Keberhasilan suatu program continuous improvement tidak hanya ditentukan oleh rencana yang matang, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh mindset (pola pikir) yang dimiliki oleh para pelaksana atau tim eksekutor (project leader) dan para pemangku kepentingan (top management).

Dalam dunia bisnis dan manajemen, mindset merujuk pada pola pikir, keyakinan, dan sikap mental yang mempengaruhi cara individu atau tim dalam menghadapi tantangan dan mencapai tujuan. Oleh Rifki Rizal Derrian, mindset didefinisikan sebagai suatu pola pikir atau perspektif dalam sistem mental kita yang berpengaruh terhadap 90 persen perilaku kita sehari-hari. Menurutnya, ada 3 mindset penting dalam mengembangkan budaya continuous improvement yang meliputi:

1. No need to be perfect at the first time.

“Jadi tidak mengapa tidak sempurna secara langsung, tapi kita sudah memulai inisiasi improvement-nya sehingga semakin baik setiap waktu,” ungkap Rifki.

Apa maknanya excellent people? Yaitu tidak perlu untuk mencapai kesempurnaan pada percobaan pertama. Yang terpenting adalah memulai langkah awal menuju perbaikan, meskipun belum mencapai hasil yang optimal. Dengan melakukan inisiasi perbaikan secara bertahap, kita dapat terus meningkatkan kualitas dan efektivitas dari waktu ke waktu.

2. Tidak ada yang terbaik, selalu ada yang lebih baik. Yes, there is no best process, there is always better process!

“Berpikir sudah menjadi yang terbaik, memberi risiko kita tidak akan improve lagi,” jelas Rifki. Tentu saja! Continuous improvement adalah tentang mengakui bahwa kesempurnaan seringkali tidak tercapai, namun selalu ada ruang untuk perbaikan. Ini adalah pola pikir yang merangkul perubahan dan selalu mencari cara yang lebih baik untuk melakukan sesuatu. Dengan menyadari bahwa selalu ada ruang untuk perbaikan, kita membuka diri untuk ide-ide baru, inovasi, dan peluang pertumbuhan. Jadi, mari berjuang untuk yang lebih baik, bukan hanya yang terbaik!

Baca juga  Tidak perlu bingung, ini beda value add dengan value enabler

3. Berpikir holistik atau secara “end to end process”. Ingat yang disebut CI adalah dampak keseluruhan untuk perusahaan!

“Jangan sampai kita menjadi silo dan melakukan inisiatif yang sifatnya silo,” kata Rifki mengingatkan. Mentalitas silo adalah ketika anggota organisasi terfokus pada divisi atau departemen mereka sendiri dan enggan untuk berkolaborasi atau berbagi informasi dengan bagian lain. Jika anggota masih berpikir secara silo maka inisiatif program yang telah didesain akan sulit diimplementasi mengingat koordinasi dan komunikasi yang cenderung tertutup satu sama lain.

Excellent people, kepemilikan mindset yang tepat adalah mandatori dalam menjalankan inisiatif improvement. Karena, “mereka yang memiliki CI mindset akan memberi contoh lingkungan sekitarnya bagaimana mendorong perbaikan di area kerja yang ditempati. Ingin membangun mindset dan behavior CI di organisasi? Jangan ragu untuk menghubungi tim SSCX International ya. Informasi lebih lanjut tentang program dan training CI bisa Anda akses di www.sscxinternational.com.