Menetapkan standard kerja memang menjadi salah satu upaya penting yang harus dilakukan dalam meningkatkan proses perbaikan di dalam organisasi demi output yang lebih baik. Namun, jika saat ini organisasi anda sedang berupaya melakukan transformasi bisnis melalui penerapan budaya Lean, dan belum melihat adanya perubahan yang signifikan, maka merevisi atau menetapkan standard kerja baru tidak melulu menjadi sebuah solusi yang tepat.

Tidak Semua Jawaban atas Masalah yang Ada Terkait dengan Standard Kerja

Seperti kondisi yang dialami oleh Diane Zajac-Woodie, seorang Business Analyst di Erie Insurance Group. Dalam ceritanya, seperti dikutip dari laman coaching agile teams, Diane mengatakan, ada beberapa orang di dalam organisasinya justru merasa bahwa membuat standard kerja baru akan membantu menyelesaikan permasalahan yang ada dalam tim mereka.

Namun, Diane berpendapat, dibanding membuat standard baru, akan lebih baik jika ia dan seluruh timnya, melakukan evaluasi dengan menanyakan pertanyaan : “Kenapa” ia dan timnya mengikuti standard kerja yang selama ini sudah diterapkan.

“Kenapa kami berpikir perlu untuk membuat sebuah standard kerja yang baru ?”

“Kenapa kami tidak terus mengikuti saja standard kerja yang sudah ada ?”

Sehingga, Diane dan tim memutuskan untuk melakukan upaya evaluasi dengan memfasilitasi kebutuhan akan komunikasi yang baik, kerjasama yang lebih solid, dan pembelajaran terus-menerus demi kemampuan dan wawasan yang memadai.

Jadi, dalam Kondisi Seperti Apa Perusahaan Perlu Menetapkan Standard Kerja Baru ?

Senada dengan Diane, Joe Crist, seorang Senior Associate di Healthcare Performance Partners dalam artikel yang ia tuliskan di sebuah blog Lean Healthcare juga menyampaikan hal serupa. Menurut Crist, ada beberapa kondisi dimana organisasi harus mengenal dan memahami apakah mereka  benar-benar perlu merevisi atau membuat standard kerja baru atau apakah mereka hanya perlu mengevaluasi kembali apa yang membuat organisasi mereka belum mendapatkan perbaikan signifikan ataupun output yang lebih baik.

Dan berikut saran Crist :

Merevisi atau menetapkan standard kerja baru akan tepat jika kondisinya,

  1. Perusahaan sudah memiliki standard kerja ;
  • Standard kerja tersebut sudah diketahui oleh seluruh tim di dalam organisasi,
  • Standard kerja tersebut sudah diterapkan dalam waktu yang cukup lama,
  • Seluruh tim juga sudah diberikan pelatihan dan wawasan terkait penerapan standard kerja tersebut, dan
  1. Perusahaan memang belum memiliki standard kerja

Artinya, jika kondisi-kondisi seperti diatas adalah kondisi yang terjadi di perusahaan anda namun, perusahaan tetap belum melihat perbaikan yang signifikan ataupun output yang lebih baik, maka memang inilah saatnya perusahaan anda merevisi atau menetapkan standard kerja baru.

Namun, merevisi atau menetapkan standard kerja baru bukanlah sebuah solusi jika kondisinya,

  1. Perusahaan sudah memiliki standard kerja namun, seluruh tim tidak megetahuinya dan tidak diterapkan dalam proses kerja yang berlangsung
  2. Perusahaan sudah memiliki standard kerja, seluruh tim sudah mengetahuinya namun, standard kerja tersebut tidak diterapkan. Hal ini berkaitan dengan isu leadership dan membuat standard kerja baru bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut
  3. Perusahaan sudah memiliki standard kerja, seluruh tim sudah mengetahuinya, dan juga sudah diterapkan namun, ternyata tim dalam organisasi anda kurang dalam hal kemampuan, wawasan dan juga waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proses kerja tersebut.

Maka, tidak ada salahnya jika organisasi anda mengikuti langkah yang diambil Diane dan timnya dalam mencari dan menemukan akar penyebab masalah yang menyebabkan organisasi anda belum mendapatkan output yang lebih baik. ***RR/RW