Suatu hari, seorang wanita bernama Mary tengah menunggu penerbangan di Bandara Heathrow, London. Ia hendak pergi menghabiskan musim panas di Peru. Untuk membunuh waktu, Mary membeli sekantong kue di cafe dan duduk di meja bar. Ia mengeluarkan buku, lalu membaca sambil menikmati kue dan secangkir kopi.

Ketika sedang asyik membaca, Mary mendengar bunyi kresek di depannya. Saat itulah ia menyadari, pemuda yang sedari tadi duduk di sebelahnya tengah mengambil sekeping kue dari kantong yang ia letakkan di meja, dan memakannya. “Kok bisa, pemuda rapi seperti dia mencuri kue orang lain,” umpat Mary dalam hati. Karena tidak ingin ambil pusing, Mary membiarkan saja, berharap si pemuda menyadari kesalahannya.

Waktu terus berlalu, dan Mary makin sulit berkonsentrasi pada bukunya. Pasalnya, si pemuda ‘tak tahu malu’ itu terus saja memakan kuenya. Setiap kali Mary mengambil satu kue, si pemuda ikut mengambil satu. Terus saja begitu. Hingga akhirnya hanya tersisa satu potong kue di kantong kertas, si pemuda mengambil kue, membaginya jadi dua, memberikan sepotong kepada Mary, memakan sisa potongannya lalu pergi. Mary hanya bisa terngaga; “Beraninya dia!” pikirnya.

Tak lama, penerbangan Mary diumumkan. Walaupun amat kesal, ia lega karena bisa segera beranjak dari situ. Ia-pun menutup bukunya, membereskan barang-barang dan memanggil pelayan cafe untuk membayar. Ketika hendak mengambil dompet di tas, alangkah terkejutnya ia ketika menemukan bungkusan kertas berwarna cokelat di dasar tas. Itulah kue miliknya! Berarti yang sejak tadi ia makan adalah kuenya pemuda itu.

Sambil bergegas menuju boarding gate, Mary menahan rasa malunya dan memikirkan apa anggapan si pemuda kepadanya, yang dengan tak tahu malu terus memakan kue pemuda itu. “Sungguh memalukan! Baik benar dia, mau membagi kue terakhirnya,” pikir Mary malu.

Baca juga  3 Mindset yang Mendorong Budaya Continuous Improvement

Pelajaran yang bisa dipetik? Dalam keseharian dan pekerjaan, sering kali kita terjebak oleh “si pencuri kue” ini. Kita kerap menilai permasalahan secara sepihak dan menyalahkan orang lain, tanpa mau tahu paradigma dan fakta-fakta lain yang mungkin luput dari pengamatan kita. Kisah ini hanya akibat kecil saja. Jika tidak hati-hati, kebiasaan menilai secara sepihak bisa menimbulkan kerugian lebih besar pada diri kita dan orang lain.***

Adaptasi dari kisah di buku “The 7 Habits of Highly Effective People” oleh Stephen R. Covey.