Budaya yang kuat menjadi kunci kesuksesan sebuah organisasi. Budaya yang kuat berelasi dengan kepemimpinan, komitmen karyawan, kepuasan pelanggan dan inovasi. Namun kuat bukan berarti selesai. Tujuan dan strategi organisasi berganti setiap waktu, sehingga secara intensif mengubah budaya. Pemimpin yang baik bertanya “siapa yang kita butuhkan untuk mencapai tujuan?” Namun ada satu hal yang menjadi penghalang berbagai organisasi melakukan perubahan budaya: rasa pemilikan (ownership). Pertanyaan pertama dikemukakan saat budaya berubah adalah “bagaimana kita menjalankannya?” ketimbang “siapa pemiliknya?”

Umumnya kewajiban utama pengubahan budaya organisasi berada di tangan senior HR executives bersama timnya. Perubahan budaya menjadi proyek penting bagi HR. Kepala HR dapat membantu level eksekutif melaksanakan perubahan budaya melalui 4 hal:

1.Memfasilitasi fase riset. Untuk berpindah dari satu budaya kepada budaya yang diharapkan, HR seharusnya memfokuskan energi untuk memfasilitasi diskusi dan konsultasi pengambilan keputusan tentang budaya yang diharapkan. Meski umumnya HR tak memiliki banyak waktu untuk memahami arti budaya yang masih eksis. Apa yang kita lakukan dengan yang ada saat ini di semua tingkatan, nilai, perilaku, proses, kebijakan? Semakin besar sebuah organisasi, semakin beragam hal yang ingin dimasuki perusahaan. Seorang pemimpin perlu mengetahui bahwa HR menjadi sumberdaya terbesar untuk memfasilitasi proses transisi perubahan budaya.

2. Meyakini budaya kepemimpinan bisa berubah. Banyak pemimpin dalam kenyataan sangat skeptis melihat budaya bisa berubah. Umumnya hanya melihat perubahan budaya saat terjadi perubahan drastis situasi pasar yang memaksa organisasi berubah. HR dapat membantu berbagi pengalaman melalui contoh-contoh perubahan budaya organisasi yang dimiliki, yang berkaitan dengan tujuan strategis jangka panjang, yang berdampak pada perubahan.

3.Ajari bagaimana berubah. Kita bisa mengandaikan pemimpin akan tahu apa yang harus dilakukan untuk mempengaruhui budaya. Beberapa diantaranya mungkin memiliki keahlian soal itu, sementara lainnya mungkin melakukan perubahan sesuai naluri saja. Namun bagi lainnya, meski sebagai pemimpin senior, perubahan budaya organisasi bisa menjadi hal yang penuh ketidakpastian. Sedikit diantara pemimpin terlibat dalam kepemimpinan perubahan budaya sebelumnya. Tak cukup untuk bergabung dengan pemimpin unit-unit bisnis untuk mendapatkan masukan atau kebutuhan perubahan. Hanya melalui pemenuhan skill kepada para pemimpin unit bisnis untuk membawa perubahan budaya sehingga membuat mereka memiliki rasa pemilikkan dan mempertahankan kesuksesan secara terukur.

Baca juga  Inspirasi dari Lapangan: Pelajaran Operational Excellence dari Permainan Basket

4.Melepaskan secara formal saat proyek berpindah tangan. Saat perubahan terjadi, memfasilitasi budaya baru, pesan yang harus jelas dari seoarang pemimpin atau top leader adalah perubahan yang terjadi bukanalah milik HR saja, tapi semuanya. HR memang menjadi pendukung, pembantu, dan memfasilitasi perubahan. Namun rasa kepemilikan yang membuat perubahan terjadi.

Harus jelas dalam siklus hidup organisasi, budaya bisa berubah. Dan perubahan terbaik yang terjadi mulai dari level tertinggi organisasi, sampai seluruh perangkat pendukung, para pemimpin unit bisnis, bekerja berkolaborasi bersama-sama HR. [] (sumber: hbr.org)