Penyederhanaan proses bisnis, mengurangi biaya, serta mencapai pengambilan keputusan lebih cepat merupakan sejumlah langkah meningkatkan efisiensi operasional perusahaan, mengoptimalkan realisasi pendapatan. Efisiensi operasional perusahaan tentu akan memberikan nilai tambah pada produk atau layanan. Di era digital, terdapat kecenderungan atau tren perusahaan menggunakan teknologi untuk meraih keunggulan operasional.

Otomatisasi menjadi mantra pada setiap proses, alur kerja produksi. Bukan berarti manual itu buruk atau “kuno”, karena pada dasarnya evolusi teknologi bermula dari yang serba manual. Teknologi berkembang seiring pola pikir manusia untuk menjinakkan alam, menyelesaikan setiap persoalan yang dihadapi termasuk untuk mengakumulasi kapital.

Sejarah efektifitas dan efisiensi ditandai oleh penemuan alarm pada Abad 18 untuk kebutuhan keamanan properti pribadi, mengantisipasi kerusakan atau kejadian yang tidak diharapkan. Selanjutnya revolusi industri di Eropa berhasil membawa perubahan dalam sistem kerja dan produksi melalui otomatisasi. Otomatisasi mesin tenun yang pertama mengalami evolusi teknologi dari teknik manual menjadi otomatis.

Teknologi dalam hal ini berkontribusi dalam perpindahan teknik manual ke otomatis, menjadikan proses produksi lebih cepat, efektif dan efisien. Evolusi proses produksi yang nampaknya sederhana tersebut lambat laun memberikan fondasi kokoh bagi perkembangan di berbagai sektor industri, bahkan dalam kehidupan manusia. Mesin tenun otomatis menjadi dasar-dasar pengembangan industri otomotif, yang selanjutnya memudahkan penemuan komputer oleh para ahli Matematika.

Teknologi digital jelas tak berdiri sendiri. Eric Ries dalam “The Lean Startup” mengakui startup hadir menjawab kebutuhan manusia di tengah perubahan-perubahan ekstrim. Teknologi mesti memiliki konteks problem solving. Banyak perusahaan di berbagai industri baik di level menengah atau kecil, atau bahkan startup, berujung pada kebangkrutan akibat lepas dari akar problem solving. Melupakan konteks teknologi sebagai alat bantu, tools untuk menghadapi perubahan-perubahan ekstrim, sebaliknya memposisikan teknologi sebagai tujuan.

Baca juga  4 Inovasi Pengelolaan dan Pengembangan Sumber Daya Air Berkelanjutan yang Tampil di Ajang WWF

Minimun Viable Product (MVP) yang dikreasikan Eric Ries sebagai konteks problem solving, sebenarnya tak hanya berlaku pada dunia startup. Sebaliknya merupakan sebuah upaya meletakkan kembali fungsi teknologi sebagai alat menjawab permasalahan, atau memenuhi kebutuhan tatanan masyarakat. MVP selalu melogikakan kebutuhan dalam lingkaran paling kecil masyarakat: individu.

Ries pernah gagal membangun sebuah perusahaan startup lantaran gagal memberikan konteks problem solving dalam penggunaan teknologi, aplikasi digital, sehingga konsumen dan pelanggannya satu persatu hengkang. Dalam pergulatan bisnis startup, Ries berhipotesa bahwa keterlibatan terus-menerus terhadap kebutuhan konsumen atau pelanggan menjadi syarat dasar supaya teknologi dan inovasi tetap berdaya guna.

Menurutnya, tak perlu muluk-muluk memiliki produk yang dikonsumsi secara massal, hanya untuk menunjukkan fungsi dari sebuah aplikasi baru. Satu orang konsumen sekalipun mampu memberikan dampak signifikan bagi pengembangan produk, karena produk yang dibuat merupakan teknologi yang tepat guna melalui siklus buat-ukur-pelajari.

Tren perusahaan di berbagai sektor industri dalam era digital tentunya memiliki aspek fungsional dalam setiap inovasi yang bibuat serta didedikasikan untuk mencapai tingkat efisiensi yang tinggi. Bisa jadi perusahaan yang bergerak di luar core bisnis pengembang teknologi, juga memerlukan MVP untuk mengetahui dinamika kebutuhan konsumen, sehingga mampu menciptakan inovasi yang tepat guna. Singkatnya MVP merupakan aspek pengalaman konsumen yang kemudian diadapatasi menjadi produk, inovasi atau pengembangan sebuah teknologi.

MVP dikenalkan oleh Eric Ries sebagai sistem Manajemen Lean di dunia startup. Karena ia sadar proses pengembangan inovasi baru yang sifatnya cepat, harus dikelola dengan sistem manajemen yang memadai. Manajemen Lean ia pilih karena memiliki sejumlah keunggulan dalam mengembangkan elemen people, system dan process dalam bisnis startup. Melalui MVP bisnis pengembangan teknologi tak sekadar mendapatkan konteks fungsional, namun sebuah landasan mapan untuk terus melakukan inovasi dan penemuan baru. [] shift.