Sebuah pesawat Beluga berjalan pelan di area pabrik pesawat Airbus di Toulouse, Prancis, Rabu  12 November 2014, siang itu. Beluga adalah pesawat yang unik dan khusus milik pabrikan pesawat Airbus, yang markasnya berdekatan dengan Bandara Blacnag di Toulouse.

Beluga yang diadopsi dari nama ikan paus bertugas membawa bagian-bagian pesawat baru Airbus yang ditarik di tiga tempat, yakni Tolouse, Hamburg (Jerman), dan Tianjin (Tiongkok).

“Itu pesawat yang sangat sibuk,” kata Head of Marketing Communication Airbus, Allan Pardoe di Kantor Airbus.

Belum semua jenis pesawat Airbus dirakit di Hamburg maupun Tianjin. Kedua fasilitas perakitan atau Final Assembly Lines (FAL) yang berada di luar Prancis itu baru dipakai untuk merakit pesawat Airbus jenis A320.

Pesawat terlaris

Pesawat buatan Airbus A320 ini pertama kali diluncurkan pada Maret 1982, dan diterbangkan pertama kali pada 22 Februari 1987 dan disertifikasi pada 26 Februari 1988. A320 mampu terbang dengan kecepatan Max cruising speed 903 km perjam.

Pesawat keluarga A320 memang tipe terlaris di Airbus. Data terakhir yang dilansir Allan menunjukkan ada 11.000 pesawat A320 yang dipesan oleh maskapai dari seluruh dunia. 6.285 pesawat sudah dikirimkan ke operator. Sehingga masih ada selisih 4.709 pesangan yang menunggu.

Selain hemat bahan bakar, A320 adalah pesawat lorong tunggal (single-aisle) terlebar di pasaran, yang mampu menampung hingga 180 penumpang. Bahkan salah satu anggota keluarga pesawat ini, A321 mampu menganggkut 220 penumpang. Karena itu banyak maskapai berbiaya rendah yang melirik pesawat ini.

Pesawat generasi baru

Airbus pun kini sedang membuat kelanjutan dari Airbus A320, yakni A320neo dan A321ceo. Di samping kapasitas penumpang yang makin diperbesar, A320 neo dan A31neo menawarkan mesin baru dan perangkat wingtip lebar (sharklet). Kedua inovasi itu dapat menghemat bahan bakar 20 persen per tempat duduk.

Baca juga  3 Mindset yang Mendorong Budaya Continuous Improvement

Saat sejumlah wartawan Indonesia berkunjung ke Airbus, mereka diajak melihat lebih dekat proses perakitan pesawat tersebut.

FAL pesawat A320 beradi di sayap kiri pabrik Airbus, yang menempati lahan seluas 700 hektar di Toulouse.

Proses perakitan

Di sebuah hangar, terlihat empat pesawat yang sedang dalam proses perakitan. Pesawat-pesawat itu hanya terdiri dari bagian lambung saja. Kaca jendela sudah terpasang, namun pintu baru sebatas sketsa. Pesawat itu masih berwarna dasar hijau dengan nomor produksi di bawah kaca cockpit atau dekat dengan ekor pesawat. Hidung keempat pesawat itu masih rata.

Menurut guide perjalanan, di lokasi itu pesawat A320 sedang dirakit sistem elektroniknya. Seluruhnya ada 80 macam sistem elektronik yang ditanam dalam satu pesawat. Di antaranya sistem landing gear dan sistem air control service.

“Mereka sedang mengecek sistem elektronik itu untuk memastikan semuanya hidup,” katanya sambil menunjuk beberapa pekerja di cockpit pesawat.

Dilanjutkan perakitan di Hamburg

Setelah perakitan sistem elektronik itu selesai, pesawat yang masih kosong itu diterbangkan ke Hamburg dengan menggunakan pesawat Beluga. Di Hamburg, pesawat A320 itu akan dirakit bagian kabinnya. Begitu rampung, pesawat akan kembali dibawa ke Toulouse untuk dipasangi mesin dan sayap berikut sharklet.

Pesawat A320 dan A321 didukung oleh mesin ganda CMF Internasional CMF56 atau mesin internasional Aero Engines V2500. Untuk A320neo, akan ditambah CMF LEAP-1A atau mesin Pratt dan Whitney PW110G mulai tahun 2015 mendatang. Adapun sharklet, atau lengkungan di ujung sayap, mulai tren dipakai Airbus tahun 2012 yang lalu.

“Hampir 90% pesawat yang dikirim ke konsumen memakai sharklets. Bisa menghemat bahan bakar hingga 4%,” kata guide tersebut.

Baca juga  3 Jenis Nilai dalam Analisis Proses Bisnis

Pengetesan bahan bakar

Tahap selanjutnya adalah pengetesan sistem bahan bakar. Rombongan dibawa ke sebuah area di luar gedung. Di situ, terdapat tiga pesawat yang sedang diuji konsumsi bahan bakarnya. Terlihat pesawat tersebut tengah diisi bahan bakar. BBM itu kemudian dikeluarkan lagi melalui bagian sayap ke sebuah wadah mirip tanki.

Apabila seluruh sistem itu sudah oke, pesawat kemudian dimasukkan ke dalam hangar untuk pengecetan atau (paint shop). Pesawat akan dicat sesuai dengan permintaan pelanggan.

Pesawat kemudian akan mengalami uji terbang. Jika menemukan masalah, maka pesawat tersebut akan kembali dibawa ke FAL untuk dicek sampai sempurna.

“Beberapa airline membawa pilot dan melakukan uji coba terbang sendiri,” katanya sambil menambahkan jika uji terbang berhasil, tahap terakhir adalah pengiriman oleh tim lain di Delivery Center Airbus.***

Sumber: Tempo.co