.

Contoh yang paling mudah adalah keinginan seseorang untuk berhenti merokok. Data-data yang ada semua sudah membuktikan bahwa merokok memperpendek usia si perokok dan bahkan juga usia orang-orang di sekitar si perokok itu.

Akan tetapi, seorang perokok tidak akan ingin berhenti merokok bila ia tidak mendapatkan pengalaman pribadi yang emosional tentang pentingnya ia untuk berhenti merokok. Misalnya ketika ia mengalami sesak nafas, atau ia melihat sendiri seorang perokok yang ia kenal baik terbaring di rumah sakit dengan berbagai macam alat bantu pernapasan, dan seterusnya.

2. Faktor Kemampuan Diri

Motivasi diri saja tidak cukup untuk berubah, Anda dan tim juga perlu mendapatkan skill yang memadai untuk melakukan perubahan itu.

Melanjutkan contoh di atas, seorang perokok perlu mempelajari kiat-kiat tentang bagaimana caranya berhenti merokok. Misalnya dengan mengetahui kondisi apa yang membuat dirinya ingin merokok dan memasang ‘alarm’ dalam dirinya untuk menghindari kondisi pemicu keingingan merokok ini, atau mencari kegiatan lain sebagai pengganti kegiatan merokok.

Mengikuti training, membaca buku, melakukan latihan, dan mengumpulkan informasi-informasi dari sumber-sumber yang bisa dipercaya merupakan hal yang penting yang perlu Anda dan tim lakukan untuk mempelajari bagaimana caranya untuk bisa mencapai perubahan yang diinginkan.

3. Faktor Motivasi Sosial

Nah, ini adalah faktor yang khususnya di Indonesia menjadi faktor yang sangat kuat. Untuk berubah, seseorang membutuhkan lingkungan pergaulan yang mendukung perubahan tersebut.

Sebaga contoh, bila seorang perokok ingin berhenti merokok, ia akan sangat sulit untuk melakukan hal tersebut bila teman-teman hangout-nya merokok. Peer pressure akan terjadi dan ia akan kesulitan untuk tampil beda di depan lingkungannya.

Dinamika yang serupa ini bisa ditemukan juga di bidang karir, keluarga, spiritual, dan lainnya. Lingkungan sangat menentukan dan membentuk karakter dan kebiasaan dari Anda dan tim.

4. Faktor Kemampuan Sosial

Lawan dari peer pressure, faktor ini disebut sebagai peer support. Berhubungan dengan kemampuan pembentukan kemampuan diri, perjalanan perubahan akan menjadi lebih sukses bila lingkungan Anda dan tim juga berbagi informasi, pengalaman, dan tenaga positif di mana informasi mudah didapatkan, dukungan yang menguatkan, serta bukti-bukti sukses dari orang lain yang melakukan perubahan.

5. Faktor Struktural Mendukung Motivasi

Hal ini sebenarnya adalah hal yang paling mendasar dalam perubahan. Bila sistem dimana Anda dan tim melakukan aktivitas justru membuat Anda dan tim lebih mudah melakukan perubahan yang diinginkan, maka perubahan akan lebih mudah dilakukan.

Sebagai contoh, kampanye yang mendidik masyarakat tentang bahaya merokok, dan iklan-iklan raksasa yang pesannya “merokok itu dekil”, jumlah perokok di Indonesia dijamin menurun. Reward dan punishment secara sosial atau psikologis perlu dibuat.

6. Faktor Struktural Mendukung Kemampuan

Faktor ini sejalan dengan faktor struktural yang mendukung motivasi. Bila Anda dan tim membentuk “infrastruktur” untuk mendukung perubahan yang diinginkan, maka perubahan itu akan lebih mudah terjadi.

Misalnya, sehubungan dengan keinginan berhenti merokok, membuat rokok lebih sulit didapat; dengan melarang atau membatasi rokok untuk dijual di setiap pojok jalan, setiap warung, dan setiap mini market, maka jumlah perokok juga akan menurun. Banyak lagi hal lain yang juga dapat dilakukan untuk mendukung keinginan orang berhenti merokok, misalnya dengan menaikkan harga rokok secara signifikan.