Meski bukan yang diduga banyak orang, namun ternyata Asia Tenggara kian populer di antara para pemanufaktur.

Upah buruh rendah memang menjadi salah satu daya tarik Asia Tenggara jika dibandingkan Cina, yang upah buruhnya terus meningkat. Namun, para pelaku manufaktur menempatkan faktor ini sebagai alasan kesepuluh mereka membuka pabrik di Asia Tenggara.

Faktor nomor satu? Memenuhi lonjakan permintaan kelas menengah Asia Tenggara.

Menurut survei atas 171 perusahaan oleh penyedia data Economist Intellegence Unit yang dirilis baru-baru ini, penghematan ongkos transportasi dan bersaing dengan perusahaan lokal lah yang menjadi alasan teratas para pemanufaktur membuka pabrik di Asia Tenggara.

Survei ini merujuk pada perubahan pola pikir manufaktur di Asia Tenggara. Selama puluhan tahun, perusahaan membuat barang di Asia Tenggara untuk diekspor ke negara lain di dunia. Tetapi kini, makin banyak pabrik yang didirikan guna memenuhi permintaan negara tempat  mereka berada. Kelambanan ekonomi Barat juga mendorong perubahan pola pikir ini.

“Anda tidak dapat mengabaikan situasi ini di Asia Tenggara,” kata Justin Wood, direktur Asia Tenggara untuk Economist Corporate Network, organisasi yang bernaung di bawah payung yang sama dengan Economist Intellegence Unit. “Pendapatan di Asia Tenggara meningkat dan belanja warga kian tumbuh.”

Terbukanya akses bebas bea ke negara-negara Asia Tenggara dan kemampuan untuk mewujudkan rantai pasokan terintegrasi juga menarik pemanufaktur ke Asia Tenggara. Ini telah terjadi bahkan sebelum masyarakat Ekonomi ASEAN terbentuk, menurut Eugene Lim, kepala divisi perdagangan dan komersial firma hukum Baker & McKenzie di Asia Pasifik.

Menurut survei Economist Intellegence Unit, dalam beberapa tahun ke depan, diantara negara-negara Asia Tenggara, perusahaan global memprediksi kenaikan investasi manufaktur terbesar akan dicatatkan oleh Indonesia dan Myanmar.

Baca juga  3 Jenis Nilai dalam Analisis Proses Bisnis

Tentunya, perusahaan masih tetap mengekspor banyak barang dari Asia Tenggara. Siklus ini telah terjadi sejak dulu dan kemungkinan bertahan untuk sementara waktu. Ekonomi Asia Tenggara menyumbang 3,2% dari produk ekonomi global, sementara manufaktur di kawasan ini menyumbang 4,3% dari manufaktur global, menurut laporan Economist Intellegence Unit.

Perusahaan seperti Ford Motor Co menjadi pemimpin kepindahan manufaktur ke Asia Tenggara, khusus untuk dijual ke warga Asia Tenggara. Meski kekisruhan politik dan buruh terkadang mengganggu aktivitas ekonomi, masih belum diketahui apakah keduanya akan menurunkan daya tarik jangka panjang Asia Tenggara.***

Sumber: The Wall Street Journal