Micromanager 2

Definisi umum yang di dapat dari Wikipedia, micromanagement merupakan sebuah management style dimana manajer melakukan kontrol berlebihan terhadap hal-hal kecil yang dilakukan oleh orang lain atau pada situasi tertentu.

Apakah ini merupakan hal yang baik?

Harvard Business Review pernah mempublikasikan artikel yang berjudul ‘Stop Being Micromanaged’. Dalam artikelnya, HBR menjelaskan tidak ada satu orang pun yang menyukai bos yang terlalu berlebihan dalam mengamati dan memeriksa setiap pekerjaan yang ada. Bukan hanya perilaku micromanagement ini sangat mengganggu, namun juga hal tersebut dapat menghampat pertumbuhan professional dan kreativitas para tim dibawahnya.

Apa yang dikatakan Para Ahli tentang Micromanager

Micromanager sangat sering kita jumpai dalam sebuah organisasi, tapi biasanya hal tersebut tidak ada kaitannya dengan kinerja. “Micromanagement adalah tentang sebuah posisi atau jabatan yang harus dipertahankan dari seorang bos dan bagaimana mereka bisa mengendalikan situasi dibanding memikirkan apa yang paling dibutuhkan para karyawannya,” jelas Jenny Chatman, seorang Profesor manajemen di Haas School of Business di UC Barkeley. Dan kabar buruknya, gaya kepemimpinan micromanagement ini tidak bisa dihadapi dengan “perlawanan balik”. “Jika Anda berontak terhadap gaya manajemen satu ini, hal itu hanya akan membuat Anda mendapatkan perlakukan yang jauh dari harapan Anda,” kata Jean-Francois Manzoni, seorang professor manajemen di INSEAD and co-author dari The Set-Up-To-Fail Syndrome.

Lalu, Bagaimana Filosofi Lean Membantu Menyikapi Perilaku Micromanagement?

Banyak artikel yang mengulas cara-cara apa saja yang bisa dilakukan untuk menyikapi micromanagement ini. Inti dari upaya yang dilakukan tersebut adalah dengan tidak menyalahkan hal tersebut pada seseorang. Dan itulah salah satu prinsip dari filosofi Lean.

Baca juga  Dua Hal Esensial untuk Menciptakan Perubahan

Karyn Ross, dalam artikelnya yang ia tuliskan di Indusrtryweek, menjabarkan bagaimana filosofi Lean dapat membantu Anda menyikapi perilaku micromanagement tersebut. Dalam tulisannya, ia menceritakan kembali, ketika seorang vice president Toyota di Amerika mengatakan bahwa ia merasa telah di “micromanaged” oleh orang Jepang. Namun, saat ia mulai menyadari bahwa apa yang dilakukan orang-orang Jepang dengan terus mendorong dan “menyenggol” nya adalah sebagai sebuah upaya untuk mengembangkan dirinya, maka ia mulai menerapkan hal tersebut kepada orang-orang yang ada di bawahnya.

Ross menjelaskan bahwa ketika Anda melihat manajemen sebagai sebuah sistem yang bertujuan untuk mengendalikan orang, maka dengan sikap banyak mencermati hal itu memang terasa seperti terlalu banyak mengontrol. Jika Anda membayangkan seorang manajer hanya diam saja tanpa memperhatikan detail dari pekerjaan para karyawannya, Ross menilai apakah hal itu kemudian menjadi sebuah solusi yang baik untuk menghindari micromanagement?***