Teknologi digital adalah komponen penting untuk transformasi, termasuk di industri sawit. Jika Anda sukses menjawab tiga tantangan utama dalam implementasinya (People, Process, Technology), maka manfaat nyata berada di genggaman Anda.

Fajar Dhirendra Gregory, Co-Founder & CEO PT Semai Raya Internasional (SEMAI), suatu unit bisnis SSCX untuk agro-industry digital platform, mengatakan bahwa industri agro (sawit-red) memiliki tantangan dan peluang implementasi teknologi digital dalam tiga hal yaitu people, process, technology. Menurutnya ketiga hal tersebut juga dihadapi oleh industri di sektor lain dan berbagai kehidupan.

“Untuk people, tantangan dan peluangnya adalah digital mindset dan juga skillset baru. Sisi teknologi tantangan sekaligus peluangnya adalah infrastrukturnya dan bagaimana menerapkan edge computing (untuk mengatasi kondisi keterbatasan interkonektivitas) dan artificial intelligence (AI), lalu dari proses bagaimana kita menerapkan good management practice serta research & innovation di Sawit,” jelasnya ketika hadir sebagai pembicara di acara SBRC Webinar Series Bioenergy (25/09).

People: Digital Mindset & New Skillset

Tidak ada keraguan bahwa pandemi Covid-19 telah banyak mendorong transformasi digital. Beberapa penelitian melaporkan bahwa di tahun 2020 jumlah perusahaan yang mengadopsi transformasi digital sangatlah besar dengan jumlah spending yang juga luar biasa.

Adapun tujuan utama yang ingin dicapai dari transformasi ini yaitu improvement atau peningkatan bisnis. Dalam penelitian dilaporkan bahwa operasi efisiensi bisa meningkat 40 persen dari hasil yang sebelumnya sudah dicapai. Dengan transfromasi digital, bisnis bisa melayani dan memenuhi apa yang diinginkan kustomer hingga 35 persen dan berbagai pengembangan dan peningkatan lainnya. Nah untuk mencapai itu semua, tentunya kita tidak hanya semata melangkah tetapi kita harus membuat suatu lompatan. Kita membutuhkan suatu pola berpikir yang baru, yaitu digital mindset.

Digital mindset ini terdiri dari berbagai hal; ketangkasan dan kelincahan kita untuk mempelajari teknologi baru,  cognitive ability untuk menghubungkan connecting the dots, social agility yaitu bagaimana kita lebih menjadi network, change agility yaitu kemampuan keinginan untuk de-learning, kemudian travel agility yaitu mampu melihat berbagai hal secara berbeda,” terang Fajar.

Baca juga  9 kebijakan strategis untuk memperkuat industri penunjang infrastruktur

Kemudian terkait skillset, survei yang dilakukan IBM tahun 2018 menemukan bahwa telah terjadi pergeseran dibanding tahun-tahun sebelumnya. Saat ini kemampuan beradaptasi untuk perubahan baru,  keberanian bereksperimen, kelincahan (agility) menjadi keterampilan teratas yang paling dibutuhkan. “Inilah yang kami lakukan di Semai dalam meng-create suatu produk, membuat suatu solusi dengan bergerak cepat. Prinsipnya kegagalan adalah landasan kita untuk bisa belajar dan move. Karena kami percaya bahwa sesuatu yang luar biasa terjadi ketika kita sudah terus-menerus melatih diri membangun digital mindset, membangun hal-hal yang inovatif,” lanjut Fajar.

Process:  Good Management Practice

Dari sisi proses kita akan membahas bagaimana menggunakan teknologi digital untuk menerapkan Good Management Practice dan Research & Innovation.  Namun, sebelum lebih lanjut membahasnya kita harus lebih dulu memahami dan juga mampu membedakan antara digitisasi, digitalisasi dan transformasi digital atau dikenal sebagai “Three Amigos”. Mari kita simak penjelasannya berikut ini:

  • Digitisasi merupakan perubahan dari analog menjadi manual (digital capture), misal dari tampilan jam yang semula jarum menjadi digital.
  • Digitalisasi adalah ketika prosesnya sudah menjadi digital (otomasi dan integrasi), tidak sekedar ukuran atau pengukurannya.
  • Transformasi digital adalah jika keseluruhan prosesnya berubah sehingga menjadi sesuatu yang baru dengan digitisasi dan digitalisasi, sehingga mampu membangun sumber-sumber pemasukan baru.

Transformasi digital adalah suatu kumulasi hasil keseluruhan dari proses digitisasi dan digitalisasi yang dilakukan. Ketika semuanya sudah terdigitalisasi dengan baik maka akan lebih mudah melakukan suatu integrasi baik vertikal maupun horizontal sehingga bisa dibangun suatu transformasi digital yang  just in time, zero waste, dan intelligence.

Keuntungan yang diberikan oleh “Three Amigos” sangatlah besar bagi industri sawit. Beberapa diantaranya yaitu: best management practice (BMP) bisa menjadi lebih konsisten dan terkendali, penelitian dari International Plant Nutrition Institute (IPNI) penerapan BMP bisa meningkatkan 10 sampai 16 persen yield dari tandan buah segar bahkan 5 – 14 persen dari oil yield, zero waste dan recycling yang bisa mengurangi biaya-biaya, precision argo sehingga kita bisa tahu bukan hanya profit per state atau per blok tapi profit per pohon, just in time dengan traceability ekuivalen yang mampu meningkatkan sigma level atau quality level, bahkan bisa meningkatkan 5 persen dari revenue, dan terakhir bisa memberikan new business opportunities.

Technology: Infrastructure & Digitalization Architecture

Salah satu kendala yang dihadapi di perkebunan sawit adalah minimnya jaringan internet dan bahkan GSM. Namun, kini hal ini tidak lagi menjadi halangan untuk melakukan transformasi digital di industri sawit. Karena kita sudah bisa menggunakan arsitektur edge.

“Kalau cloud computing, komputasi dilakukan di awan (data center-red), kalau di edge computing komputasi dilakukan utamanya di end point-nya dan juga di awan. Aplikasi edge computing inilah yang kita pakai di SEMAI. Jadi meskipun offline, tetap bisa dilakukan data sinkronisasi dan bisa berjalan dua arah,” jelas Fajar.

Baca juga  Edutech dan Healthtech, Sektor Utama Pendukung Ekonomi Digital ASEAN

Untuk diketahui, aplikasi SEMAI telah dibekali dengan kecerdasan buatan (AI) sehingga bisa melakukan beberapa tugas “capturing” kinerja produksi di kebun (counting dan grading terhadap tandan buah segar serta brondolannya) secara konsisten. AI ini juga mampu melakukan image analisys dibantu drone surveillance yang mendukung pengumpulan data kesehatan pohon menjadi lebih banyak lagi. Pada akhirnya, internetization of the trees inilah yang diperlukan untuk membangun suatu arsitektur sehingga bisa menjadi digital twin yang nantinya akan digunakan untuk mewujudkan Palm Oil Digital Value Chain.

SSCX SEMAI: From Block-based to Profit-Per-Tree

SEMAI adalah inovasi teknologi baru yang dihadirkan SSCX khusus untuk mengerek produktivitas perusahaan sawit. Dengan menggunakan kekuatan big data, produktivitas tidak lagi hanya bisa dihitung per blok tetapi kini bisa dihitung per pohon. Apa sih yang dilakukan SEMAI?

“Kami bersama partner riset dan development sedang melakukan hal-hal yang kami rasa bisa menjadi lompatan terobosan dengan memanfaatkan internet of thing. Kami akan membuat pohon berbicara,” kata Fajar.

Luar biasa, ternyata ini bukan hoaks ya excellent people. Karena di era digital saat ini dengan teknologi apapun menjadi sangat mungkin. “Ini menjadi mungkin dengan internetization of trees, jadi kita buat setiap pohon memiliki alamat seperti KTP, ada curriculum vitae-nya yaitu perjalanan hidup pohon itu, produktif atau tidak. Inilah lompatan yang kami buat,” lanjutnya.  Semai mengadopsi berbagai macam teknologi yang ada di industri 4.0 seperti big data, mobility, tracking, internet of things, software integration, dan juga Artificial Intelligence (AI). Dengan integrasi teknologi ini memungkinkan segala elemen yang ada di industri sawit menjadi optimal.

Meskipun optimis, Fajar tetap menekankan pentingnya sinergi dari semua pihak untuk mewujudkan industri sawit 4.0 yang berkesinambungan di Indonesia dan juga coopetition. “Coopetition adalah competition dan cooperation, jadi teman tapi juga kompetitor seperti halnya di Olimpiade ada moto Citius, Altius, dan Fortius (lebih cepat, lebih tinggi dan juga lebih kuat). Mari kita break new record dalam improving OER, FFA, production yield dan semuanya dengan kerjasama dan juga kompetisi,” pungkas Fajar.