lean cellular manufacturing

Cellular Manufacturing (CM) adalah sebuah model perancangan dan pengaturan area kerja, dimana peralatan, mesin dan workstation diatur dalam urutan yang efisien, sehingga pergerakan orang, inventori dan material dapat berlangsung mulus dan lancar dari awal hingga akhir satu aliran proses kerja (single process flow). Dengan keteraturan semacam ini, waste-waste semacam transportasi, waktu tunggu, atau delay bisa lebih diminimalisir. CM adalah komposisi penting dalam resep Lean Manufacturing.

Bagaimana Menerapkan Konsep Cellular Manufacturing?

Untuk menerapkan konsep pengaturan area kerja seperti Cellular Manufacturing, kita harus mengetahui setiap komponen dari sebuah aliran proses atau single process flow. Kemudian kita dapat mengatur komponen-komponen tersebut sedemikian rupa sehingga aliran proses bisa berjalan lancar dan bebas waste. Untuk melakukan set up single process flow di pabrik, berbagai macam mesin produksi yang berbeda, yang harus bekerja bersama-sama untuk memproduksi suatu produk, harus diatur di satu area produksi.

Konsep ini kontras dengan metode “batch and antrian” tradisional, dimana hanya mesin-mesin yang sama yang ditempatkan di satu area. Ketika pabrik masih menggunakan metode “batch dan antrian”, produk yang masih berada dalam proses produksi harus dipindahkan ke area mesin lain untuk menjalani proses selanjutnya. Di area baru, produk kembali mengantri untuk diproses dalam batch-batch. Sistem seperti itu sering menimbulkan pemborosan transportasi dan delay pada batching.

Dengan aturan single process flow, produk hanya ditransfer dari mesin ke mesin dalam area yang sama, dengan posisi mesin-mesin yang diatur sedemikian rupa sehingga aliran proses bisa berjalan lancar. Sistem ini merupakan sistem yang bebas pemborosan transportasi dan batching delay.

Mengentaskan Masalah Penumpukan Inventori dengan Work Cell

Pengaturan single process flow yang dideskripsikan diatas adalah sebuah contoh “work cell”. Definisi work cell sendiri adalah kumpulan dari peralatan, mesin dan workstation yang diatur di satu area, yang memungkinkan suatu produk (atau kelompok produk yang sejenis) dapat diproduksi dari awal hingga akhir.

Baca juga  Maret 2024, PMI Manufaktur Indonesia Capai Level Tertinggi

Work cell ibarat lini produksi mini yang bisa memproduksi kelompok produk tertentu yang memerlukan peralatan atau proses produksi yang sama. Penggunaan work cell inilah yang kemudian membuat konsep ini disebut Cellular Manufacturing.

Jika sebuah perusahaan manufaktur memiliki kelompok produk yang cukup beragam, biasanya mereka membuat beberapa work cell untuk mengakomodir proses produksi semua produknya. Konsep ini telah terbukti lebih cepat dan efisien dibandingkan sistem “batch dan antrian”.

Karena lancarnya aliran material dalam konsep Cellular Manufacturing, pabrik mampu memproduksi barang secara just-in-time. Artinya, setiap unit yang diproses di satu station akan segera diproses di station berikutnya. Jadi tidak ada inventori yang telah mengalami proses di suatu station yang tidak dapat diproses di station selanjutnya. Ini akan menghindarkan proses menumpuk inventori yang mandek, yaitu produk setengah jadi yang untuk memprosesnya telah menyedot biaya, namun tidak bisa mendatangkan revenue karena mengalami mandek dalam proses produksinya.

Disamping mencegah penumpukan inventori, isu-isu dalam proses akan segera terdeteksi oleh produksi just-in-time, karena produk-produk cacat akan segera terlihat. Berbeda dengan proses manufaktur dalam batch-batch besar, dimana terjadi antrian proses yang kerap menyembunyikan produk berpotensi cacat.

Hindari Tumpukan Inventori dengan Pull System

Salah satu teknik yang dapat digunakan untuk mencapai produksi just-in-time ketika menerapkan konsep CM adalah “pull-system”. Dengan pull-system, inventori dan material yang dibutuhkan untuk menjalankan proses akan “ditarik” masuk kedalam setiap station tempat proses berjalan. Konsep pull-system adalah berproduksi sesuai permintaan pelanggan, dimana produk hanya dibuat untuk mengakomodir permintaan pelanggan. Pull system mencegah terjadinya tumpukan barang tak terjual yang tidak diminati pelanggan.

Namun, untuk mensukseskan konsep Cellular Manufacturing, tidak cukup hanya dengan mengatur dan mengurutkan sejumlah mesin yang berbeda di tempat yang sama. Bottleneck yang terjadi di single process flow juga harus dientaskan, dengan menyamaratakan kapasitas setiap mesin. Jika terjadi bottleneck, maka mesin berkapasitas lebih tinggi di lini tersebut tidak akan terutilisasi dengan baik. Bagaimana menyamaratakan kapasitas mesin? Perhatikan dua poin ini:

  • Untuk menyamaratakan kapasitas mesin, kita harus bisa memilih mesin yang pas, baik dalam ukuran maupun kapasitas. Setiap mesin juga harus setara kapasitasnya dengan mesin yang lain.
  • Kita juga bisa memberdayakan dua mesin dengan kapasitas lebih rendah untuk menyetarakan kapasitasnya dengan mesin-mesin lainnya.
Baca juga  Inspirasi dari Lapangan: Pelajaran Operational Excellence dari Permainan Basket

Keuntungan Cellular Manufacturing

Jika diimplementasikan dengan tepat, Cellular Manufacturing akan memberikan keuntungan yang tidak sedikit, diantaranya:

  • Efisiensi produksi yang lebih tinggi
  • Eliminasi waste
  • Level inventori yang lebih rendah
  • Optimasi pemakaian area pabrik
  • Cycle time produksi lebih
  • Kapasitas manufaktur lebih tinggi dan efektif
  • Waktu respon pelanggan yang lebih baik.

Hasilnya, keseluruhan biaya produksi akan lebih rendah dan profit akan meningkat. Bagaimana? Masih ingin menunda mengganti sistem lama Anda?***

 

Sumber: www.siliconfareast.com / www.wikipedia.org