Mengacu pada data industri manufaktur Indonesia yang dirilis Bank Dunia, nampaknya saat ini mengalami penurunan. Meski di era 1990an industri manufaktur di tanah air sempat tumbuh sampai 11 persen per tahun, namun pada 2000an tak mampu mempertahankan pertumbuhan, bahkan turun sampai lima persen. Menurunnya daya saing industri manufaktur, nampaknya disebabkan oleh pengoperasian pelabuhan yang tak efisien dan hambatan pada pintu masuk sektor logistik.

Seperti ditulis di Bisnis Indonesia, Selasa (23/8), ekonom Bank Dunia untuk Indonesia Ndiame Diop menyatakan tingginya biaya logistik sektor manufaktur disebabkan oleh pembatasan perdangangan, prosedur izin, dan kesenjangan infrastruktur. Selain mengatasi biaya logistik yang tinggi, pemerintah diharapkan mampu memperbaiki iklim investasi untuk mengundang swasta, mengantisipasi inefisiensi industri manufaktur.

Persoalan tingginya biaya logistik yang berimbas pada menurunnya daya saing industri manufaktur nasional menjadi masalah serius bagi seluruh pemangku kepentingan, menjadi catatan kritis para praktisi operational excellence. Sejumlah praktisi berpengalaman mencoba membedah persoalan operational excellence dalam seminar yang diadakan Majalah Shift Indonesia pada Selasa, 11 Oktober 2016 di JW Marriott Hotel, Jakarta.

Majalah Shift menjadi media massa pertama di Indonesia yang menyajikan referensi operational excellence guide secara komperhensif.

Tiga isu industri yang menjadi pokok bahasan para praktisi diantaranya sektor mining and energi, service dan sektor manufaktur. Johari Zein, CEO PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) dijadwalkan akan membahas persoalan efektifitas dan efisiensi industri logistik serta dampaknya terhadap sektor manufaktur. Sementara itu Joko Pramono, Operational Production Director PT Bukit Asam rencananya akan memperdalam pembahasan industri pertambangan.

Seluk beluk perkembangan dunia startup, e-commerce dan teknologi digital diagendakan menjadi materi bahasan Kusumo Martanto, CEO blibli.com. Marissa Hapsari, Partner Leader of Organization & Talent Practice dari kantor konsultan Fortia, Jakarta, sedianya di dalam seminar akan memberikan perspektif komperhensif terkait strategi bisnis menghadapi tantangan ekonomi regional-global.

Baca juga  CEO Insight: Pentingnya Continuous Improvement

Seminar akan lebih menyoroti tren teknologi dan digitalisasi industri di berbagai sektor. Selain seminar, event tahunan bertajuk Operational Excellent Conference & Award 2016, “Operational Excellence in Digital Era” atau OPECXON16 juga menggelar talk show dengan topik “Industrial Digitization: A Threat or An Opportunity?”. Turut mengundang sebagai narasumber talk show, Hariyadi B. Soekamdani, Ketua APINDO, Adhi S Lukman Ketua GAPMMI, serta Edy Putra Irwadi, Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Industri Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI.

OPEXCON16 merupakan ajang perusahaan-perusahaan terkemuka di Indonesia, BUMN dan swasta, bersaing di bidang perbaikan proses bisnis berkelanjutan, continuous improvement. OPEXCON16 kian semarak saat peserta mengirimkan lebih dari satu project improvement dalam kompetisi.

Saat ini Indonesia Operational Excellence Conference and Award (OPEXCON) telah memasuki tahun ke-5. Tercatat puluhan perusahaan berhasil meraih penghargaan atas efisiensi dan efektifitas industri. OPEXCON sedari 2012 telah menjadi ajang bergengsi bagi komunitas operational excellence. Ajang berbagi pengalaman dan pengetahuan serta mengembangkan jaringan kerja. Sebuah kesempatan emas yang terlalu berharga untuk dilewatkan. []

Be A Part Of The Largest Operational Excellence Event Of The Year!

Get Inspired! Get Connected! Be Excellent.

#IndonesiaExcellent #OPEXCON16.