Diperkenalkan oleh salah satu Akademisi Jebolan Hardvard – Robert S. Kaplan – yang bekerja sama dengan konsultan manajemen David P. Norton pada tahun 1992, konsep dari Balanced Scorecard atau BCS telah berhasil merevolusi cara manajemen untuk mengevaluasi dan mengelola kinerja strategi.

Sebagai salah satu ide bisnis paling berpengaruh yang pernah disajikan dalam Hardvard Business Review (HBR), Balanced Scorecard adalah satu sistem manajemen – yang meskipun juga sebagai alat ukur – yang, dengan melacak empat ‘kaki’ yang berbeda, atau tujuan-tujuan bisnis yang berbeda, memungkinkan untuk melakukan sekaligus memantau tujuan-tujuan bisnis yang penting juga tujuan yang sedang direncanakan.

Sementara salah satu ‘kaki’ terdiri dari metrik keuangan yang masih menggunakan perhitungan secara tradisional, sudut pandang yang lebih komprehensif dari balanced scorecard ini diperoleh dengan memantau kepuasan pelanggan (kepuasan dan juga kinerja); proses bisnis internal (mereka yang terlibat langsung dengan pelanggan); pengetahuan, pendidikan dan perkembangan (bagaimana pengetahuan tersebut diperoleh, dibagikan, dan dikembalikan untuk meraih keunggulan kompetitif).

[cpm_adm id=”10097″ show_desc=”no” size=”medium” align=”right”]

Dalam salah satu bentuk ataupun dalam bentuk yang lain, balanced scorecard telah diadopsi oleh sekitar 60% perusahaan di berbagai sektor industri di seluruh dunia, belum lagi ditambah dengan entitas di sektor publik bersama dengan organisasi non-profit. Yang menjadi masalah adalah pengaturan dan pengelolaan dari balanced scorecard yang kompleks dan sedikit agak rumit. Beberapa yang telah berhasil melakukannya dengan benar – yang telah mendapatkan manfaat penuh dari implementasi tersebut – adalah yang menjadi sorotan.

Bahkan, Kaplan and Northon sendiri telah menemukan tingkat adopsi yang tinggi yang akan memperkirakan terjadinya kekhawatiran tersendiri. Seperti yang mereka katakan dalam wawancara dengan Thinkers50, salah satu media ringkasan pemikiran manajemen terbaik di dunia, bahwa yang menjadi perkiraan lainnya adalah sebanyak 50% lainnya telah melakukan hal tersebut dengan cara yang salah. Ketika membicarakan balanced scorecard, hal tersebut merujuk pada satu sistem untuk mengelola strategi yang menggunakan balanced scorecard sebagai kerangka kerja.

Baca juga  Inilah Pondasi Membangun Keunggulan Bisnis dari Marriot hingga Toyota

“Sebanyak 50% atau bahkan lebih perusahaan yang mengatakan bahwa mereka yang menggunakan balanced scorecard mencoba untuk melakukannya dengan cara dasar, sedangkan sisanya melakukannya dengan cara lain. Yang menjadi satu kekhawatiran kami adalah ketika kami membaca satu artikel yang mengutarakan bahwa sebesar 70% perusahaan gagal dalam menggunakan balanced scorecard.”

Para ahli telah berhasil mengidentifikasi berbagai masalah yang harus diingat dan dihindari oleh para manajer jika mereka berniat untuk membuat balanced scorecard paling efektif seperti yang mereka butuhkan, yaitu:

1/ Strategi yang Tidak Jelas

Beberapa strategi tingkat tinggi mungkin sedikit sulit jika diterjemahkan dengan baik ke dalam balanced scorecard. Dalam hal ini, para ahli menyarankan adanya penyederhanaan jika menyangkut target keuangan, pasar dan segmen pelanggan, juga aspirasi merk serta pemosisian nilai pelanggan. Semua hal tersebut adalah dalam konteks dimana organisasi ingin tetap bertahan dan menggapai sukses dalam lima hingga sepuluh tahun mendatang.

2/ Eksekusi yang Terlalu Rumit

Ada banyak rincian dan teknis untuk mampu melakukan balanced scorecard dengan baik, yang mana cukup untuk membuat banyak organisasi dapat terjebak dan menuai satu keraguan tentangnya. Dengan melakukan tahapan-tahapan dari yang paling sederhana untuk aspek yang lebih canggih, manajer dapat memastikan kejelasan dan mengurangi terjadinya kesalahan.

[cpm_adm id=”10763″ show_desc=”no” size=”medium” align=”left”]

3/ Metrik yang Tidak Jelas

Relevansi dan kejelasan adalah kunci dari metrik untuk dapat menghasilkan sebuah nilai. Ketika organisasi melakukan hal ceroboh atau tidak mendefinisikannya secara konsisten, mereka akan menuai kritik sistem.

4/ Pengumpulan Data maupun Pelaporan Hasil yang Tidak Efisien

Ketika pengumpulan data menghabiskan terlalu banyak tenaga dan juga waktu, pekerjaan utama akan terbengkalai dan begitu juga dengan hasilnya. Solusinya adalah dengan lebih selektif dalam mendefinisikan dan memprioritaskan metrik yang paling penting dan relevan untuk meningkatkan kinerja, dan memastikan sumber daya mendukung kinerja pelaporan mereka.

Baca juga  3 Jenis Nilai dalam Analisis Proses Bisnis

5/ Struktur Proses Review Metrik yang Buruk

Pendekatan yang tergesa-gesa untuk memantau scorecard menjadi satu masalah besar. Karena, ulasan haruslah sesuai dengan perubahan metrik dan juga sejauh mana variabel dalam metrik tadi dapat dipengaruhi oleh manajemen, jika perlu secara harian. Ini juga merupakan kunci untuk membentuk satu komite peninjau lintas fungsional yang anggotanya berbagi tanggung jawab untuk hasil proses dan memiliki peran masing-masing yang terdefinisikan dengan baik.

Ada banyak sekali contoh dari implementasi balanced scorecard yang dapat dipelajari saat ini, dan dalam proses desain itu sendiri, banyak ahli menegaskan bahwa ada banyak sekali manfaat yang dapat diambil dari implementasi balanced scorecard dengan baik. Lebih sadar akan masalah yang timbul akan memastikan bahwa proses lebih baik dan juga perbaikan kinerja yang optimal akan mengikuti proses tersebut.***