Suatu saat, seekor lipan (yang kakinya banyak) mengejar seekor laba-laba. Kemudian laba-laba ini berhenti, menoleh sejenak, dan bertanya kepada si lipan, “Saya kagum dengan kamu, Lipan! Bagaimana cara kamu mengkoordinasikan kaki yang banyak itu?”

Lipan itu menjawab, “Saya tidak tahu. Saya tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya.” Segera setelah itu, laba-laba kembali berlari, dan lipan mencoba untuk mengejar, tetapi kali ini ia tidak mampu karena ia tidak bisa membuat kakinya berjalan dengan baik lagi.

Kakinya saling tersangkut karena ia sibuk memikirkan mana yang kiri dan mana yang kanan, mana yang duluan dan mana yang harus serentak!

Cerita ini ada dalam banyak versi, tapi pesan yang ingin disampaikan adalah berpikir atau analisa berlebih justru merugikan. Kondisi ini dikenal dengan istilah analysis paralysis atau paralysis of analysis. Dalam kondisi ini, justru keputusan apalagi tindakan/action tidak muncul. Sebuah keputusan memang bisa dipikirkan secara detail dari berbagai sudut pandang, berbagai pilihan, berbagai kemungkinan. Saat kita terus berusaha mencari solusi paling maksimal, kadang yang terjadi adalah kondisi ini.

Memang sulit untuk menentukan apakah kita sudah melakukan analisa berlebihan atau belum. Langkah yang bisa kita lakukan adalah memilah analisa menjadi 2 atau 3 kategori (short term atau smaller scope, longer term atau larger scope).

Kita melakukan analisa terbatas secara cepat untuk kemudian beralih untuk menentukan solusi cepat. Sambil, pada saat bersamaan jika memungkinkan melakukan analisa yang lebih komprehensif. Cara ini memang akan lebih menghabiskan energi dan waktu, tapi setidaknya bisa mengambil manfaat dan menghindari resiko dari analisa terlalu minim dan analisa berlebihan.

Jika Anda suka dengan ide dan inspirasi seperti ini, Anda dapat berlangganan newsletter yang dikirimkan maksimal 1-2 kali per minggu. Gunakan form di bawah ini untuk mulai mendapatkan ratusan ide segar.

Baca juga  3 Jenis Nilai dalam Analisis Proses Bisnis