Anda yang pernah mempelajari dasar-dasar teori atau metode performance management pasti setidaknya pernah mendengar tentang apa yang disebut dengan balanced scorecard (BSC). BSC merupakan salah satu tool yang sering digunakan dalam penerapan metode improement seperti Lean atau Six Sigma. Tool ini telah digunakan secara luas di berbagai bisnis dan industri, organisasi pemerintah, serta organisasi non-profit.

Balanced Scorecard adalah bentuk laporan semi-standar yang didukung oleh metode-metode desain dan tools otomasi, yang dapat digunakan manajer untuk mengontrol dan memantau aktifitas yang dilakukan timnya dan untuk memonitor konsekuensi yang datang bersama aktifitas-aktifitas tersebut. Seperti yang telah kita ketahui, manajer dan pemimpin tim harus melakukan kontrol dan pemantauan untuk memastikan aktifitas bisnis berjalan sesuai dengan strategi dan visi organisasi, meningkatkan kualitas komunikasi internal dan eksternal, dan memonitor performa organisasi, apakah sudah sesuai dengan target strategis.

BSC pertama kali ditemukan oleh Drs. Robert Kaplan (Harvard Business School) dan David Norton, awalnya sebagai sebuah kerangka kerja pengukuran performa yang dilengkapi dengan ukuran performa strategis non-finansial, disamping matriks finansial tradisional yang telah ada untuk memberikan pandangan yang lebih ‘seimbang’ mengenai performa organisasi bagi manajer dan eksekutif.

Kaplan dan Norton memberikan keterangan mengenai balanced scorecard sebagai berikut:

Balanced scorecard mempertahankan ukuran finansial tradisional. Namun pengukuran finansial menyajikan keterangan mengenai masa lalu; keterangan yang hanya cocok bagi perusahaan di masa revolusi industri, dimana kemampuan investasi jangka panjang dan kualitas hubungan dengan pelanggan tidak menjadi faktor yang penting untuk sukses. Pengukuran finansial tersebut tidak cukup untuk memandu dan mengevaluasi perjalanan sebuah perusahaan di era revolusi informasi, yang dituntut untuk menciptakan value melalui hubungan dengan pelanggan, pemasok, karyawan, proses, teknologi dan inovasi.”

Baca juga  3 Mindset yang Mendorong Budaya Continuous Improvement

Karakteristik Balanced Scorecard

Seperti yang telah disinggung oleh Kaplan dan Norton dalam keterangan mereka, balanced scorecard memiliki karakteristik khusus, yaitu menggabungkan pengukuran finansial dan non-finansial yang dikomparasi dengan ‘target’ value, dalam sebuah laporan tunggal yang singkat.

Laporan ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan laporan finansial atau operasional yang biasa dibuat, tapi lebih merupakan sebuah ringkasan singkat yang memberikan pengetahuan dan informasi yang paling relevan bagi mereka yang membacanya. Balanced scorecard juga memberikan penerangan bagi visi dan misi perusahaan. Dua elemen tersebut harus selalu diperhitungkan ketika akan membuat sebuah balance scorecard.

Empat Perspektif Balanced Scorecard

Balanced scorecard mendorong kita untuk melihat organisasi dari empat sudut pandang. Dalam mengembangkan matriks, mengumpulkan data, dan menganalisa data, kita akan merujuk kepada empat perspektif tersebut. Mereka adalah:

  • Perspektif Finansial (Financial) – Mendorong dilakukannya identifikasi dari beberapa pengukuran finansial yang relevan pada level tinggi. Perancang khususnya akan diarahkan untuk memilih pengukuran yang akan membantu memberikan jawaban untuk pertanyaan “Apa pendapat pemegang saham tentang kita (perusahaan)?”
  • Perspektif Pelanggan (Customer) – mendorong identifikasi pengukuran yang akan menjawab pertanyaan, “Bagaimana pendapat dan perasaan pelanggan tentang kita (perusahaan)?”
  • Perspektif Proses Bisnis Internal (Internal Business Process) – mendorong identifikasi pengukuran yang akan menjawab pertanyaan “Di sisi mana kita (perusahaan) harus unggul?”
  • Perspektif Pembelajaran dan Pertumbuhan (Learning and Growth) – mendorong identifikasi pengukuran yang akan menjawab pertanyaan “Bagaimana agar kita (perusahaan) selalu melakukan perbaikan dan menciptakan value?”