Di tengah krisis seperti ini, organisasi membutuhkan pemimpin yang bisa mengambil tindakan dan membangun kepercayaan orang-orang di perusahaan.

Karena dunia berubah, orang-orang hampir di semua organisasi diminta untuk mempelajari konsep baru, mengoperasionalkan standar baru, dan menerima kinerja di tingkat yang baru. Dalam kondisi seperti saat ini, orang-orang mungkin akan bersedia melakukannya selama mereka bisa memahami harapan perusahaan. Untuk itu, para pemimpin bisnis perlu membangun narasi yang positif dan menjadi katalisator untuk membuat kemajuan secara kolektif sehingga ancaman krisis bisa  dilewati sebagai peluang.

Dalam perjalanan mewujudkan peluang tersebut, pemimpin harus segera mengambil tindakan yang diperlukan, diantaranya adalah menentukan prioritas, fokus pada tujuan, terus mencari peluang, lebih terlibat, dan agile.

  1. Membuat daftar prioritas

Pemimpin harus menetapkan daftar prioritas yang jelas dan mengimplementasikannya secara otonom. Menurut Gartner, dalam situasi dinamis pengambilan keputusan yang terlalu terpusat membuat kemampuan organisasi (merespons dengan cepat) menjadi tidak efektif. Para pemimpin disarankan memberdayakan manajer untuk membuat keputusan yang mereka bisa, berdasarkan prioritas perusahaan yang jelas, seperti menjaga karyawan tetap aman dan menjaga hubungan yang baik dengan klien. Juga harus dibuat ambang batas yang jelas kapan manajer perlu meminta otoritas pusat.

2. Fokus pada tujuan bukan rencana

Hampir semua organisasi memangkas rencana kerja terbaik mereka. Semua desain yang telah disusun dan dikaji dengan matang sekarang menjadi tidak lagi relevan. Oleh sebab itu, kita semua perlu melakukan perubahan atau penyesuaian rencana sesuai dengan kenyataan baru. Setiap individu dan organisasi akan belajar kembali dan melakukan inovasi untuk beradaptasi.

3. Melihat segala hal sebagai peluang

Kepercayaan selama krisis diperoleh ketika para pemimpin dapat diandalkan dan terus menunjukkan integritas dirinya. Selama krisis, para pemimpin harus melihat dan memanfaatkan segala bentuk kondisi sebagai peluang. Pemimpin harus berpikir terbuka untuk menilai apa saja yang menguntungkan dan tidak menguntungkan bagi bisnis mereka dan mampu mendengar pendapat setiap karyawan sehingga bisa membantu mereka mencapai kapasitas terbaiknya. Ada perbedaan pendapat antara satu dengan yang lain dan Anda harus mendengarkannya, dengan demikian Anda akan memahami realitas di lapangan dengan lebih baik dan mampu menganalisanya lebih tajam lagi. Ketika pemimpin berhasil melakukan semua peran ini, maka secara tidak langsung karyawan akan termotivasi dan menjadikan pemimpin mereka sebagai inspirasi untuk terus memperluas perspektif dan menghilangkan segala bentuk skeptis sehingga semua orang di organisasi dapat bersinergi memenangkan krisis.

Baca juga  Bagaimana leadership bisa meningkatkan produktivitas?

4. Bersikap Empati

Metode command and control yang bekerja cukup baik di tengah lingkungan stabil, kini tidak efektif lagi digunakan untuk mengatasi kompleksitas bisnis yang terus meningkat secara eksponensial dalam beberapa waktu terakhir. Saat ini banyak pekerja yang menghadapi ketakutan dan kekhawatiran yang luar biasa, dalam situasi sulit ini kita menyadari bahwa empati menjadi nilai penting dalam kepemimpinan. Tim yang dipimpin oleh pemimpin dengan kecerdasan emosional yang tinggi  cenderung lebih bekerja keras. Mereka akan memiliki keterikatan dan kepercayaan yang lebih dalam satu sama lain sehingga semua bertahan meski bisnis menghadapi banyak tekanan.

5. Meningkatkan agility  

Pola pikir dan metode agile akan sangat membantu kita menghadapi kondisi krisis. Ketika perubahan terjadi dengan cepat, semua terlihat ambigu dan penuh ketidakpastian, agile memungkinkan kita untuk bergerak maju dengan cepat. Kita bisa menggunakan metode ini untuk mendekontruksi pekerjaan, membaginya ke dalam unit kecil dan menyelesaikannya satu per satu. Nah, ketika situasi berubah seperti dalam situasi covid-19 ini, agile memungkinkan kita melakukan perubahan dengan lebih mudah karena pekerjaan telah direncanakan dalam porsi yang lebih kecil dan dalam jangka waktu yang lebih pendek. Singkat kata, agile memungkinkan sistem bereaksi lebih cepat dari biasa.