SHIFT SSCX lean six sigma down time

Mengapa Penanganan Down Time Penting?

Down time adalah sumber utama yang menyebabkan kehilangan produktifitas di sebagian besar manufaktur. Selain itu, penanganan down time bisa menjadi cara tercepat untuk memperoleh hasil perbaikan yang signifikan. Dengan menurunkan down time, perusahaan bisa memperoleh hasil signifikan berupa peningkatan produktifitas proses produksi.

Berikut adalah 10 saran terbaik untuk menurunkan down time.

1# Tanya: Mengapa terjadi Down Time?

Sangat penting untuk mengetahui alasan dan durasi dari setiap down time untuk membantu tim menetapkan fokus dan prioritasnya.  Mulailah dengan hal-hal sederhana, jangan lebih dari 25 penyebab down time yang menjadi fokus perbaikan. Namun pastikan setiap penyebab down time terdeskripsi dengan jelas, dan temukan simptom-simptom-nya (disamping usaha-usaha menemukan root cause). Cara mudahnya, temukan penyebab yang melatar-belakangi 10 losses terberat dalam proses manufaktur.

2# Fokus pada Constraint

Setiap proses manufaktur pasti memiliki constraint (hambatan atau bottleneck). Setiap constraint tersebut bisa menjadi titik tumpu untuk memperbaiki keseluruhan proses. Hitunglah down time pada constraint dan perbaiki constraint-nya. Sumber daya  harus fokus kepada perbaikan constraint yang memiliki dampak terbesar kepada throughput dan profitabilitas.

3# Tetapkan Matriks untuk Mendapatkan Perilaku yang Diinginkan

Matriks yang jelas dan terkomunikasikan dengan baik adalah sebuah alat yang powerful untuk mengatur perilaku karyawan (behavior). Perlakukan down time sebagai bagian dari KPI (Key Performance Indicator) dan terus tekankan pentingnya memperbaiki down time. Karyawan akan menyukai kesempatan untuk mendapat penghargaan, walaupun hanya penghargaan kecil saja. Karena itu, sangat disarankan untuk membuat target SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant and Time-Specific) dan berilah penghargaan kepada karyawan yang berhasil memenuhinya.

4# Visualisasikan Down Time

Buatlah visualisasi down time yang jelas untuk mengindikasikan kapan lini mengalami down, dan berikan tanda pada gambaran visual tersebut jika lini tetap down untuk periode waktu tertentu. Latihlah tim untuk bereaksi cepat ketika terjadi down, dan buat level tanggung jawab untuk tingkat kesulitan penanganan masalah (misalnya, masalah ini bisa ditangani operator, masalah yang lebih sulit harus ditangani supervisor, atau bahkan manajer). Tujuannya adalah mencegah masalah kecil menjadi bencana besar.

Baca juga  Berkat Transformasi dan Inovasi, PLN Sabet 779 Penghargaan Sepanjang Tahun 2023

Dilanjutkan di Bagian 2, klik disini.