Agile adalah metode pengembangan perangkat lunak yang populer karena fleksibilitasnya dalam memenuhi kebutuhan pengguna yang terus berkembang. 

Pesatnya perkembangan industri startup, membuat metode ini menjadi sangat populer dalam beberapa tahun terakhir. Dalam bisnis yang selalu berubah, metode ini memberikan keunggulan yang sangat besar. Metode ini dinilai sangat membantu para pengembang (perangkat lunak) untuk lebih fokus pada kebutuhan pelanggan, memberikan hasil yang lebih cepat, dan merespons perubahan dengan lebih baik. 

Menilik sejarahnya, kelahiran agile sendiri sebenarnya sudah cukup lama, sekitar 22 tahun lalu tepatnya di tahun 2001. Saat itu 17 ahli pengembangan perangkat lunak yang mewakili berbagai disiplin ilmu, seperti pengembang perangkat lunak, manajer proyek, dan ahli metode pengembangan mengadakan pertemuan di Snowbird, Utah. Dalam pertemuan ini mereka membahas tentang permasalah-permasalah yang dihadapi dalam proyek-proyek IT dan mencoba mencari solusi yang lebih baik. 

Pertemuan inilah yang menjadi titik balik perubahan dalam pengembangan perangkat lunak. Mereka menilai bahwa pengembangan dengan metode lama (waterfall) membutuhkan banyak waktu dan sumber daya, sehingga sudah tidak lagi bisa digunakan untuk mencapai tujuan bisnis di era yang sangat dinamis. Mereka membutuhkan satu pendekatan baru yang lebih adaptif, responsif, dan fleksibel. Dan untuk menjawab kebutuhan tersebut, mereka yang ada dalam pertemuan pun menyusun Manifesto for Agile Software Development atau Manifesto Agile berdasarkan 12 prinsip dasar yang menjadi pedoman dalam pengembangan perangkat lunak.

Penggunaan Metode Agile

Manfaat utama dari metode agile adalah memungkinkan pengembang untuk membangun perangkat lunak yang lebih sesuai dengan kebutuhan pelanggan dan mempercepat waktu peluncuran produk. Metode agile juga meningkatkan keterlibatan pelanggan dalam pengembangan produk, sehingga memungkinkan pengembang untuk lebih fokus pada tujuan bisnis dan nilai yang diinginkan pelanggan.

Baca juga  Inspirasi dari Lapangan: Pelajaran Operational Excellence dari Permainan Basket

Sejak kemunculan manifesto agile, praktik pengembangan agile telah berkembang pesat dan diterapkan dalam berbagai konteks bisnis di seluruh dunia. Awalnya, agile banyak digunakan dalam pengembangan perangkat lunak, namun seiring waktu, pendekatan ini telah diadopsi dalam berbagai bidang, seperti manufaktur dan pelayanan. Organisasi atau manajemen agile juga menjadi populer karena mampu memberikan fleksibilitas, kualitas, dan kecepatan dalam menghadapi perubahan dan persaingan pasar yang semakin ketat.

Manajemen agile mempromosikan metode seperti Scrum, Kanban, dan Lean. Scrum, kerangka kerja yang menggunakan pendekatan iteratif dan inkremental dalam pengembangan produk. tim bekerja dalam siklus sprint selama 2-4 minggu untuk menghasilkan produk yang siap untuk dirilis ke pasar. Pendekatan ini menekankan pentingnya transparansi, inspeksi, dan adaptasi untuk meningkatkan kualitas produk dan proses pengembangan. 

Di sisi lain, metode Kanban yang melibatkan pemantauan dan pengendalian aliran kerja dapat memungkinkan tim untuk lebih fokus pada tugas yang paling penting pada saat itu dan menunda tugas yang tidak begitu penting. Dan metode Lean yang dapat membantu tim menghilangkan pemborosan (waste) dalam proses pengembangan. 

Ya, setiap metode memiliki fokus dan pendekatan yang berbeda, tetapi semuanya mengedepankan kolaborasi, fleksibilitas, dan pengiriman produk yang bernilai tinggi bagi pelanggan. Demikian juga dengan agile. Kemajuan zaman dan teknologi telah memberikan dukungan besar bagi perkembangan metode agile. Tidak perlu heran jika terdapat perbedaan pandangan dan teori, mengingat metode ini terus disesuaikan dan ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan industri yang beragam. Salam improvement! 

Sumber: kanbanize.com, simplilearn.com, projectmanagement.com, techtarget.com