Keputusan Make or Buy harus diambil dengan mempertimbangkan berbagai faktor.

Keputusan membuat-atau-membeli (make or buy) adalah keputusan strategis antara memproduksi sebuah item secara internal (in-house) atau membeli dari eksternal (dari pemasok luar). Ada banyak faktor penting yang menjadi pertimbangan dalam membuat keputusan ini; salah satunya adalah pertimbangan biaya. Selain tentu saja faktor seperti kompetensi (atau kapabilitas produksi), volume atau kuantitas, kebijakan multiple-sources, inventori, ataupun pertimbangan lain terkait strategi perusahaan.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah terlebih dahulu melihat komponen biaya yang besar dari produk-produk kita, setelah itu barulah kita menganalisa apakah produk yang saat ini diproduksi di perusahaan adalah produk yang memang paling tepat diproduksi sendiri ataukah ada peluang cost reduction jika produk ini dihasilkan oleh perusahaan lain. Begitupun sebaliknya, apakah produk yang saat ini dibeli dari perusahaan lain akan lebih “murah” jika diproduksi di

“Walaupun memiliki potensi cost reduction yang sangat besar, biaya tidak boleh menjadi satu-satunya pertimbangan,” menurut Suwandi, Consulting Director SSCX International, “ada banyak faktor lain, risk, yang kadang lebih penting, misalnya faktor kualitas, seberapa yakin kita dengan kualitas produk supplier kita, faktor keyakinan akan continuous supply, dan tentu saja berkurangnya kontrol kita atas proses dan kerahasiaannya.”

David Burt, Donald Dobler, dan Stephen Starling dalam bukunya “World Class Supply Management”, menjabarkan apa saja faktor-faktor yang harus kita pertimbangkan sebagai komponen dalam mendukung sebuah produk harus diproduksi atau dibuat sendiri (make):

  • Tambahan biaya akibat persediaan/inventori
  • Biaya tenaga kerja langsung
  • Biaya overhead pabrik
  • Biaya bahan baku dan pendukung
  • Tambahan biaya manajemen
  • Biaya yang berasal dari masalah kualitas
  • Tambahan biaya pembelian
  • Tambahan biaya modal

Pertimbangan biaya untuk membeli (buy) meliputi:

  • Harga pembelian dari bagian yang dibeli tersebut
  • Biaya transportasi
  • Biaya penerimaan dan inspeksi
  • Tambahan biaya pembelian
  • Biaya yang berasal dari masalah kualitas
Baca juga  Industri Manufaktur Ditargetkan Tumbuh 5,80 Persen di Tahun 2024

Walaupun biaya bukan satu-satunya kriteria untuk menentukan apakah sebuah produk (atau part atau bagian atau material atau komponen) harus kita make or buy (dibeli atau diproduksi), analisa break-even-point sederhana dapat menjadi pertimbangan untuk membantu kita melihat potensi penghematan biaya yang dapat kita dapatkan. Contohnya, perusahaan saat ini membuat sebuah produk di pabrik dengan membeli alat seharga IDR 100.000.000 dan menghasilkan produk dengan biaya IDR 5.000. Jika perusahaan memutuskan untuk membeli dari pemasok lain, harga per produk adalah IDR 7.000. Dengan menggunakan perhitungan sederhana, maka titik impas dari skenario ini adalah:

IDR 100.000.000 + IDR 5.000Y = IDR 7.000Y
IDR 100.000.000 = IDR 7.000Y – IDR 5.000Y
IDR 100.000.000 = IDR 2.000Y
Y = 50.000

Oleh karena itu, akan lebih efisien bagi perusahaan untuk membeli produk tersebut jika permintaan kurang dari 50.000 unit, dan membuat (produksi) produk tersebut jika permintaan melebihi 50.000 unit. Namun, jika perusahaan memiliki peralatan dan kapasitas yang cukup (saat ini over-capacity), biaya tetap sebesar IDR 100.000.000 tidak akan terjadi dan tentu saja akan lebih cost-effective untuk membuat sendiri produk tersebut.

Make or Buy ini tidak hanya untuk barang tetapi dapat diaplikasikan pada jasa (intangible), misalnya apakah lebih efisien bagi kita untuk melakukan perawatan dan perbaikan peralatan sendiri ataukah menyerahkannya ke pihak luar, dan sebaliknya. Jika analisa dilakukan secara komprehensif dan akurat, keputusan make or buy ini seringkali memberikan peluang cost reduction yang sangat besar, baik di industri manufaktur maupun non-manufaktur.