CEO twitter

CEO Twitter Dick Costolo telah mengumumkan rencananya untuk mundur. Ia akan resmi meninggalkan jabatan tersebut pada 1 Juli 2015 mendatang, meskipun tetap tergabung ke dewan direksi Twitter.

Seperti KompasTekno rangkum dari Re/Code, Jumat (12/6/2015), posisi Costolo untuk sementara akan dijabat Jack Dorsey, co-founder Twitter yang juga memiliki jabatan sebagai CEO di perusahaan pembayaran Square.

Dorsey akan menjadi sebagai CEO Interim Twitter sambil tetap mengurusi Square, sampai perusahaan microblogging tersebut menemukan pengganti permanen.

Twitter sendiri masih belum mencari CEO tetap pengganti Costolo. Sebuah komite khusus pun telah dibentuk untuk menentukan siapa yang bakal menjabat sebagai CEO Twitter berikutnya.

Komite tersebut terdiri dari dewan direksi, seperti Fenton, Peter Currie, dan co-founderTwitter lainnya, EV Williams. Twitter dikatakan akan mempertimbangkan calon dari dalam dan luar perusahaan.

Pengumuman itu sendiri dilakukan langsung oleh Costolo dan Dorsey dalam sebuah konferensi dalam lingkungan perusahaan. Dorsey mengungkapkan, keputusan tersebut tidak diambil berdasarkan performa perusahaan, yang dikabarkan sedang menurun.

“Satu hal yang ingin saya luruskan bahwa transisi ini merupakan hanya keputusan Costolo untuk mundur dari perannya sebagai CEO. Ini tidak ada hubungannya dengan pendapatan perusahaan,” kata Dorsey. Ia juga mengungkapkan bahwa Costolo sudah mengungkapkan rencana mundur sejak beberapa bulan lalu.

Performa dari Twitter sendiri memang banyak dikritik dalam beberapa waktu belakangan ini. Perusahaan itu dinilai kesulitan dalam menambah pengguna dan menghasilkan pendapatan tambahan.

Analis sampai harus menurunkan prediksi pendapatan hingga 20 juta dollar AS pada kuartal pertama lalu. Kala itu, Twitter berhasil mendapatkan pendapatan sebesar 436 juta dollar AS.

Berita mundurnya Costolo itu tampak disambut baik oleh pasar. Saham milik perusahaan dengan logo burung berwarna biru itu langsung meningkat hingga 8 persen sesudah pengumuman tersebut.***

Baca juga  Bagaimana TPM Bisa Berkontribusi pada Keselamatan Kerja?