Inovasi dari perspektif ekonomi digital nampaknya menjadi kata kunci pembangunan, sesuai paparan Shoeb Kagda, Pendiri Indonesia Economic Forum (IEF) saat konferensi pers di Perpustakaan Habibie, Patra Kuningan, Jakarta, Kamis (10/11). IEF merupakan salah satu forum terkemuka di Indonesia dan Asia mengusung tema “Driving Innovation: Reshaping Indonesia’s Economy” pada workshop 14-15 November 2016 di Shangri-La Hotel, Jakarta.

IEF mengamati tren ekonomi Indonesia melalui beragam perubahan besar yang sedang terjadi. Sebagai salah satu Negara terbesar keempat di dunia, Indonesia membutuhkan inovasi untuk menata ulang perekonomian nasional. Teknologi digital mendapatkan tempat istimewa dalam pembangunan sebagai problem solving dan kerangka penggalian economic value. Sektor privat dan pemerintah menggunakan teknlogi digital di berbagai lini bisnis dan industri.

Munculnya digital healthcare, finance technology sampai intelijen geospasial merupakan dampak tren penggunaan teknologi digital di aspek sosial, ekonomi dan politik. “Indonesia Economic Forum akan menyentuh hal-hal tersebut dan berdiskusi bagaimana semua ini dapat bermanfaat bagi masyarakat Indonesia, sektor swasta, perekonomian dan pemerintah,” imbuh Shoeb.

Inovasi memberikan jawaban berbagai masalah dan tantangan yang dihadapi individu dan Negara. Ilham Habibie, Anggota IEF Advisory Council dalam konferensi pers menjelaskan empat aspek penting dalam inovasi di dalam economic values. “Inovasi adalah kebutuhan atas solusi, dalam sebuah proses inovasi terdapat empat elemen antaralain ide, prototype, industrialisasi dan komersialisasi,” jelasnya.

Menurutnya, salah satu link yang paling lemah adalah langkah prototype menjadi industrialisasi. Proses inovasi seringkali membutuhkan perubahan, hasil tak bisa diambil langsung dan menuai sukses. Proses yang mahal dan tak sesuai ekspektasi kerap menjadi kendala. Hal demikian menyebabkan banyak proyek dan ide cemerlang tak menjadi industri.[]

Baca juga  Tidak perlu bingung, ini beda value add dengan value enabler