Selamat! Untuk Anda yang dipromosikan dan menjadi manajer. Saat ini Anda memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan dan mengembangkan karyawan di tim Anda sehingga menjadi lebih baik. Meskipun prosesnya tidak selalu mudah, pikiran terbuka dan keingintahuan yang konstan akan membuat Anda berhasil mengatasinya. 

Menjalankan peran manajerial untuk pertama kali bisa menjadi tantangan atau bahkan bahaya tersendiri bagi Anda, khususnya para pemula. Seperti kita tahu transisi ke manajemen bukan sebatas promosi dan kenaikan gaji, tetapi ini lebih pada transisi ke peran baru yang juga membutuhkan keterampilan baru sehingga dalam prosesnya setiap orang memiliki peluang untuk membuat beberapa kesalahan. Dan apa yang membuat Anda berhasil sebagai pemain individu bisa saja menjadi awal kegagalan Anda sebagai manajer. Sebab, pemimpin yang sukses dan inovatif tidak hanya memilik kemampuan yang selangkah lebih maju dibanding yang lain tetapi mereka juga harus memiliki data dan tujuan yang dapat diukur dan mampu menggerakkan tim untuk membawa karier dan perusahaan ke tingkat berikutnya. 

Seperti kita tahu banyak orang dipromosikan menjadi manajer, namun tidak semua mendapatkan dukungan (pelatihan, misalnya) dan kesiapan manajerial yang cukup. Akibatnya, setiap manajer baru memiliki peluang besar untuk melakukan kesalahan ketika menjalankan peran utamanya, yaitu bertanggung jawab atas pekerjaan orang lain. Sementara aktualnya segera setelah Anda menerima peran baru, atasan Anda tidak sabar untuk menilai bagaimana Anda memimpin dan sayangnya ketika asumsi awal mereka terbentuk itu akan sulit dihilangkan. Dengan kata lain, ketika Anda mendapat penilaian buruk disini maka Anda harus membuktikan kemampuan Anda dari awal lagi. 

Waspadai 6 Kesalahan Ini  

Dalam berproses menjalani peran baru, Anda mungkin akan membuat beberapa kesalahan. Namun, Anda tidak perlu merasa buruk. Sebuah studi yang dilakukan oleh Gallup menemukan bahwa 10 orang dari kita hanya satu yang memiliki keterampilan alami untuk menjadi manajer yang hebat. Artinya, ada banyak manajer yang gagal ketika menjalankan peran pertamanya. Pertanyaannya, bagaimana mereka gagal? Apa saja kesalahan yang mereka lakukan? Keterampilan apa saja yang dibutuhkan agar berhasil? Berikut rangkuman SHIFT Indonesia dari berbagai sumber tentang kesalahan paling banyak dilakukan para “rookie”: 

Baca juga  Lean Six Sigma untuk Industri Service

1.Terus Berusaha Menjadi Superman

Keahlian Anda di suatu bidang mungkin membuat Anda dipromosikan, tetapi ketika menempati posisi manajer Anda harus bisa menyerahkan kendali pekerjaan tersebut kepada orang lain. Sebagai seorang karyawan, Anda memiliki daftar tugas yang harus dilakukan dan tanggung jawab Anda adalah menyelesaikannya. Jadi mungkin akan sulit ketika Anda harus kehilangan daftar yang menjadi panduan kerja Anda. Sebagai manajer, kini Anda tidak dapat fokus pada tugas individu, Anda juga harus membantu tim untuk menyelesaikan tugas mereka. Ingat, kesuksesan Anda saat ini akan tergantung pada kesuksesan tim Anda. Jadi Anda tidak lagi menghabiskan Anda untuk melakukan suatu pekerjaan tetapi akan lebih sibuk melatih, mengawasi, dan membimbing anggota tim. 

Dalam perjalanannya, mungkin akan ada anggota tim yang menghadapi masalah, sebagai seorang pemimpin tentu Anda akan segera bertindak menyelesaikannya, terlebih ketika Anda adalah orang yang memiliki pengalaman di bidang tersebut. Tapi, tahukah Anda bahwa ini adalah kesalahan? Ketika Anda selalu melakukan apa yang Anda kuasai, tim tidak pernah belajar untuk bisa melakukannya sendiri dengan baik. Dan jika Anda terus mengandalkan kemampuan Anda, sudah pasti Anda akan gagal sebagai manajer baru. 

Kegagalan selanjutnya adalah ketika berpikir semua orang akan berperilaku dan menginginkan semua hal sama seperti yang Anda inginkan. Jika Anda bertanya apa solusinya, mulailah ajukan pertanyaan dan dengarkan secara aktif apa jawaban tim Anda sebelum Anda berlanjut pada pertanyaan selanjutnya. Ketika Anda memahami dengan baik kebutuhan untuk terus belajar, Anda bisa lebih jujur dengan diri sendiri tentang kelemahan Anda, setelah itu Anda bisa mulai mengidentifikasi keterampilan apa yang perlu Anda tingkatkan. 

2. Fokus pada Quick Win 

Harvard Business Review mendefinisikan quick win sebagai bentuk kepastian yang sangat penting bagi para pemimpin eksekutif. Ini akan menjadi pertimbangan utama untuk mengetahui apakah mereka telah memilih orang yang tepat untuk perusahaan. 

Sebab itu, para manajer baru biasanya mengalami tekanan luar biasa untuk segera membuktikan diri. Ketidaksabaran untuk mendapatkan hasil inilah yang membuat mereka berkomitmen tinggi pada hasil dan cenderung mengabaikan tanggungjawab utamanya. Konsekuensinya fokus pada tim akan hilang. Mengambil semua tanggungjawab tanpa mendelegasikan, membuat para pemimpin tidak memahami kemampuan yang dimiliki timnya. Sementara pemimpin hebat selalu meluangkan waktu untuk mengenal tim mereka dan memahami keahlian masing-masing anggota. 

Baca juga  Mengenal Tiga Fase Penting dalam Kaizen Event

Mitos kepemimpinan terbesar adalah meyakini bahwa pemimpin yang hebat tahu segalanya. Kenyataannya, pemimpin sukses selalu belajar mengembangkan diri dan menyelesaikan tantangan bersama tim. Mereka fokus pada hasil jangka panjang daripada keuntungan jangka pendek. 

3. Tidak Menggunakan Standar yang Sama

Pemimpin harus berlaku konsisten dan adil. Apa yang bisa kita lakukan dalam hal ini? Pertama adalah memperlakukan setiap anggota tim dengan hormat. Namun, meskipun Anda ingin mengelola tim dengan penuh rasa hormat, bukan berarti Anda harus menahan umpan balik negatif ketika itu diperlukan. 

Seorang manajer memegang laporan kinerja semua anggota, mereka tahu benar siapa yang berkinerja baik dan mana yang buruk. Ketika dia mentoleransi yang buruk, maka sebagai gantinya dia harus bekerja ekstra untuk memperbaiki kesalahan atau kekurangan timnya di sepanjang kariernya. Berbeda jika dia memberi mereka umpan balik yang jujur dan memberinya waktu tambahan untuk membuat perubahan yang diperlukan sejak awal – mereka tentu akan menunjukkan kinerja seperti yang diharapkan. Jadi, stop! jangan lagi menghindari percakapan yang sulit, ya! Berikanlah umpan balik lebih awal dan sering.

4. Melihat Detail Dibanding Tujuan

Ketika menjadi karyawan, Anda mungkin terbiasa menjadi kontributor tunggal yang asyik dengan rincian tugas Anda sendiri. Anda akan memeriksa siapa saja yang telah Anda kirimi email, siapa saja yang perlu Anda telefon hari ini, dan membuat catatan tugas – memastikan tidak ada yang terlewat. Tetapi ketika Anda menjadi seorang manajer, Anda mungkin tidak dapat mengikuti seluruh rincian proyek yang sedang dikerjakan oleh anggota tim Anda. Jika Anda memaksa untuk melakukannya, itu tidak akan memberi nilai manfaat bagi Anda atau tim. 

Baca juga  Program Lean Six Sigma Awareness untuk Mahasiswa

Hal pertama yang harus dipahami sebagai manajer adalah mengalihkan fokus ke big picture atau tujuan utama dari suatu program. Mengawasi proyek individu tentu menjadi bagian tugas seorang manajer, tetapi tugas yang jauh lebih penting adalah terus memantau kemajuan anggota tim agar mampu bekerja secara efisien dan bagaimana menjaga kinerja seluruh tim untuk mencapai tujuan jangka panjang organisasi. 

5. Membuat Janji yang Tidak Dapat Ditepati

Untuk membuktikan dirinya adalah pemimpin yang efektif, terkadang manajer baru terlalu bersemangat menyenangkan tim baru mereka. Namun, ini bisa membalikkan pandangan tim ketika mereka gagal memenuhinya. Misal kegagalan dalam melakukan proses perbaikan proses atau implementasi perangkat lunak di perusahaan. 

Tentu melalui janji-janji ini Anda bisa mendapatkan perhatian dan dukungan dari tim, tetapi sebagai manajer baru tidak bisa dipungkiri bahwa Anda belum sepenuhnya memahami apa saja yang diperlukan untuk membuat perubahan di organisasi. Ada beberapa masalah yang mungkin belum Anda sadari dan tentu ada alasan mengapa itu belum diperbaiki. Dan ketika Anda menjanjikan terlalu banyak tanpa diimbangi kemajuan yang nyata, maka kepercayaan tim kepada Anda akan menipis. 

6. Kurang Proaktif

Kegagalan terbesar seorang pemimpin adalah menggunakan posisi mereka untuk memeriksa proses berdasarkan keyakinan pribadi tanpa meluangkan waktu untuk mengamati, mengevaluasi, dan berdiskusi dengan tim. Tidak sedikit pemimpin berasumsi bahwa dirinya mengetahui situasi dan apa yang diinginkan karyawan termasuk motivasi mereka dalam melakukan pekerjaan. Alih-alih meluangkan waktu untuk meneliti lebih lanjut, mereka mencoba menjadi pahlawan dengan mengambil beberapa keputusan yang menurut mereka tidak memberi dampak signifikan. Dalam kasus ini mereka gagal mengkomunikasikan logika dalam mengambil keputusan. Padahal, pemimpin yang berhasil adalah mereka yang mampu berkomunikasi secara proaktif. 

Kepercayaan tidak mudah, tetapi para pemimpin dapat segera mengambil langkah strategis untuk membangun koneksi dengan anggota tim. Para pemimpin bisa membangun kepercayaan dengan berbagai cara, seperti berbagi informasi secara terbuka, mengakui kontribusi individu, menunjukkan rasa hormat dan menaruh minat pada setiap orang.