Panduan Champion dalam Memilih Black Belt.
Panduan Champion dalam Memilih Black Belt.

Artikel ini berisi panduan dalam melakukan seleksi Black Belt dan penjabaran mengenai karakteristik ideal Black Belt untuk membantu Lean Six Sigma Champion dalam menyeleksi dan memilih calon Black Belt di perusahaannya.

Memilih Kandidat Black Belt

Menemukan dan melakukan seleksi Black Belt adalah proses yang menantang. Seorang calon Black Belt tentu saja harus mampu memberikan level performa dan intensitas kerja yang dibutuhkan untuk menjalankan peran sebagai Black Belt. Sayangnya, tidak semua orang yang brilian dan berpengalaman dalam pekerjaannya mampu mengemban peran ini. Manajer dan karyawan yang berorientasi pada masalah teknis yang memahami Lean Six Sigma dan merasa frustrasi dengan praktek-praktek manajemen standar bisa jadi merupakan kandidat yang sesuai untuk peran dalam Lean Six Sigma ini.

Idealnya, kandidat yang memenuhi syarat untuk menjadi Black Belt adalah mereka yang memiliki pengalaman, orientasi dan keahlian kerja yang sama dengan lingkup bisnis perusahaan (produk, pelayanan, dan prosesnya). Jika mereka telah memperoleh pelatihan yang memadai dan mendapatkan dukungan teknis, mereka dapat berperan menjadi change agent, konsultan internal, dan mentor di perusahaan, serta mendukung Lean Six Sigma Champion.

Namun, perusahaan sebenarnya tidak perlu membatasi perspektif karena kemungkinan lain selalu ada. seorang ‘pendatang baru’ yang berasal dari bisnis yang berbeda kadangkala akan membawa perspektif baru yang menyegarkan. Kapan dan bagaimana memadu-padankan karyawan lama dan baru adalah tugas seorang Champion.

Karakteristik Utama Seorang Black Belt

Seperti yang dijabarkan Mikel Harry, PhD. dalam bukunya yang berjudul Six Sigma: The Breakthrough, ada beberapa karakteristik ideal yang biasanya dimiliki oleh seorang Black Belt, yaitu:

  • Sangat dihormati di antara superior, rekan sejawat, dan mereka yang berada dalam posisi lebih rendah.
  • Memahami gambaran besar bisnis di perusahaan.
  • Fokus kepada hasil dan memahami pentingnya bottomline.
  • Mampu berbicara dalam bahasa manajemen (uang, waktu, dinamika organisasi, dan sebagainya).
  • Berkomitmen untuk melakukan apapun demi terlaksananya perbaikan yang terus menerus.
  • Didukung penuh oleh top management.
  • Memiliki keahlian dan pengetahuan mendalam di bidang tertentu.
  • Mampu menginspirasi orang lain untuk maju dan berkembang.
  • Memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik (secara tertulis maupun lisan).
  • Mampu memberikan tantangan kepada orang lain untuk membuat mereka lebih kreatif.
  • Memiliki kemampuan konsultatif, mentoring, dan coaching.
  • Mendorong perubahan yang mungkin bertolak belakang dengan cara-cara konvensional, mengembangkan dan mengimplementasikan metodologi baru, dan menciptakan strategi yang inovatif.
  • Memiliki pemikiran yang kreatif, kritikal, dan out-of-the-box.
  • Dapat memaklumi kegagalan dan kesalahan, dengan perencanaan matang untuk recovery.
  • Mampu menerima tanggung jawab sebagai pengambil keputusan.
  • Melihat kritik sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri dan maju.
  • Mendorong komitmen, dedikasi, dan kerjasama tim.
  • Mempersatukan dan menginspirasi tim untuk berusaha mencapai tujuan utama.
  • Mampu mengkomunikasikan sebuah permasalahan dari segala sisi.
  • Mampu menampung dan menghargai ide-ide dan sudut pandang yang beragam.
  • Memiliki empati tinggi.
  • Condong kepada win-win solution.
  • Mengemukakan ketidak-setujuan dengan bijaksana dan tanpa reaksi berlebihan.
  • Mampu mengambil keputusan dengan tenang dan obyektif dalam tekanan.
  • Mampu mengantisipasi masalah dan menghilangkan akar permasalahannya.
  • Secara efektif dapat mengidentifikasi prioritas dalam sudut pandang bisnis.
  • Dapat mengatur sumber daya yang terbatas dengan efisien dan efektif.
  • Berhati-hati dalam mendelegasikan tugas kepada anggota tim dan tidak membebani mereka dengan jumlah tugas yang tidak realistis.
  • Memahami dan menghormati kenyataan bahwa setiap orang memiliki kelemahan.
  • Menunjukkan perhatian kepada orang lain secara alami.
  • Lebih fokus kepada kesuksesan bisnis daripada kesuksesan pribadi.
  • Tidak menyombongkan keahlian yang dimiliki di hadapan orang lain.
  • Memahami bahwa hasil lebih penting daripada titel pekerjaan.
Baca juga  Maret 2024, PMI Manufaktur Indonesia Capai Level Tertinggi

Kriteria diatas adalah rangkuman dari panduan seleksi Black Belt yang dapat dijadikan patokan. Panduan tersebut dibuat untuk membantu Champion dalam memilih dan menseleksi para calon Black Belt yang menurutnya sesuai dengan kebutuhan perusahaan.