Belakangan sering kita dengar perusahaan swasta ataupun BUMN berhasil meraih keunggulan operasional melalui penghematan operasional perusahaan. Misalnya sebuah perusahaan milik negara mengklaim telah melakukan efisiensi sampai Rp8 Miliar lantaran menerapkan penghematan biaya operasional. Pertanyaannya, apakah penghematan biaya operasional perusahaan itu berbanding lurus dengan munculnya project-project improvement, reduksi waste dan defect?

Penghematan biaya operasional perusahaan dalam perspektif manajemen ramping, mestinya harus dikaitkan dengan prinsip-prinsip continuous improvement. Kebijakan perusahaan dalam hal operasional ataupun sumberdaya manusia, terkait pengurangan biaya atau pengurangan SDM untuk mempertahankan daya saing bukan indikator utama dari prinsip perbaikan berkelanjutan.

Perbaikan terus-menerus, continuous improvement atau Kaizen, merupakan metode mengidentifikasi peluang merampingkan pekerjaan, mengurangi waste and defect pada produksi (limbah dan cacat). Umumnya prinsip Kaizen diterapkan dalam industri manufaktur dan otomotif. Namun saat ini, prinsip dasar Lean Management tersebut telah diadopsi ribuan perusahaan di seluruh dunia untuk mengidentifikasi peluang efisiensi.

Secara formal, perbaikan terus menerus merupakan metode manajemen proses menempatkan standar layanan pelanggan sebagai fokus utama. Penghematan biaya dalam operasional perusahaan memang perlu, namun mesti sejalan dengan prinsip perbaikan terus menerus, termasuk perampingan alur kerja. Ketika misalnya perbaikan terus menerus diterapkan dalam siklus produksi, waktu dan biaya akan mengalami kemajuan atau penghematan akibat alur kerja yang menjadi lebih ramping, efektif dan efisien.

Dalam hal ini daya saing perusahaan tak hanya bertumpu pada penghematan biaya operasional saja. Tumbuhnya project-project improvement yang bertujuan menciptakan perbaikan terus-menerus mesti menjadi indikator utama daya saing. Pada titik itu, sumberdaya manusia atau people menjadi kunci. Melalui people, budaya perusahaan yang menjadi cerminan visi bisnis mampu diterjemahkan dalam wujud paling nyata dan terukur: produk dan layanan. []

Baca juga  3 Mindset yang Mendorong Budaya Continuous Improvement