The Chicago Tribunne telah menemukan cara untuk menyingkirkan sampah produksinya dengan menerapkan program daur ulang; memangkas biaya pembuangan sampah dan memperoleh keuntungan dari penjualan sampah yang dapat didaur ulang tersebut.

Dengan sirkulasi harian mencapai 762.342 copy, The Chicago Tribunne dan divisi percetakan komersilnya menghasilkan sampah produksi yang besar.

“Kami mengamati kontainer berisi sampah sisa produksi, dan menemukan bahwa sebenarnya kami memiliki beberapa kontainer yang berisi carboard serta kertas yang masih bagus, yang bercampur dengan plastik, bungkus keripik kentang, kaleng minuman bekas, sehingga tidak ada yang dapat kami lakukan dengannya kecuali membuangnya, karena sudah terkontaminasi sampah,” kata Roy Carlson, manajer Peprint Logistics and Inventory yang menjadi bagian dari Tribunne.

Menurut Carlson, perusahaan  telah melakukan berbagai usaha daur ulang untuk beberapa material sisa produksi press plate, sisipan, dan koran-koran yang tidak terjual habis sejak 1981. Namun material tersebut tercampur dengan sampah, yang dipadatkan dan dibersihkan dengan waste-hauler sembilan kali sebulan.

“Kami memiliki 327.000 kg sampah setiap bulan, dan kami menyadari bahwa ada biaya rutin yang besar untuk menanganinya,” katanya. “Kami harus membayar proses pembersihan dan kemudian waste-hauler kembali ke pabriknya sambil membawa sampah kami, yang oleh mereka disortir dan didaur ulang, dan mereka mendapat keuntungan. Kami harus menemukan cara untuk mengurangi sampah pengotor dalam limbah sisa produksi kami dan memasukkan keuntungan tersebut kedalam kas kami.”

Inisiatif improvement tersebut dimulai pada Oktober 2009 di Freedom Center North, cabang yang memproduksi Sunday collation, sebagai percobaan awal. Cabang tersebut dipilih karena telah berjalan dengan mandiri, tidak memiliki banyak shift dan memiliki staf yang konsisten. percobaan tersebut berhasil, dan inisiatif perlahan dijalankan di area lainnya; satu area baru perbulan.

Baca juga  Data-driven Manufacturing untuk Transformasi Industri

Untuk mengedukasi karyawan mengenai program tersebut, perusahaan mengadakan pertemuan awal (kick-off meeting) dimana dijelaskan mengenai perbedaan antara sampah dan material yang dapat didaur ulang. Mereka menggunakan alat bantu visual (visual management) berupa poster-poster yang menggambarkan material mana yang harus dimasukkan ke kontainer sampah yang mana, yang telah diberi label dan ditempatkan di titik-titik strategis yang mudah dijangkau. Sebuah garis indikator ditempatkan di dinding dekat kontainer sebagai tanda jika kontainer telah penuh dan harus dikosongkan.

Menurut Carlson, kesuksesan program ini telah membawa angin perubahan yang positif, khususnya diantara karyawan. Umpan balik yang diberikan karyawan membantu perusahaan meningkatkan standard dan melakukan inovasi. Ide kreatif dalam mendaur ulang limbah telah memberikan revenue tambahan bagi perusahaan.

“Kami mengeluarkan sampah hanya tiga kali dalam sebulan; bukan sembilan kali seperti sebelumnya. Itu berarti sekitar 227.000 kilogram sampah telah kami kurangi perbulannya.”

“Kami mengurangi biaya, meningkatkan revenue dengan mengalihkan biaya daur ulang dari vendor luar kepada kas kami sendiri. Tentu saja, program ini juga merupakan inisiatif pelestarian lingkungan.”

Program daur ulang Tribunne dijalankan per-area, karena ukuran perusahaan yang besar. Perusahaan memiliki dua fasilitas besar yang bila digabungkan besarnya hampir mencapai 10.000 m2, dan berisi 1000 karyawan. Menurut Carlson, kesuksesan implementasi program pada perusahaan penerbitan yang lebih kecil akan bergantung kepada kapabilitas kertas.

Sumber: www.piworld.com; Roy Carlson.