Ketidakmampuan berinovasi menjadi salah satu penyebab bisnis kehilangan relevansi pasar. Akibatnya, bisnis gagal menyesuaikan produk, layanan, bahkan proses operasional dengan kebutuhan pasar. Penurunan tidak terhindarkan dan berakhir tutup.

Excellent people, apakah Anda pernah memeriksa daftar perusahaan yang masuk Fortune 500? Fortune 500 merupakan daftar tahunan yang dirilis oleh majalah Fortune yang mencantumkan urutan 500 perusahaan terbesar di dunia berdasarkan pendapatan tahunan perusahaan. 

Nah, jika Anda memeriksa daftar tersebut dari waktu ke waktu, Anda akan menemukan adanya perubahan yang luar biasa. Ternyata, dari 500 perusahaan yang muncul di daftar pertama yang dirilis Fortune pada tahun 1955, sebagian besar nama mereka tidak lagi bisa ditemukan dalam daftar saat ini. Bayangkan, di tahun 2008 lalu saja hanya 71 nama yang masih bertahan. Apa artinya? Lebih dari 80 persen perusahaan yang ada di tahun 1955 saat ini telah tiada, alasannya entah itu karena bisnis mereka jatuh, mengalami merger, atau ya masih ada namun sudah tidak lagi bersinar seperti sebelumnya. 

Mengutip Yahoo Finance, sejak edisi pertama Fortune 500 pada tahun 1955 sampai dengan tahun 2022, lebih dari 2.200 perusahaan telah menghiasi daftar tersebut. Dari jumlah tersebut, sudah dipastikan hanya ada 49 nama yang masuk di setiap tahunnya. Beberapa nama yang sudah hilang diantaranya adalah Kodak dan Blockbusters. Pada tahun 1976, Eastman Kodak Company menempati peringkat 16 dalam daftar Fortune 500. Hal ini terjadi karena di tahun sebelumnya Kodak menemukan terobosan besar yaitu kamera digital. Namun, seiring waktu perusahaan pun mengalami kesulitan karena tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi digital. Akhirnya, di tahun 2012 mereka mengajukan kebangkrutan.

Baca juga  Kinerja 2023 dan Outlook Perekonomian Indonesia 2024

Nasib sama juga dialami oleh Blockbuster, pada tahun 2004, Blockbuster Inc. menempati peringkat 217 dalam daftar Fortune 500. Namun, perusahaan ini mengalami kesulitan karena tidak mampu bersaing dengan layanan streaming video seperti Netflix dan berakhir dengan mengajukan kebangkrutan di tahun 2010. Menariknya, Blockbusters pada tahun 2000 sempat menolak tawaran dari pendiri Netflix Reed Hastings untuk membeli Netflix. Tak terprediksi, sepuluh tahun kemudian Netflixlah dengan budaya dan inovasinya berhasil menyingkirkannya. 

Excellent people, yang ingin kami sampaikan disini adalah kondisi perusahaan dan proses bisnis Anda saat ini walaupun terlihat sudah sangat baik, tetapi (mungkin) akan berbeda saat Anda melihatnya tiga – lima tahun lagi. Perlu dicatat bahwa kompetisi semakin ketat, perkembangan teknologi digital semakin tak terbendung, kemampuan Anda untuk memperbaiki dan membaca peluang pun akhirnya menjadi kunci persaingan.

Meskipun masih diperdebatkan, ikan emas memiliki daya ingat tidak lebih dari tiga detik. Bagaimana dengan kita sebagai manusia? Tidak ada data pasti, tetapi yang pasti jika Anda tidak mengambil tindakan, Anda akan lupa bahwa organisasi Anda akan tertinggal oleh mereka yang melakukan tindakan inovasi – improvement secara nyata. 

(*Informasi diolah dari berbagai sumber)