Perum Perhutani menargetkan pabrik sagu di Dsitrik Kais, Kabupaten Sorong Selatan, mulai beroperasi pada Maret 2015 dengan kapasitas sebesar 30.000 ton sagu per tahun.

Direktur Utama Perum Perhutani, Bambang Sukmananto mengatakan, pabrik sagu Perhutani pertama di Papua akan beroperasi pada Maret 2015.

“Dengan investasi sekitar Rp112 miliar, pabrik ini akan menjadi pabrik sagu modern pertama di Indonesia,” kata Bambang, di sela-sela peninjauan penyelesaian pabrik sagu di Sorong, Papua Barat seperti dikutip antaranews.com.

Menurut Bambang, pembangunan fisik pabrik sudah mencapai 60 persen, selanjutnya tinggal penyelesaian pemasangan mesin pengolahan dan mesin boiler serta instalasi listirk.

Ia menjelaskan, pabrik sagu tersebut merupakan bisnis baru bagi Perhutani setelah mendapatkan restu dari pemerintah dan Kementerian BUMN untuk mengelola lahan seluas 15.000 hektar di kawasan itu.

Pada tahap awal (2015) kapasitas produksi baru 25 persen, 2016 sebesar 50 persen dan baru pada 2017 memasuki kapasitas penuh.

“Perhutani siap dan terus mengembangkan pabrik sagu untuk memenuhi kebutuhan sagu nasional yang saat ini mencapai 5 juta ton per tahun,” kata Bambang.

Tentunya dengan pengembangan pabrik sagu menjadi industri nasional maka produksi sagu Perhutani nantinya tidak hanya untuk kebutuhan dalam negeri tapi juga bisa diekspor untuk mendatangkan devisa.

Pasar ekspor potensial sagu terutama negara-negara di ASEAN dan termasuk Jepang.

Sagu dengan nama latin Metroxylon Sp ini adalah tanaman asli Indonesia yang menjadi sumber karbohidrat utama yang dapat digunakan untuk makanan sehat, biothenol, gula untuk industri makanan dan minuman, pakan ternak, industri kertas dan farmasi dan lainnya.

Bambang menjelaskan, Indonesia berpotensi menjadi produsen sagu terbesar di dunia karena terdapat tanaman sagu terluas di dunia di Pulau Papua dengan hamparan sekitar 4,5 juta hektar.

Baca juga  Mengapa "Resep Sukses" Saja Tidak Cukup untuk Membawa Perubahan

“Kami siap bermitra dengan masyarakat tempat pabrik sagu berlokasi untuk mengembangkan perekonomian di wilayah itu. Selain mengolah Perhutani juga memberikan pengetahuan soal pengembangan tanaman sagu yang produktif,” katanya.

Kualitas pohon asal Papua terkenal dengan Sagu Raja, yang bisa menghasilkan sagu hingga 900 kilogram per batang. Berbeda dengan pohon sagu asal Malaysia yang rata-rata menghasilkan tepung sagu maksimal 250 kg per batang.

Selama ini petani sagu seperti di Papua, hanya sanggup mengolah satu batang sagu selama dua minggu namun, dengan kemitraan ini hasil tanaman sagu penduduk bisa langsung diolah dengan waktu singkat.***

Sumber: Antaranews.com