Disrupsi terus-menerus menjadi norma baru bagi perusahaan yang ingin bertahan di abad ke-21 ini. Dan mereka yang ingin selamat, melembagakan budaya improvement di organisasi nampaknya menjadi mandat.

Dalam gelaran OPEXCON tahun lalu, Soleh Ayubi, Ph.D, Director of Transformation & Digital, PT Bio Farma (Persero) membagikan perjalanan proses pendistribusian ratusan juta dosis vaksin Covid-19 ke seluruh Indonesia sebagai upaya untuk mengakhiri pandemi.

Sebagai informasi, Induk Holding BUMN Farmasi ini mengemban tugas dari pemerintah RI sebagai penyedia vaksin Covid-19, dalam proses pendistribusian vaksin Bio Farma bertanggung jawab untuk pelaksanaan distribusi vaksin sejak dari Bio Farma, hingga Kabupaten/ Kota. Terkait penyimpanan, vaksin pun berhasil dijaga baik sehingga tidak terjadi masalah pada kualitas akibat panjangnya rantai distribusi mengingat Indonesia adalah negara kepulauan. Dalam hal ini, Bio Farma memanfaatkan kapasitas penyimpanan di Dinas Kesehatan tempat tujuan.

Mempertimbangkan dampak kesehatan dan ekonomi yang besar, sebagian besar masyarakat pun mendukung program vaksinasi ini. Singkatnya, vaksinasi Covid-19 sukses diselenggarakan, ada satu produk yaitu vaksin yang berhasil dikirimkan ke seluruh negeri dengan anggaran yang sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah.

Excellent people, dalam beberapa hal program vaksinasi ini memiliki kesamaan dengan upaya melembagakan budaya improvement di organisasi, tampak sederhana tetapi tidak mudah! Suatu inisiatif improvement dimulai dengan memberikan kewenangan kepada seseorang, berikut dukungan anggaran, kepemimpinan, dan wewenang yang cukup. Banyak artikel sudah mengulas tentang bagaimana menjalankan continuous improvement yang sukses, pertanyaannya kemudian mengapa tidak semua organisasi bisa berhasil?

Budaya Improvement sebagai Misi

Kami memiliki satu pertanyaan untuk Anda, “Apa yang Anda lakukan?” Mungkin terdengar sederhana, namun jawaban yang tepat harus mampu mendefinisikan apa sebenarnya tujuan yang ingin Anda capai. Program melembagakan (institutionalization) continuous improvement sudah banyak dilakukan, tetapi semua terlihat menuju garis akhir atau satu titik finish.

Menurut Joel Smith dalam isixsigma, kebanyakan pemimpin CI jika diminta untuk menjelaskan misi mereka, akan berbicara tentang hal-hal seperti perubahan budaya yang tidak memiliki garis akhir. Anda mungkin menguasai metode improvement seperti Six Sigma, Lean, TPM, dan lainnya. Semua metode-metode tersebut terbukti efektif, tetapi tidak selalu dengan misi yang dibawa.

Baca juga  Dengan transformasi, organisasi bisa terus sustain. Setuju?

Kembali ke pertanyaan di depan, mendefinisikan misi itu sederhana tetapi tidak mudah. Misi setidaknya harus memiliki dukungan sejati dari pemimpin, kejelasan seperti apa kesuksesan yang dimaksud secara objektif, dan perbedaan antara keadaan saat ini dan masa depan yang ideal. Jika Anda ingin berhasil maka pastikan misi Anda memenuhi tiga dukungan di atas.