visual factory dalam lean manufacturing

Tahukah anda, ada banyak penelitian yang membuktikan bahwa pabrik yang paling efisien adalah pabrik yang paling “visual”? Seperti apa pabrik yang visual itu? Yaitu pabrik yang menempatkan banyak foto, gambar, kode warna, grafis, dan bahkan kartun untuk menggantikan informasi berbentuk teks, yang akan memudahkan penerimaan informasi dan instruksi oleh karyawan.

Tujuan dari Visual Factory adalah mempermudah komunikasi dan penyampaian informasi penting dengan cara dan dalam bentuk yang paling mudah dipahami. Perusahaan global, khususnya, sangat memahami kebutuhan akan komunikasi visual, yang kini menjadi semakin kritikal di lingkungan kerja yang multikultural dan multilingual.

Lalu cara apa yang digunakan perusahaan global untuk menjalankan visual management?

Bertransformasi Menjadi Pabrik yang “Lebih Visual”

Kontrol Visual untuk Perkakas

Salah satu bentuk paling populer dari visual management adalah kontrol perkakas. Umumnya mereka memasang shadow board, atau papan yang ditandai dengan bentuk-bentuk perkakas, untuk menunjukkan tempat dimana setiap perkakas harus disimpan.

Secara visual, shadow board menyampaikan dua jenis informasi:

  • Tempat perkakas tersebut harus disimpan
  • Apakah ada perkakas yang tercecer dan tidak berada di tempatnya.

Indikator visual seperti shadow board sangat mudah dipahami dan dapat secara efisien menyampaikan informasi kepada karyawan hanya dengan satu kali lirikan mata. Indikator visual semacam itu dapat menghemat banyak waktu, karena karyawan tidak harus mencari-cari dalam kotak perkakas, laci, ataupun lemari untuk menemukan peralatan. Setiap orang juga bisa melihat apakah ada perkakas yang hilang ataupun sedang dipakai orang lain.

Shadow Board. (c)georgekk.co.uk
Shadow Board. (c)georgekk.co.uk

Seringkali perusahaan menggunakan konsep shadow board dan melengkapinya dengan kode-kode warna. Shadow board tersebut dicat dengan warna tertentu, lalu perkakas yang seharusnya disimpan disana juga ditandai dengan warna yang sama. Umumnya, setiap area kerja memiliki tanda warna tertentu yang berbeda satu sama lain. Dengan sistem yang demikian, akan mudah mengetahui jika ada perkakas yang diletakkan di tempat yang salah.

Baca juga  Maret 2024, PMI Manufaktur Indonesia Capai Level Tertinggi

Apa yang Harus Diproduksi, dan Berapa Banyak

Penjadwalan produksi dapat disederhanakan dengan menggunakan indikator visual. Alih-alih menggunakan tumpukan kertas yang berisi jadwal produksi, perusahaan Lean menggunakan penanda yang mudah dipahami untuk mendorong proses produksi yang efisien. Scheduling board (papan jadwal) atau production trigger board, adalah contoh indikator visual yang baik.

Kita bisa membuat berbagai jenis papan jadwal, tapi mungkin yang paling sederhana adalah kotak-kotak berwarna yang ditumpuk dan menunjukkan produk/suku cadang yang tengah dikonsumsi. Jika kotak-kotak tersebut mencapai tinggi tertentu, operator memiliki otoritas untuk memproduksi lebih banyak suku cadang. Seperti contoh pada gambar, X menunjukkan konsumsi dari satu kontainer suku cadang. Kotak pink mengindikasikan titik re-order (atau dorongan untuk me-re-order lebih banyak suku cadang).

tool perkakas visual controlL

Kita bisa melihat bahwa hanya suku cadang nomor B235 yang telah mencapai titik re-ordernya. Maka, suku cadang tersebut harus segera dibuat. Jumlah kontainer yang harus diproduksi sebanding dengan jumlah X yang terlihat di papan. Dalam kasus ini, terdapat lima X (empat di kotak biru dan satu di kotak pink). Menurut papan visual ini, suku cadang lain selain B235 belum perlu diproduksi. Semua informasi yang dibutuhkan mengenai produk apa yang harus dibuat dan berapa banyaknya dapat diperoleh hanya dengan melihat papan ini.

Dimana Saya Harus Menyimpan Material?

Indikator visual dapat membantu kita menentukan dimana harus menyimpan material dan stok barang. Banyak perusahaan yang menggunakan floor area untuk menyimpan material yang baru datang. Area yang menjadi tempat penyimpanan ditandai dengan berbagai cara, misalnya dicat, ditandai dengan garis, atau diberi tulisan sebagai “area penyimpanan material” atau “incoming material only”. Pendekatan ini dapat meregulasikan jumlah material yang datang yang dapat ditampung di area pabrik. Jika area penyimpanan tidak mencukupi, maka material tidak dapat diterima.

Baca juga  Inspirasi dari Lapangan: Pelajaran Operational Excellence dari Permainan Basket

Beberapa perusahaan mengembangkan konsep ini dengan menambahkan kode warna berdasarkan jenis material yang disimpan di area penyimpanan. Misalnya, rak hijau mengindikasikan tempat penyimpanan untuk stainless steel, rak oranye adalah tempat menyimpan brass, dan sebagainya.

Label dan kode warna juga bisa digunakan sebagai penanda tempat penyimpanan bahan kimia. Sistem disposisi sampah daur ulang dan material scrap juga dapat ditingkatkan dengan menggunakan metode skema warna yang sama.

Jika anda belum menggunakannya, pertimbangkan untuk menggunakan indikator visual di pabrik anda. Garis, label, tanda dan warna akan membantu karyawan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai situasi di area kerja. Selain itu, dengan makin maraknya penggunaan fotografi digital dan keuntungan yang menyertainya, anda bisa menggunakan foto untuk mengganti ribuan kata yang sulit dibaca dan dipahami.***

 

Sumber: mmsonline.com