Ilustrasi Photo: Mashable.com

“The only thing that change is change. Tidak ada sesuatu yang abadi di dunia ini. Yang abadi adalah perubahan.”– Rhenald Kasali

Mengapa Harus Berubah?

Jika hidup pada saat ini sudah terasa enak, segalanya mudah, perut kenyang, dan kemenangan demi kemenangan telah diraih? Salah satu alasan yang paling masuk akal adalah kenyataan bahwa bumi ini bulat. Segalanya berputar, berganti, dan berubah. Kemenangan yang sekarang ada di genggaman akan segera menjadi bagian dari masa lalu. Pencapaian yang saat ini terkesan super akan segera basi, dan kitapun dituntut untuk mencari cara lain untuk mencetak kemenangan-kemenangan baru.

Menurut pakar manajemen perubahan Rhenald Kasali, mereka yang terbuai dengan kemenangan di masa lalu akan menjadi bagian dari masa lalu; tidak mendapat tempat di masa depan.

Persoalan demi persoalan yang datang menuntut seseorang atau sebuah perusahaan untuk melakukan sesuatu yang berbeda dari yang pernah dilakukannya.  Jika alasan itu belum cukup, simak beberapa alasan bagus yang untukmengambil langkah perubahan:

Perubahan = Pertanda Kehidupan

Arie De Geus dalam bukunya The Living Company (1997) mengibaratkan perusahaan tak ubahnya seperti sosok makhluk hidup, alias the living organism. Perusahaan-pun dilahirkan, menjadi besar, bisa sakit, dan menjadi tua. Panjang atau pendeknya umur perusahaan bergantung kepada kemampuan beradaptasi dan mengikuti perkembangan zaman.

Rhenald Kasali dalam Change! (2005) mengemukakan perusahaan bisa saja berusia tua, namun tetap “awet muda”. Salah satu contohnya adalah grup usaha dagang asal Jepang, Sumitomo, yang telah berusia lebih dari 400 tahun. Raksasa bisnis ini pernah mengalami pasang-surut, melewati zaman yang berubah-ubah, dengan tekanan dan persahabatan dari para penguasa negara yang datang silih berganti. Mereka pernah menjadi pahlawan yang dielukan, namun di lain waktu menjadi sapi perahan. Jika saja mereka tidak berubah, mereka mungkin sudah mati. Eksistensi Sumitomo tidak lepas dari kemampuan untuk berubah dan beradaptasi. Rhenald suka menggambarkan hal tersebut dengan satu slogan terkenalnya: berubah atau mati!

Baca juga  Agile: Metode Inovatif Agar Bisnis Responsif

Perubahan Membawa Harapan

Di satu sisi, perubahan dapat mencemaskan orang paling cemerlang sekalipun. Begitu juga di perusahaan, ketika tercetus kata perubahan, para eksekutif dan karyawannya mungkin akan langsung terpikir, “Wah, sistem yang sudah capek-capek dibangun selama ini, koq harus diganti?” Kita semua setuju, ada sisi menakutkan yang terkait erat dengan perubahan.

Namun di sisi lain, perubahan adalah sebuah kata yang begitu magis. Lihat saja kampanyepresiden terpilihJoko Widodo dan Jusuf Kalla yang sarat dengan kata-kata perubahan. Rakyat-pun tersihir dibuatnya. Mengapa? Karena dalam perubahan selalu tersimpan harapan dan ekspektasi. Dalam bahasa manajemen, kata Rhenald, pembaruan diartikan sebagai upaya untuk membuat hidup, cara kerja, dan cara merespon dunia lebih pas dengan kebutuhan lingkungan yang baru. Dengan melakukan perubahan, kita akan terhindar dari keterasingan dengan dunia luar, bahkan eliminasi. Walaupun menakutkan, perubahan menghindarkan individu dan perusahaan dari “penyakit tua”, membuat tetap muda dan fit dengan kondisi terbaru, serta memotivasi dengan suntikan-suntikan harapan akan sesuatuyang lebih baik.

Dinamika di dunia bisnis menuntut semua pelaku di dalamnya terus berubah, menyesuaikan diri. Tidak ada perusahaan yang dapat bertahan tanpa melakukan pembaruan. Lingkungan berubah, dunia berubah. Terjebaklah dalam status quo, bersiaplah untuk tertinggal, merugi dan gulung tikar. Intinya tidak ada hal yang statis.***

Sumber: Change! (2005) / Rhenald Khasali
Inovasi Perusahaan Indonesia (2014) / PPM Manajemen