Saat berbicara tentang inovasi, anda pasti akan membayangkan perusahaan-perusahaan teknologi besar, seperti Google, Apple, IBM. Atau perusahaan oto-manufaktur besar, sekelas Toyota, serta retailer online terbesar yang selalu meluncurkan ide-ide baru dalam bisnisnya, seperti Amazon. Beberapa nama perusahaan besar tadi, tentu hanya segelintir yang ada dalam daftar 100 Most Innovative Companies.

Kesuksesan inovasi yang tercipta dari perusahaan-perusahaan ini, salah satunya adalah karena adanya kerjasama tim yang kuat di seluruh disiplin ilmu, unit bisnis, dan fungsi departemen.

Dalam tulisan yang terinspirasi dari “Strategic Intent” yang dipublikasi Harvard Business Review, 1989, Mikkel B. Rasmussen menilai bahwa inovasi yang berasal hanya dari satu orang atau departemen tertentu saja bukanlah cara yang tepat untuk membangun budaya kerja yang baik.

Justru sebaliknya, menurut Rasmussen, keberhasilan perusahaan-perusahaan yang mendapat julukan ‘paling inovatif’ ini sangat bergantung pada pengorganisasian dan didorong oleh upaya kerjasama tim yang kuat dan adanya kesamaan misi bersama.

Hal ini pun dibuktikan dari penelitian terbaru yang di lakukan oleh sebuah lembaga non profit Amerika di bidang riset manajemen, American Productivity & Quality Center (APQC). Seperti di lansir industryweek, APQC melibatkan 3 perusahaan multinasional tekemuka, seperti British Telecommunications, Cisco Systems, dan Amway.

Dalam hasil studinya, APQC menemukan bahwa ketiga organisasi tersebut sering membuat kompetisi terbuka, yang diikuti oleh seluruh departemen yang ada maupun mitra eksternal mereka (pemasok dan pelanggan).

Berikut 3 cara yang bisa anda tiru dari British Telecommunications, Cisco Systems, dan Amway dalam membangun budaya inovatif terbuka melalui kompetisi antar departemen:

1. Mintalah Manajemen untuk memberikan dukungan penuh terselenggaranya kompetisi

Di British Telecommunications (BT), para karyawannya bersaing dalam sebuah kompetisi yang diberi nama My Customer Challenge Cup, sebuah kontes untuk mengembangkan ide-ide baru. Setiap peserta yang masuk dalam perempat final, semifinal, serta grand final mendapatkan kata-kata ‘penyemangat’ dari pihak manajemen. Selain itu, semua tim yang menyelesaikan proyek mereka dalam kompetisi tersebut, mendapatkan sebuah penghargaan ‘peta biru’ yang tercatat dalam profil masing-masing di dalam direktori BT. Para pemimpin tim yang berhasil memenangkan kompetisi tersebut juga sering mendapat promosi jabatan.

Baca juga  3 Mindset yang Mendorong Budaya Continuous Improvement

Tidak bedanya dengan BT, Cisco Systems, juga mengadakan kompetisi tahunan yang diberi nama Global Launcpad Competition. Kompetisi ini bertujuan sebagai salah satu upaya pengembangan karyawan dan menemukan solusi inovatif untuk pelanggan.  Kompetisi ini terdiri dari 6 orang. Mereka diberikan dua tantangan yang harus diselesaikan dalam waktu 6 minggu. Masing-masing tim akan bekerja sama dengan konsultan internal Cisco, dan menyajikan solusi yang mereka buat kepada wakil presiden senior. Tim yang menang akan menerima kompensasi, baik untuk usaha mereka dan juga diberikan dukungan berupa sumber daya yang diperlukan untuk mengembangkan ide tersebut.

2. Buatlah persyaratan kompetisi mudah dan simple

Amway memiliki konsep yang disebut 5×5, sebuah kompetisi dimana karyawan memberikan ide-ide baru untuk produk, teknologi, dan tantangan bisnis yang harus di presentasikan ke dalam 5 slide dalam waktu 5 menit. Hal ini, menurut Amway, akan membuat tim untuk fokus pada kasus bisnis yang ada dan ide unik apa yang mereka sajikan dalam presentasi tersebut.

3. Perkuat Konsep; “Ide-ide bagus bisa datang darimana saja”

BT membuat sebuah kompetisi yang terdiri dari 80-90 orang untuk setiap timnya. Anggota dalam satu tim harus terdiri dari orang-orang lintas disiplin dan departemen. Mereka diberikan produk atau layanan tertentu untuk memecahkan masalah. Setiap harinya, di akhir jam kerja, masing-masing tim mempresentasikan ide dan kemajuan mereka kepada sebuah panel eksekutif senior. Ide dan upaya mereka ini pada akhirnya adalah sebuah produk atau jasa yang bila memungkinkan juga akan di jual kepada pelanggan. Dan disinilah, inti dari ‘ide bisa datang darimana saja’, tim lain yang menghadiri presentasi didorong untuk mencuri ide-ide dari tim lainnya dan panel eksekutif memastikan ide yang menang adalah kombinasi dari ide-ide terbaik yang sudah dikembangkan. ***