Tidak seperti metode lain yang menuntut revolusi menyeluruh dalam waktu singkat, Kanban adalah tentang evolusi. Metode ini berbasis kepada kebijakan luhur yang mengatakan bahwa “Seseorang tidak akan bisa mencapai tempat yang ingin dituju, tanpa mengetahui dimana posisinya saat ini.”

Kanban mempermudah implementasi metode continuous improvement seperti Six Sigma dan Lean di berbagai perusahaan di dunia. Karena berakar dari sistem produksi Toyota, beberapa prinsip ini masih terkait erat dengan Kanban:

1) Visualisasikan Pekerjaan

Dengan membuat sebuah model visual tentang pekerjaan dan alur kerja karyawan, anda dapat mengamati alur kerja yang bergerak melalui sistem Kanban di fungsi operasional perusahaan. Dengan membuat model visual seperti ini, membuat pekerjaan anda lebih mudah terlihat dan bisa meningkatkan komunikasi dan kolaborasi baik antar tim, maupun lintas departemen.

2) Batasi Work-in-Process

Dengan membatasi jumlah pekerjaan yang masih dalam proses, anda bisa mengurangi waktu yang dibutuhkan sebuah produk untuk melintasi sistem Kanban. Anda juga bisa menghindari masalah yang disebabkan oleh pergantian pekerjaan karyawan dan mengurangi kebutuhan untuk mengulang penetapan prioritas secara konstan.

3) Fokus pada Aliran Pekerjaan

Dengan menggunakan batasan-batasan work-in-process (WIP) dan mengembangkan kebijakan berbasis tim, anda dapat mengoptimalkan sistem Kanban demi kelancaran aliran kerja, mengumpulkan matriks untuk mengalisa aliran, dan bahkan mendapatkan indikator utama untuk mengenali potensi masalah dengan menganalisa aliran kerja anda.

4) Continuous Improvement

Setelah anda sudah menerapkan sistem Kanban, maka jadikanlah sistem itu sebagai landasan budaya continuous improvement dalam organisasi. Tim anda akan mampu mengukur tingkat efektivitas dengan melacak alur kerja, kualitas, throughput, lead time dan banyak lagi. Uji coba dan analisa dapat mengubah sistem untuk meningkatkan efektivitas dan kinerja tim.***RR/RW

Baca juga  3 Jenis Nilai dalam Analisis Proses Bisnis