Sebagian besar proses dan struktur organisasi yang terlalu rumit dan iming-iming efisiensi melalui pemanfaatan teknologi terkadang hanya akan memperburuk keadaan. Oleh karena itu, yang diperlukan pemimpin hari ini adalah memiliki mantra “kesederhanaan” dan kemampuan menghilangkan upaya yang sia-sia.  

Sahabat SHIFT, kini perusahaan menghadapi pergeseran, selain fokus pada pengurangan biaya mereka juga harus mampu menjalankan peran sebagai pebisnis dan talent advisor, yaitu dengan terus meningkatkan keterlibatan karyawan dan mendesain ulang lingkungan kerja terutama dalam proses manajemen kinerja, pengurangan beban kerja dan stress karyawan, program kepemimpinan milenial, dan juga membangun budaya yang lebih kuat dan terintegrasi.

Josh Bersin, founder dan principal Bersin by Deloitte dalam artikelnya (yang dirilis oleh Forbes) mengatakan bahwa salah satu masalah terbesar yang dihadapi perusahaan ketika merestrukturisasi atau setelah akuisisi adalah mendorong budaya yang selaras dan mengintegrasikan praktek kepemimpinan dengan talent.

Bahkan, dalam artikel tersebut disebutkan bahwa salah satu pabrikan terbesar yang berbasis di Perancis tidak memiliki HR (Dept. Human Resources) terpusat dan sekarang menerapkan struktur HR sentral yang sama sekali baru untuk dibawa ke praktek manajemen dan manajemen bakat. Dari penelitiannya, Josh menemukan fakta bahwa perusahaan-perusahaan yang merestrukturisasi organisasi HR melatih tim untuk bisa lebih berani dengan bisnis, jadi “keterampilan” SDM bukan lagi menjadi masalah terbesar.

Menurut Josh, ketika dia berbicara tentang manajemen kinerja, kepemimpinan, restrukturisasi HR, hingga penggunaan teknologi dengan ratusan pemimpin HR di seluruh dunia, semua mengatakan, “Bagaimana kita membuat segala sesuatunya menjadi lebih sederhana?”. Ya, kesederhanaan akan menjadi hal besar dalam dunia bisnis, baik itu dalam bidang HR ataupun leadership.

Banyak dari kita yang terlalu ingin menggunakan model baru di banyak bidang sekaligus, terutama yang berkaitan dengan teknologi, kerangka kerja, diagram proses, dan alur kerja. Tetapi tahukah Anda bahwa dalam kebanyakan kasus, jawabannya adalah bagaimana melakukan semua menjadi jauh lebih gampang, pekerjaan menjadi lebih sedikit, jika mungkin dilakukan tanpa menimbulkan masalah.

Baca juga  Mengantisipasi resistensi dalam proses transformasi

Ketika perusahaan ingin bertransisi (dalam hal teknologi), umumnya perusahaan akan mengidentifikasi semua kompetensi yang dibutuhkan dan mencari cara untuk menilai dan mengembangkan karyawan ke arah kompetensi ini. Jika ini adalah perusahaan manufaktur maka mereka akan membangun kurikulum baru untuk tim teknik dan operasi mereka. Upaya ini mungkin berhasil, atau mungkin tidak berhasil, tetapi ini pasti akan memakan waktu dan cenderung menjadi ketinggalan zaman ketika selesai.

Oleh karena itu, diperlukan sebuah pemikiran yang lebih holistik untuk bisa menemukan cara yang lebih sistemik. Dengan demikian maka tim akan terbantu dari semula membangun “desain proses” menjadi “solusi untuk masalah”.  

Kembali ke mantra “sederhana”, sebelumnya coba berikan jawaban Anda atas pertanyaan berikut ini :

1.Apakah kita masih memerlukan survei yang menghabiskan waktu dan biaya yang tidak cukup sedikit untuk diselesaikan? Mungkin tidak, yang kita butuhkan adalah proses pendek, lincah, untuk mendapatkan umpan balik secara online.

2. Apakah kita membutuhkan katalog pelatihan dengan 1000 program di dalamnya? Mungkin tidak, sebagian besar perusahaan hanya membutuhkan 5% dari daftar pelatihan yang dimilikinya.

3. Apakah kita memerlukan perangkat lunak HR dengan ratusan fitur dan menu berjenjang? Mungkin tidak, kita perlu “aplikasi” sederhana yang mudah digunakan pada perangkat seluler.

4. Apakah kita memerlukan 10 inisiatif di seluruh perusahaan atau bisakah kita merincinya menjadi tiga?Kesimpulannya, kebutuhan akan hal yang “sederhana” ada dimana-mana.

Apple adalah bukti mantra sederhana ini. Sang pendiri Steve Jobs sangat memperhatikan kesederhanaan dalam segala hal, baik dalam desain produk, konsep bisnis, hingga cara hidupnya sendiri. Bagi Jobs, kesederhanaan bukan berarti kekurangan atau kurang ambisi, namun kunci untuk mencapai kesuksesan dan menciptakan produk yang mudah digunakan dan disenangi oleh konsumen.

Baca juga  3 Jenis Nilai dalam Analisis Proses Bisnis

Bagi Jobs, kesederhanaan dalam desain produk berarti menghilangkan segala hal yang tidak diperlukan dan memfokuskan pada fitur-fitur penting yang dapat memberikan pengalaman terbaik bagi pengguna. Hal ini tercermin pada produk-produk Apple seperti iPhone, iPad, dan MacBook yang memiliki desain yang elegan, simpel, dan mudah digunakan.

Sedangkan dalam konsep bisnis, Jobs berusaha untuk menyederhanakan proses produksi dan pemasaran, sehingga memungkinkan Apple untuk fokus pada produk-produk berkualitas tinggi dan menghadirkan pengalaman yang tak tertandingi bagi konsumen.

Sumber: theguardian, Forbes, Inc.com