Coklat atau stroberi? Kopi atau susu? Tidur atau bekerja?

Seperti itulah ketika anda akan membuat keputusan. Dimana dua hal ditempatkan bersama, dan anda diharuskan untuk mengambil keputusan yang cepat untuk memilih satu diantara dua atau lebih pilihan yang ada.

Bahkan, tidak sedikit juga orang  yang mengambil suara terbanyak atau melempar koin untuk membuat keputusan.

Artikel yang berjudul The Five Traps of High-Stakes Decisions Making dari Harvard Business Review menjelaskan bahwa proses pengambilan keputusan tidak bergantung pada faktor “luck” atau keberuntungan semata saja, justru jika anda berpikir seperti itu, anda akan terjebak pada proses pengambilan keputusan yang salah.

Michael C. Mankins, menyajikan dua contoh kasus terkait proses pengambilan keputusan ini. Keputusan yang diambil Southeast Airlines pada 2007 silam, misalnya. Dimana perusahaan tersebut mengambil keputusan untuk melindungi nilai kontrak bahan bakar minyak jangka panjang yang akhirnya membuat mereka berhasil meraup untung besar dari keputusan tersebut.

Sama halnya dengan Southeast Airlines, AOL dan Time Warner juga “menikmati” hasil keputusan merger yang mereka buat pada 2001, bedanya, hasil keputusan tersebut malah membuat mereka harus “pisah ranjang” dan membuat Jeff Bewkes, CEO Time Warner berkata, “merger AOL dengan Time Warner adalah kesalahan terbesar dalam sejarah perusahaan.”

Lalu, apa yang membuat keputusan AOL dan Timer Warner berujung pada kegagalan dan penyesalan?

Mankins dan beberapa koleganya kemudian mempelajari dan mengevaluasi dua kasus di atas dan menemukan bahwa keputusan yang baik, seperti yang dilakukan Southeast Airlines berdasar pada proses pengambilan keputusan yang kuat.

Bagaimana dengan proses keputusan yang dibuat oleh AOL dan Timer Warner?

Baca juga  Lima Langkah Esensial Menjadi Profesional

Mankins dan koleganya menemukan ada 5 kesalahan yang menyebabkan proses pengambilan keputusan tidak dilakukan dengan benar dan akan berdampak buruk, seperti yang terjadi pada AOL dan Time Warner. Berikut penjelasannya:

1. Menginginkan Solusi Jitu tapi dengan Proses yang Instan

Kebanyakan organisasi memiliki proses bisnis yang kompleks. Tetapi para eksekutif / pembuat kebijakan justru menginginkan solusi yang langsung dapat membawa keuntungan dengan hanya satu tindakan sederhana. Reorganisasi, misalnya. Hampir dari setengah CEO mereorganisasi perusahaan mereka dalam dua tahun pertama masa jabatannya. Namun hasilnya, kurang dari sepertiga dari tindakan reorganisasi ini yang menghasilkan perbaikan berarti dalam peningkatan kinerja.

2. Gagal Membuat Tindakan Alternatif Secara Eksplisit

Menurut Mankins, bisnis adalah bermain dengan pilihan, dan anda tidak bisa membuat pilihan yang baik tanpa alternatif yang baik pula. Tapi kebanyakan organisasi tidak merumuskan dan mengevaluasi plihan alternatif mereka secara eksplisit atau gamblang yang mampu dipahami maksudnya dengan jelas. Bayangkan jika tim di Time Warner mempertimbangkan alternatif lain untuk ekspansi ke dunia online; mereka akan mendapat kemitraan yang strategis, joint ventures arrangements, bahkan kemampuan perusahaan untuk berkembang sendiri. Tindakan merumuskan dan mengevaluasi alternatif secara eksplisit selalu meningkatkan kualitas pengambilan keputusan.

3. Terlalu Banyak Orang yang Terlibat

Keputusan penting sulit dibuat dalam kelompok yang besar. Isu-isu sensitif akan luput dari perhatian dan tidak benar-benar dibahas. Penelitian Mankins menekankan pentingnya “Rule of 7”, bahwa setiap individu yang anda tambahkan ke dalan grup tujuh orang ini, maka efektivitas keputusan menurun sebesar 10 persen. Keberhasilan Apple dan Facebook juga mengikuti rumus “Rule of 7” ini, dimana model pengambilan keputusan mereka yang efisien. Begitupun di Ford, pemimpin tim senior menegaskan pentingnya pengambilan keputusan besar dengan mengadakan pertemuan khusus yang hanya terbatas untuk para eksekutifnya saja.

Baca juga  Wajib Tahu, Mengapa Kompetisi Inovasi Penting bagi Perusahaan?

Jika, lain kali anda menerima permintaan meeting yang dihadiri oleh lebih dari 15 undangan, tanyakan pada diri anda, “apakah kita akan benar-benar mampu membuat keputusan yang siginifikan dalam forum ini?”

4. Gagal Mempertimbangkan Opportunity Cost

Keputusan untuk mulai melakukan sesuatu yang baru menjadi satu bentuk keputusan yang beresiko tinggi. Sedangkan keputusan lainnya, dengan tingkat resiko yang tidak terlalu besar adalah dengan melakukan hal yang sudah sering dilakukan. Misalnya, keputusan perusahaan untuk tidak menghentikan produksi produk yang tidak menguntungkan. Keputusan ini justru malah akan banyak menghabiskan waktu bagi pihak manajemen dan sumber daya lain yang terkait. Namun, ada beberapa eksekutif melihat keputusan ini sebagai biaya yang dikeluarkan untuk mendapat kesempatan yang lebih baik. Untuk itu, lain kali jika anda merenungkan untuk tetap mempertahankan produksi produk yang bermasalah, tanyakan pada diri anda, “di mana lagi kita bisa menginvestasikan sumber daya yang sama dengan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar?”

5. Meremehkan Tantangan yang Ada Saat Pelaksanaan

Penelitian Makins menujukkan hanya 12 persen perusahaan yang benar-benar menjalankan perubahan besar. Hal ini dikarenakan sulitnya melakukan perubahan itu sendiri, dan semakin besar perubahan yang ingin dilakukan, semakin besar pula resiko yang akan dihadapi perusahaan. Keputusan besar, juga memiliki resiko yang besar.

Kegagalan dalam membuat keputusan besar biasanya karena melakukan satu atau lebih kesalahan-kesalahan seperti disebutkan di atas. Tidak melakukan kesalahan-kesalahan seperti di atas, tidak menjamin kesuksesan anda untuk terhindar dari resiko keputusan yang besar. Akan tetapi, dengan menghindari kesalahan-kesalahan tersebut, akan meningkatkan proses pengambilan keputusan yang baik.***RR/RW