Ada sebuah pertanyaan sulit dan juga sebuah pertanyaan mudah yang ditujukan untuk Anda para manajer produksi.

Pertanyaan 1:

Jika Anda diminta untuk memproduksi kuantitas dan juga tipe produk yang berbeda setiap harinya, berapa jumlah tenaga, dan juga material, mesin, tempat seperti apa yang Anda butuhkan?

Pertanyaan 2:

Jika Anda diminta memproduksi kuantitas dan tipe produk yang sama dalam setiap hari, atau setiap jam, berapa jumlah tenaga, dan juga material, mesin, tempat seperti apa yang Anda butuhkan?

Mana pertanyaan yang lebih mudah dijawab? Yup, tentu saja pertanyaan ke-dua. Lantas, mengapa pertanyaan pertama begitu sulit untuk dijawab?

Karena ibarat membuat modifikasi kendaraan untuk bisa melewati jalan yang tidak rata atau rusak; suspensinya harus ditingkatkan, kekuatan mesin mobil tersebut harus lebih dikuatkan, mesin penggerak harus jauh lebih kompleks untuk ukuran 4×4.

[cpm_adm id=”10097″ show_desc=”no” size=”medium” align=”right”]

Keadaan jalan yang rusak pasti sulit diprediksi, karena pengemudi hanya bisa melihat apa yang ada di depan mereka, tidak bisa melihat jalan yang masih jauh di depan. Sehingga pengemudi hanya bisa mengatasi permasalahan jalan yang rusak ini saat mereka melewatinya saja.

Untuk menangani jalan rusak inipun diperlukan keterampilan, pelatihan, pengalaman, dan juga pengawasan terus menerus.

Sekarang, setelah modifikasi mobil telah berhasil melewati jalan rusak dengan baik, muncul sebuah permasalahan selanjutnya: bagaimana kondisi modifikasi mobil tersebut saat menghadapi trotoar? Bagaimana mengatur kecepatan yang diperlukan? Bagaimana sistem penggeraknya?

Nah, seperti itulah permasalahan yang muncul dalam proses produksi. Permintaan pelanggan atau pasar terus berfluktuasi. Sehingga, banyak industri manufaktur yang harus melakukan penyesuaian proses produksi mereka dengan permintaan pasar tersebut.

Penyamarataan Melalui Volume dan Tipe

Pertanyaan pertama tadi merupakan sebuah tantangan nyata bagi berbagai industri manufaktur. Untuk mengatasi permintaan pelanggan yang berfluktuasi ini, ada dua pendekatan yang telah diadopsi dalam Lean Manufacturing, yaitu demand leveling dan production leveling.

Pendekatan ini membantu mencegah fluktuasi pada produksi dan menjaga agar fluktuasi tetap bisa dikendalikan. Proses kerja produksi dalam sebuah manufaktur adalah manufaktur tidak akan memproduksi produk yang sama secara berulang, seperti halnya saat mereka melakukan produksi massal.

Baca juga  Ikuti 5 Kaidah ini agar Problem Solvingmu Berhasil

Jika kita melihat dari konteks Lean Manufacturing dan Toyota Production System (TPS), Heijunka mengarah pada teknik production leveling dan production smoothing. Secara umum dikerjakan untuk mengatur schedule dari aktivitas produksi dengan tujuan untuk mengontrol inventori, mengurangi lead time, dan memproduksi produk yang beraneka ragam, dengan  volume yang sesuai sesuai dengan permintaan yang diinginkan oleh konsumen.

Mari kita lihat contoh penyamarataan volume: ada produsen topi yang menerima pesanan untuk 500 topi yang sama per minggu dengan permintaan: 200 pesanan di hari Senin, 100 di hari Selasa, 50 di hari Rabu, 100 di hari Kamis, dan 50 di hari Jumat.

Tentu saja kasus ini mirip seperti pertanyaan kedua, dalam proses produksi hal ini sangat mudah dilakukan. Namun, bagaimana jika permintaannya melibatkan beberapa jenis topi ?

Jadwal produksi tersebut akan terlihat seperti ini : AAAAABBBCCDD. Jadwal produksi dengan Heijunka akan menjadi: AABCDAABCDAB dengan penekanan pada efisiensi waktu changeover dan persediaan buffer yang memenuhi permintaan untuk barang-barang yang lebih populer.

[cpm_adm id=”10763″ show_desc=”no” size=”medium” align=”left”]

Production Meets Demand dengan Heijunka

Kestabilan fasilitas Heijunka, khususnya dalam proses produksi bertujuan untuk mengadopsi  praktek dari Lean Manufacturing yaitu menghilangkan mura (ketidakserasian dalam kualitas produksi), mengontrol muri (kejenuhan atau beban yang berlebihan dari sumber daya produksi seperti SDM dan mesin), dan mereduksi muda (waste dari unsur-unsur produksi).

Seorang pakar Lean,Michael Balle menggambarkan pentingnya Heijunka untuk berbagai organisasi Lean. Dengan memproduksi setiap produk selama waktu yang relevan, lead time akan berkurang dan bisnis akan lebih dekat untuk memenuhi permintaan yang nyata.

Itulah esensi dari Heijunka, mendorong produksi yang ketat dan juga fleksibel dengan permintaan. Jika semua jenis produk yang dibuat (disimpan seperlunya) sepanjang tahun, maka fleksibelitas akan meningkat, dan produksi akan mampu memenuhi periode pada saat permintaan memuncak.

Baca juga  5 Karakteristik Pemimpin Agile yang Perlu Kita Ketahui

Heijunka tergantung secara signifikan pada penempatan presentase dari kapasitas menjadi fleksibelitas changeover. Seperti yang dikatakan oleh Balle, jika kita ingin membuat setiap produk setiap hari, yang merupakan tujuan utama dari Lean, maka kita harus mengurangi waktu changeover yang sesuai. Heijunka juga merupakan sebuah visualisasi sederhana produksi dengan menggunakan kartu kaban untuk memberikan sinyal produksi sesuai dengan kerja interval tertentu (misalnya per hari atau per minggu).

Berbeda dengan proses manufaktur tradisional dimana proses tersebut mempekerjakan orang dalam jumlah yang besar untuk melakukan proses assembly terhadap produk, dasar dari heijunka adalah untuk menggunakan sumber daya dalam jumlah kecil di dalam lini assembly sehingga fluktuasi pada lini final assembly tetap terjaga dan dapat diabaikan.

Dengan cara ini (Production Leveling dan Scheduling), efisiensi dari proses produksi akan menjadi optimal. Ditambah lagi dengan adanya pengelolaan terhadap rate of production dari produk-produk intermediate pada tingkatan yang konstan, maka proses umum yang dipekerjakan untuk finalisasi dari produk akan relatif menghabiskan waktu yang lebih sedikit dan dapat diprediksi.

Sumber: http://theleanthinker.com/2008/03/03/the-importance-of-heijunka/

http://www.isixsigma.com/methodology/lean-methodology/heijunka-the-art-of-leveling-production/

http://www.pinterest.com/search/pins/?q=heijunka